
Depan rumah sakit, Arsen berdiri dengan raut wajah khawatir menunggu kedatangan mobil bodyguard kepercayaan Horison. Dimana salah satu bodyguard bernama Eduard mengabari jika princessnya terluka. Mereka tidak bisa menjelaskan karena harus secepat mungkin membawa princessnya ke rumah sakit.
Ketika mata Arsen menangkap mobil yang dikenali berhenti tepat di depan rumah sakit. Arsen bergegas menghampirinya.
"Abang,, sakithh hiks..." tangis Queen menjadi saat merasakan luka yang di dapatkan sungguh baru terasa sakit.
"Tahan ya sayang..." Arsen membawa princessnya ke dalam gendongannya.
"Paman Alvaro sama paman Eduard sebaiknya kalian pulang saja, antarkan bibi Fatimah. Untuk urusan Alesha aman bersama saya, biar saya saja nanto yang menghubungi daddy dan yang lainnya," ujar Arsen.
Kedua bodyguard mengangguk dan segera meninggalkan kawasan rumah sakit menuju mansion.
Arsen melangkah masuk ke dalam rumaj sakit. Saat sampai di lantai tiga Arsen berpapasan dengan uncle Vinno yang baru keluar dari salah satu kamar pasien.
"Arsen,, apa yang terjadi dengan Queen?" tanya Vinno membelalakan matanya terkejut melihat luka dibagian tubuh keponakan kesayangannya.
Arsen menggeleng, belum tahu penyebab Queen bisa mendapatkam luka seperti ini. Uncle Vinno mengikuti kemana Arsen membawa Queen.
Hingga Arsen berhenti di salah kamar rawat khusus untuk keluarga mereka. Arsen mendudukan Queen di ranjang rumah sakit.
"Hiks sakithh..." Queen masih merintih kesakitkan.
"Abang obatin ya, kamu tahan ya sayang," ucap Arsen lembut.
Semantara uncle Vinno mengambil duduk di samping keponakan cantiknya dan memberikan pelukam hangat. Arsen dengan penuh kehati-hatian mengobati adiknya.
"Un-uncle sakithh hiks," adunya pada uncle Vinno.
"Iya sayang, tahan ya.. kan masih diobatin sama abang," kata uncle Vinno lembut.
Sedari tadi Queen hanya merengek kesakitan akibat luka yang didapatnya. Tetapi belum menceritkan bagaimana bisa ia mendapatkan luka-luka tersebut. Sampai lelah menangis Queen tertidur dipelukan uncle Vinno.
"Tidur..." ujar uncle Vinno pelan.
"Barusan aja aku mau bertanya, tentang luka-luka ini. Ehh princess malah tidur," ucap Arsen yang sudah selesai mengobati.
"Yasudah nanti saja, biarkan princess beristirahat dulu. Sebaiknya kamu hubungin daddy mu dan saudara yang lainnya. Takut malah nanti daddy mu mengamuk seperti kemarin tak mendapati princess di mansion, bisa bahaya.."
Arsen membenarkan perkataan unclenya. Lebih baik ia mengnubungi daddy, mengabarkan jika princess berada di rumah sakit.
"Uncle kembali ke ruangan dulu, kamu disini saja menjaga princess. Jangan meninggalkan princess sendirian di kamar rawat," pesan uncle Vinno sebelum keluar dari kamar rawat keponakannya.
...****************...
Di kantor, kedua lelaki berbeda usia barusan menyelesaikan meeting penting. Mereka saling bersalaman untuk mengakhiri pertemuan hari ini.
"Son, jangan keluar dulu. Ada hal penting yang ingin dadd bicarakan," pinta Antonio.
Arcell kembali duduk, untuk mendengarkan apa yang mau dibicarakam oleh daddynya.
"Sebentar lagi ulang tahun princess, tetapi dua hari sebelum ulang tahun princess dadd ada perjalanan bisnis ke luar negeri dan sekalian mengujungi opa Andreas yang akan melakukan pengobatan disana. dadd benar-benar merasa bimbang, harus gimana," tutur Antonio.
"Daddy juga enggak mau begini Ell. Tapi daddy akan menunda perjalanan bisnis ini, demi princess," putus Antonio. Membayangkan putrinya menangis karena di hari bahagia dia tidak bisa hadir... Oh tidak bisa, ia harus melihat senyuman di wajah putri kesayanganny
Arcell tersenyum mendengar perkataan daddynya.
"Pokoknya kita harus membuat acara spesial untuk ulang tahun princess..."
Antonio menyetujuinya, asalkan putrinya selalu bahagia. Apapun akan dilakukannya.
"Saat usia mu 22 tahun nanti, dadd akan mengangkat sebagai Ceo. Jadi mulai sekarang persiapkan dirimu untuk menduduki jabatan Ceo menggantikan daddy. Selama ini daddy sudah mengawasi cara mu berkerja, kemampuan mu setiap memimpin rapat daddy sangat mengapresiasinya," kata Antonio memberitahu putranya.
"Ya, Ell akan terus belajar dan belajar memimpin perusahaan dan menjalankan dengan benar. Ell masih butuh bantuan daddy..."
"Daddy akan mengajari mu..."
Obrolan mereka berdua terhenti ketika Satya masuk.
"Maaf tuan menganggu, ada berkas yang harus anda tanda tangani," ujar Satya.
"Tunggulah diruangan saya," suruh Antonio.
"Dadd kalau gitu aku kembali keruangan ku sekarang," pamit Arcell segera berdiri dan melangkah keluar.
Begitupun Antonio melangkah menuju keruangannya. Menandatangani berkas yang diberikan Satya padanya. Setelah itu Antonio hanya bersantai saja, tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak, pikirannya malah tertuju terus pada putrinya.
"Tidak, semoga saja princess baik-baik saja," gumam Antonio berdoa, ia memgambil handphone dan menelpon ke nomor putrinya malah tidak aktif.
Beberapa kali sudah Antonio mencoba menghubungi tetap tidak diangkat. Saat akan menghubungi Alvaro, pintu ruangannya terbuka menampakan raut wajah kecemasan sang putra.
Antonio hanya menatap bingung kearah putranya yang masih berdiri diambang pintu.
"Daddy kita ke rumah sakit sekarang, barusan Arsen menelpon ku kalau princess berada di rumah sakit karena mendapatkan luka dibeberapa bagian tubuhnya. Arsen belum bisa menjelaskam kejadian, sebab princess belum memceritakannya..."
Tanpa banyak bicara ataupun menyahut penjelasan putranya. Antonio berdiri meraih kunci mobilnya untuk segera pergi ke rumah sakit mengetahui keadaan putrinya. Arcell dan Antonio membawa mobil sendiri-sendiri...
...****************...
...Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!...
Guys baca karya baru aku yuk judulnya "YOU'RE MINE, SERRA dan ISTRI SIMPANAN”
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasihđź’“