My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Episode 78



Kini mereka sedang berada di kamar menonton tv, dan tentu saja dengan tangan Antonio terus berada di atas perut bumil yang ingin minta di elus-elus. Bahkan sekarang Khanza menempel pada Antonio, merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Mas, mansion jadi sepi, ngga ada mama papa sama Rhea. Aku jadi kangen mereka hiks," setelah mengatakannya Khanza malah menangis.


"Hustt! Jangan nangis, kita video call Rhea mau?" Antonio bertanya, lalu memberikan anggukan.


Antonio mengambil handphonenya yang berada di atas nakas. Mencari nama putrinya, dan memijit tombol untuk video call.


"Assalamualaikum re,"


"Waakaikumsalam dad, apa dad nelpon malam malam begini?"


"Ini ada yang kangen sama kamu,"


"Siapa dad? Mama?" Antonio memberikan anggukan yang dilihat Rhea sendiri di seberang sana.


"Assalamualaikum anak manja,"


"Waalaikumsalam bumil,"


"Re kapan pulang?"


"Nanti mama, sepertinya re bakalan betah di sini. Apa re pindah aja ya ma..."


"Ngga boleh, kalau kamu pindah aku juga bakalan ikut,"


"Loh ma, kalau mama ikut re, daddy bagaimana? Masa ditinggal sendiri, nanti dad diambil orang emang rela," Rhea dengan jahilnya malah menggoda bumi.


Khanza malam memeluk leher Antonio erat, bahkan menempelkan bibirnya pada leher Antonio.


"Re kebiasanaan godaain mamanya... Udah dulu ya re, mama kamu kaya'nya erat banget banget peluk dad..."


"Oke dad, bilangi mama re tadi cuman bercanda kok. bilangi juga re pasti pulang kok. Re disini cuman semingguan,"


"Iya sayang, kamu baik-baik disana."


Tutt! Antonio mengakhiri video call mereka. Menaruh kembali handphonenya di nakas.


"Sayang, lebih baik rebahan di samping. Saya takut kalau begini terus dedek bayinya ke gencet," ucap Antonio dengan suara selembut mungkin.


Akhirnya Khanza pun melepaskan pelukannya dan duduk di sampingnya dengan tangan melingkar ke pinggang Antonio.


"Mas, ngga akan sama orang lainkan," Antonio tersenyum mendengar perkataan Khanza. Segitu takutnya kah Khanza jika dirinya bersama orang lain.


"Jawab dong mas," desak Khanza, bahkan sekarang tangannya sudah terlepas dari pinggang Antonio.


"Hey, sayang," Antonio menghadap Khanza dan memegang kedua sisi pipi rahang istrinya. "Sayang saya berjanji tidak akan bersama orang lain. Entahlah saya tak tahu alasannya kenapa, yang pasti kamu hanya perlu percaya bahwa di hati saya sekarang ini sudah terisi nama kamu. Saya mencintaimu, mungkin ini terlalu cepat, tapi inilah kejujurannya."


Khanza mengembangkan senyuman bahagiannya. "Aku juga mencintaimu mas, sama seperti kamu tidak ada alasannya. Tak tahu tumbuhnya kapan? Yang pasti rasa ini telah hadir."


Keduanya pun sekarang saling berpelukan, Antonio menciumi puncak kepala Khanza dengan sayang. Ia merasa sangat beruntung memiliki Khanza sebagai istrinya. Gadis yang tak sengaja hampir di tabraknya karna menyebrang tidak hati-hati. Kini sepenuhnya telah menjadi miliknya..


"Mas bisa ngga kamu bicara jangan formal lagi, aku berasa ngomong sama atasan," pinta Khanza.


Antonio terkekeh dengan permintaan istrinya, memang dia sudah terbisa berbicara dengan menyebutkan kata 'saya' pada siapapun itu. Tetapi seperti untuk istrinya dia akan merubah penyebutannya.


"Baiklah sayang aku akan menerutinya," ucap Antonio memanggil dirinya 'aku'. Agak kaku masih, tapi tak apa-apa nanti juga akan terbiasa.


"Yaudah, sekarang kita tidur ya, udah larut malam banget. Bumil ngga boleh tidur larut," ujar Antonio mengingatkan.


"Tapi aku lagi pengen sesuatu mas-" spontan ucapan Khanza membuat Antonio menegang, pikirannya sudah kemana-mana.


"Pengen apa sayang?" potong Antonio bertanya, berpura-pura tak tahu maksud istrinya.


"Ihh mas... Jangan pura-pura ga tahu," dengan kesal Khanza mencubit lengan Antonio.


"Aku tahu maksud kamu apa, tapi jangan sekarang ya sayang. Kita harus periksa ke dokter dulu, konsultasi dulu sayang. Karna aku gamau terjadi apa sama kalian berdua," Antonio mengelus perut Khanza dengan sayang, bahkan mendekatkan mulutnya pada perut bumil.


"Jagoan dad tahu kamu pasti kangen minta di jenguk, tapi kamu harus tahan dulu kangen. Karna mama belum periksa ke dokter, jadi jagoan harus nunggu malam besok," ucap Antonio mengajak anaknya bicara.


Perkataan Antonio membuat Khanza ambigu. Apa yang di maksud suaminya? Padahal kan dia pengen makan sesuatu sebelum tidur.


"Mas apaan sih, kok malah bawa-bawa dokter segala, dan apa tadi jenguk?"


"Aku tahu kamu lagi pengen gituankan!"


"Dasar pria tua otak mesum," teriak Khanza.


"Kamu ngatain aku mesum,"


"Iya kenapa emang? Jadi tadi kamu pikir aku pengen itu, aku tadi pengen makan sesuatu mas. Aku pengen makan es krim, boleh ya?" Khanza mengeluarkan puppy eyes dengan mengedip-ngedipkan matanya.


"Makan es krim, tengah malam begini. No, aku ngga bolehin sayang," tegas Antonio.


"Tapi mas, aku lagi pengen banget," kekeh Khanza.


"Ngga boleh sayang, sekarang lebih kita tidur," paksa Antonio merebahkan tubuh Khanza dan menyelimutinya sebatas dada.


Karna sebal Khanza tidur membelakangi Antonio. Antonio hanya bisa menghela nafas, sudah bisa di pastikan bumilnya ini ngambek. Tetapi ia tak boleh membiasakan Khanza dengan harus menuruti kemauannya terus, yang ada nantinya Khanza malah akan selalu meminta yang aneh-aneh.


Memang dirinya senang jika Khanza mengidam. Tapi jika permintaan malah membahayakan kesehatan dia akan sangat tegas menolak. Dan seperti sekarang dia harus membujuknya.


"Sayang aku ngga bolehin, karna ini udah malam. Tapi kalau besok pagi aku ngga akan larang kamu, tapi makannya cuman boleh satu saja," ucap Antonio lembut. Seketika mendengarnya Khanza membalik menghadap Antonio.


"Beneran boleh kan mas, awas kalau bohong," ancam Khanza.


"Beneran sayang, yaudah kalau gitu kita tidur ya," balas Antonio.


Khanza merapatkan tubuhnya pada Antonio, terlelap dalam pelukan suaminya. Bahkan Antonio menjadikan tangannya yang satunya sebagai bantalan.


****


Follow ig aku yuk guys : @antiloversn


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓