
Sesampai di mansion Antonio langsung menuju ruang CCTV yang disana sudah ada Alvaro menunggunya.
"Tuan bisa lihat sendiri siapa pelaku sebenarnya," Alvaro memutarkan video nya.
Disana terlihat Clara mendatangi istrinya dan menawarkan bantuan. Dan mereka memasak bersama, mata Antonio menajam melihat sesuatu yang dimasukan oleh wanita itu.
"Tolong di zoom, saya ingin melihat apa yang di masukannya," ujar Antonio memerintahkan Alvaro mengezoom videonya, walau tetap tak terlalu jelas.
Wanita itu kembali menghampiri istrinya dan berpamitan untuk segera bersiap-siap. Wanita itu tak sadar jika sudah meninggalkan sesuatu yang bisa ditemukan dan dijadikan sebagai barang bukti.
Alvari kembali mematikan videonya. Antonio mengeluarkan sesuatu di kantong celananya.
"Saya yakin wanita itu yang telah memasukan obat ini ke dalam masakan Khanza," Antonio berkata dingin.
"Lalu apa yang ingin tuan lakukan pada wanita itu?" tanya Alvaro memberanikannya.
"Saya akan buat wanita itu menyesal dengan apa yang dilakukan pada Khanza. Tapi sebelum mengungkap itu Khanza harus bersama saya dulu, Rhea, papa, dan mama harus berada di mansion ini..."
Alvaro hanya mengangguk mendengar penuturan tuannya yang menahan amarah.
Dert Dert
Handphone Antonio yang ada di dalam saku celananya berdering menandakan ada orang yang menelponnya. Antonio mengambilnya dan melihat nama si penelpon tertera nama 'Eduard bodyguard'.
"Apa kamu sudah menemukan keberadaan istri saya?"
"Iya tuan, sekarang nona Khanza berada di rumah seseorang."
"Siapa? Laki-laki atau perempuan."
"Perempuan tuan, mereka juga kelihatan sangat akrab. Saya pikir keduanya saling mengenal..."
"Baiklah kirimkan alamatnya, saya akan segera kesana."
"Baik tuan..."
Sambungan telpon diakhiri Antonio...
Sebelum keluar dari ruang CCTV ia memberikan perintah kepada Alvaro.
"Al saya minta kamu awasin wanita itu, jangan sampai dia berbuat sesuatu kembali," perintah Antonio.
"Baik tuan, saya akan mengawasi wanita itu..."
Selesai memberikan perintah Antonio bergegas keluar dari mansion. Mendatangi keberadaan istrinya dirumah orang lain. Bodyguard sudah mengirim alamat tersebut.
Mobil Antonio melaju dengan kecepatan tinggi. Dirinya tak sabar ingin bertemu istrinya. Entahlah, beberapa jam saja tidak bersama istrinya ia sudah sangat merindukannya. Dan takut jika terjadi apa-apa dengan istrinya.
Apalagi kandungan Khanza masih lemah, dan dokter juga menyarankan menjaga agar tidak terlalu banyak berpikir yang nantinya membahayakan Khanza dan janinnya.
Eduard yang melihat mobil boss berada di depannya, segera turun menghampirinya. Antonio membuka jendela mobilnya.
"Kamu yakin istri saya berada di dalam rumah itu?"
"Sangat yakin tuan, saya sudah melihat sendiri. Nona Khanza masuk ke dalam rumah itu bersama seorang perempuan," jawab Eduard tanpa keraguan.
Antonio turun dari mobilnya, melangkah mendekat ke arah rumah tersebut. Matanya menatap ke sekeliling, dan sekarang dirinya berdiri di depan pintu rumah tersebut.
.
Kryuuk kryuuk
Perut seorang wanita hamil yang tertidur berbunyi. Mata Khanza mengerjap, sedikit terbuka dan meletakan tangannya di atas perutnya.
"Hmm, lapar sekali," ucapnya. Mencoba bangkit dan duduk bersandar di tempat tidur.
"Maafin mama ya dek, mama sampai melupakan makan malam. Karna terlarut dalam kesedihan," ia kembali berbicara dengan janin dalam perutnya. Sambil mengusap-ngusapnya.
Ketika berdiri, pusing di kepala datang kembali. "Sepertinya kepala ku pusing, karna aku belum mengisi perutku. Huhh, maagh ku kumat lagi pasti," keluhnya.
Khanza mencoba melangkahkan kakinya perlahan membuka pintu kamar dengan pelan. Berjalan menuju dapur, melihat isi kulkas Bu Kirana.
"Hanya ada sosis, lebih baik aku masak nasi goreng saja," lalu Khanza mengeluarkan sosis tersebut dan mengambil bawang yang juga telah dikupas di dalam kulkas.
Dia pun mengiris bawang-bawang, setelahnya beralih memanaskan wajan. Memasukan semua bawang yang telah diiriskan tadi dan sosis, terakhir memasukan nasi putihnya.
Karna sudah matang Khanza menaruh nasi goreng ke dalam piring, membawanya ke meja makan. Asik menikmati makanan, Khanza mendengar suara pintu yang diketuk. Bulu kuduk berdiri mendengar suara ketukan yang semakin terdengar jelas di telinganya.
Tetapi rasa penasaran Khanza begitu tinggi, ia pun menghentikan makannya. Berdiri dari kursi, pelan-pelan berjalan menuju ke depan. Sebelum membuka pintunya, tadi dia sempat mengambil sapu untuk berjaga-jaga.
Entah, Khanza nya lupa untuk melihat dulu ke sebuah kaca samping pintu. Dia membuka kuncian pintu, setelah itu baru pintunya.
Kreek.... (anggap aja suara pintu terbuka)
*****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓