
Pyaaarrr
Suara barang-barang yang di lempar Queen ke sembarang arah. Para suster tidak berani mendekat, bahkan dokter yang diminta Vinno untuk menjaga Queen hanya bisa menghidari barang-barang yang di lempar oleh gadis itu.
Dokter Renan mengambil handphone dan menghubungi dokter Vinno, memintanya agar segera ke rumah sakit sekarang.
“Aku mau ketemu mommy, jangan halangi aku...”
“Mommy, mommy, mommmyyyy!!!” Queen masih berteriak-teriak histeris memanggil nama ibunya.
“Alesha, tenanglah sebentar lagi daddy dan uncle akan kesini.” Dokter Renan mencoba berbicara lembut.
“AKU MAU MOMMY!”
“Iya, tenanglah...” Dokter Renan yang ingin maju.
“Jangan mendekat,” sergah Queen memajukan tangannya agar dokter Renan tak mendekat.
“Baiklah, saya akan tetap disini,” ucap dokter Renan mengalah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Antonio dan Vinno yang baru sampai di halaman rumah sakit langsung keluar dari mobil. Kedua pria itu berlari memasuki lift dan memencet tombol angkat 20.
Keluar dalam lift, keduanya juga berlari hingga sampai di ruang rawat Queen. Mereka yang mendengar suara-suara Queen yang terus saja mencari Khanza.
‘Kreek’ Pintu dibuka dari luar, menampilkan Antonio dan Vinno baru habis dari makan Khanza.
“Daddy!” Queen berlari dan memeluk Antonio, tanpa memperdulikan kaki yang menginjak pecahan beling.
“Daddy aku mau pulang, mau ketemu mommy. Mommy pasti nyariin aku...” Perkataan Queen membuat tubuh Antonio membeku.
“Vier, princess kita pindahkan ke ruang rawat sebelah. Biar kakinya di obatin,” ujar Vinno mengusulkan.
“Uncle aku mau pulang, nanti obatinnya dirumah aja sama mommy,” kata Queen menolak untuk dibawa ke ruang rawat sebelah.
“Dokter Renan terimakasih telah menjaga keponakan saya, maaf telah membuat anda kerepotan,” ucap Vinno.
“Tidak apa-apa dokter Vinno, saya mengerti. Saya juga tidak merasa direpotkan,” balas dokter Renan.
“Karena disini sudah ada anda, jadi saya permisi dulu memeriksa pasien yang lainnya...” Pamit dokter Renan bergegas keluar bersama kedua suster lainnya.
Antonio merengkuh tubuh princessnya dan menggendong. Lalu berjalan keluar dari ruang rawat yang sudah seperti kapal pecah karena ulah putrinya.
“Daddy, kenapa bawa aku kesini. Aku mau pulang, pulang! Engga mau disini.” Queen membrontak dalam gendongan Antonio ingin turun.
Antonio tetap diam, semakin mengeratkan tangan dibelakang punggung putrinya. Vinno membuka ruang rawat baru, Antonio masuk dan duduk di ranjang membiarkan putrinya tetap berada dipangkuannya.
Vinno mengambil
“Daddy!” Lirih Queen menatap sendu Antonio.
“Kenapa sayang?” Tanya Antonio mengusap lembut kepala putrinya.
“Daddy orang itu jahat, dia pukul mommy sama aku. Dia-awsshh,” rintih Queen.
“Maafkan uncle sayang,” ucap Vinno, lalu melilitkan perban di kaki Queen.
“Siapa orang yang sudah jahat itu sayang?” Pancing Antonio bertanya.
“Dia jahat sekali daddy, aku takut melihat wajahnya sangat seram.” Queen malah membenamkan kepala di dada bidang daddy nya.
“Jangan takut sayang, daddy akan melindungi dan menjagamu. Apakah kamu mengenal orang jahat itu sayang, atau mommy menyebutkan nama orang jahat itu?” Cecar Antonio agar putrinya mau menyebutkan nama pelaku di balik kejadian yang menimpa keluarga sampai mereka kehilangan orang yang sangat berarti dan mereka cintai sepenuh hati.
“Clara! Ya aku ingat mommy menyebutnya Clara,” kata Queen mendongak menatap manik mata Antonio yang menajam ketika mendengar nama wanita sialan.
“Lihat saja wanita sialan, sekarang tidak ada ampun untuk kau wanita biadap. Aku sendiri yang akan menghabisi mu sampai mati.” Batin Antonio.
“Daddy, apa mommy selamat dari ledakan bom dirumah menyeramkan itu?” Pertanyaan Queen kembali membuat Antonio bingung harus memberikan jawaban apa. Haruskah dia mengatakannya sekarang bahwa Khanza tak bisa diselamatkan dan dinyatakan meninggal karena terbakar sampai wajah dan badanya hangus, tidak bisa dikenali.
“Daddy jawab, jangan diam aja,” ucap Queen mengoyangkan bahu daddy nya.
“Mommy, sudah meninggalkan kita sayang. Mommy berada di tempat yang jauh, tidak akan bisa kembali lagi...” Antonio tak mengatakan bahwa Khanza meninggal dunia. Dia takut pertahanannya runtuh saat mengatakan itu, dirinya belum sepenuh ikhlas.
“Tempat jauh dimana daddy? Bisakah kita pergi sekarang menyusul mommy, aku mau bersama mommy...”
“Tidak bisa sayang,” sergah Antonio.
“Kenapa tidak bisa daddy... Daddy banyak uang, kita bisa menyusul mommy sejauh apapun mom pergi,” protes Queen.
“Karena mommy sudah meninggal, puas sekarang!” Pungkas Antonio.
“Engga, daddy pasti bohong..” Queen memalingkan wajah dan beralih menatap unclenya yang telah selesai mengobati kakinya.. “Uncle katakan bahwa daddy berbohongkan....”
“Oh aku tahu sebentar lagikan aku mau ulang tahun, jadi ini pasti daddy ngerjain aku ya?” Queen masih belum mempercayai.
Antonio merangkum pipi princess nya agar menatap lekat padanya.
“Lihat baik-baik mata daddy sayang, apa menurutmy dad berbohong?”
Buliran-buliran bening menetes di kelopak mata Queen. Baginya ini seperti mimpi buruk dalam hidupnya. Kehilangan mommy untuk selama-lamanya, bisakah dirinya hidup tanpa mommy kesayangan.
“Tidak dad, aku tetap ga percaya. Aku yakin mommy masih hidup.” Queen menggeleng-geleng tidak mempercayainya.
“Daddy juga awalnya tidak mempercayai semua ini sayang. Tapi polisi telah membuktikan bahwa itu benar-benar jasad mommy sayang,” tutur Antonio.
Pertahanan pria itu runtuh dan menangis juga dihadapan putrinya.
“Hiks, hiks mommy mommy mommy...” Tangis Queen pecah dalam ruang rawat yang baru ditempatinya.
Antonio memeluk erat putrinya. Keduanya menangis pilu. Vinno yang menyaksikan saudara dan keponakannya menangis bersama, membuat tak tahan dan memilih keluar membiarkan keduanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya, Antonio dan Queen berada dalam mobil. Mereka disetirkan oleh Edward menuju kearah pemakaman.
Sampai disana, Queen dan Antonio berjalan bersama ke peristirahatan terakhir Khanza.
“Mommy, aku tidak percaya semua ini. Aku masih merasa bahwa semua ini hanya mimpi, aku ingin cepat terbangun dari mimpi ini hiks,” isak Queen mengusap batu nisan ibunya.
Antonio hanya bisa mengusap punggung putrinya, Lidah sangat kelu untuk mengatakan sesuatu di makan istri tercintanya.
“Mommy, aku akan selalu mendoakan mommy agar diberi tempat yang nyaman disana. Mommy adalah mom terhebat. Maaf mom aku masih belum bisa ikhlas dengan kepergian mu yang sangat cepat ini. Maaf semua ini salah aku!”
Setelah itu Antonio dan Queen membacakan doa. Lalu menaburkan bunga dan menyiramkan air. Barulah mereka berdiri dan pergi meninggalkan makam tersebut.
...****************...
Guys baca karya baru aku yuk judulnya "YOU'RE MINE, SERRA"
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓