
Betapa kagetnya Khanza saat melihat princessnya sudah terlentang di lantai. Tangisan kencang princessnya membuat Khanza segera meraih anaknya dan membawa kedalam gendongannya.
Semua orang yang masih duduk di sofa pun berdiri dan melangkah masuk ke dalam mansion untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam sampai terdengar suara tangisan yang nyaring sekali.
“Princess mommy mana yang sakit nak,” ucap Khanza panik, sambil tangannya tidak berhenti mengusap punggung putrinya.
“Loh honey, princess kenapa?” Tanya Antonio yang sudah berada di dekat mereka.
“Ini mas aku juga belum tau kejadiannya seperti apa, yang pastinya aku datang kesini princess udah terlentang di lantai,” jelas Khanza.
“Xavier Khanza, sebaiknya bawa princess ke kamar sekarang,” tukas Andreas bicara dengan nada khawatir takut terjadi apa-apa dengan cucu kesayangannya.
“Vinno kamu ikut mereka ke kamar, priksa princess,” titah Andreas kembali bicara meminta Vinno agar ikut ke atas memeriksa princess.
Andreas menatap salah satu cucu laki-lakinya, tatapan jatuh pada Arcell cucu laki-laki tertua di keluarga Horison.
“Arcell ikut opa sekarang ke ruang kerja,” titah Andreas, tanpa banyak bicara Arcell mengikuti opanya.
Mereka semua yang menyaksikan hanya berdiri diam. Raya melihat putrinya Luna langsung menggendongnya, begitupun dengan Maya yang juga mengambil putrinya Nabila.
“Maa puyang,” celoteh Lunna dalam gendongan Raya.
“Sebentar ya sayang kita tunggu gimana keadaan Alesha, baru kita pulang,” kata Raya lembut memberi pengertian kepada putrinya.
“Nda au, au puyang,” celoteh anak itu gelisah dalam pangkuan ibunya.
Erina yang menyadari anaknya Raya ingin pulang pun angkat bicara. “Raya Bagas, sebaiknya kalian pulang saja. Kasian Lunna sepertinya ingin sekali pulang,” tukasnya.
“Puyang, puyang,” celotehnya.
“Tante kita minta maaf sekali harus pulang cepat, tidak bisa menunggu gimana keadaan Alesha,” kata Raya.
“Tidak papa Raya, kasihan juga Lunna anakmu, sepertinya ingin sekali pulang. Lagian ini juga sudah malam,” sahut Erina.
“Tante kita pamit pulang, nanti kabarin kita gimana keadaan Alesha,” ujar Bagas.
Sesaat setelah Bagas dan Raya berpamitan pulang, kini disusul oleh Roy dan Maya yang ingin berpamitan pulang juga. Karena sedari tadi Nabila merengek tidak nyaman dan mengantuk.
Tinggalah mereka berenam duduk di sofa menunggu disana.
“Oma princess Rey kenapa nangis kenceng tadi?” Tanya Rey pada Erina.
“Memangnya tadi Rey ngga liat princess kenapa sayang?” Tanya Erina balik dengan bicara lembut. Karena dirinya pun tak tahu penyebab pastinya.
Rey menggeleng tak tahu, karena tadinya anak itu asik bermain dengan Naufal sampai tidak memperhatikan sekitarnya.
“Oma juga tidak tahu sayang apa yang menyebabkan princess sampai menangis kencang seperi tadi,” jawab Erina.
“Mama dan oma memang tidak apa yang terjadi dengan princess. Maka dari itu kita menunggu papa kesini dan menceritakan keadaan princess,” tutur Naila membuat anak-anak mengangguk.
***
Di ruang kerja, dua laki-laki berbeda usia tengah duduk saling berhadapan.
“Jelaskan pada opa apa yang sebenarnya terjadi, sampai princess bisa terlentag di lantai dan menangis kencang,” Andreas menatap cucu laki-lakinya dengan tatapan mengintrogasi.
“Apa opa akan mempercayaiku jika aku mengatakan sejujurnya tentang kejadian ini,” ujar Arcell sebelum memberitahunya.
“Pastinya, karena kamu cucu lelaki yang opa percaya bisa menjaga adik-adikmu.”
“Jadi jelaskan sekarang,” titah Andreas.
“Begini opa, aku sempat memperhatikan princess bermain dengan anaknya opa Bagas, hanya sebentar saja dan aku kembali bermain bersama Abian. Saat aku kembali menengok keduanya bermain, aku melihat princess dan anaknya opa Bagas saling bergantian memegang boneka. Aku pikir mereka baik-baik saja bermainnya, sampai dimana aku melihat sendiri anaknya opa Bagas mengigit tangan princess. Saat aku ingin mendekati aku terlambat, karena princess sudah di dorong anak itu hingga sampai terlentang di lantai, bertepatan mommy yang datang dan princess menangis kencang langsung di gendong mommy,” jelas Arcell panjang lebar tanpa menjeda kalimatnya. Memang anak itu baru berumur delapan tahun, tapi bicaranya sudah seperti orang dewasa.
“Apa mommy mu juga melihat kejadiannya son?”
“Sepertinya tidak opa, karena pada saat mommy datang princess sudah terlentang di lantai.”
Andreas mengingat jika di ruang tengah ia memasang CCTV yang tidak diketahui semua orang. Itu ia pasang hanya untuk berjaga-jaga saja. Nanti dia akan mengeceknya sendiri bagaimana kejadiannya, rasanya di masih belum bisa tenang hanya mendengar penjelasannya dari cucunya.
“Opa apa boleh aku keluar sekarang?” Tanyanya.
“Baiklah son sekarang kamu boleh keluar,” ujar Andreas.
Arcell segera berdiri dari duduknya dan membuka pintu, melangkah menuju ke kamar daddy dan mommynya untuk melihat keadaan princessnya.
****
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓