My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Episode 127



Keesokan harinya...


Pagi-pagi sekali pukul 7, Antonio sudah bersiap-siap untuk berolahraga sebelum pergi ke kantor.


Ia menyempatkan mencium dahi istrinya dan tak lupa twins juga mendapatkan kecupannya. Lalu barulah keluar pergi ke ruang khusus olahraga.


Beberapa menit kepergian Antonio, Khanza terbangun dari tidur nyenyaknya, meraba kesampingnya dan merasa bahwa orang di sampingnya tak ada, matanya seketika menolah dan benar saja kosong. Ia bangun dan mengecek twins, dimana Arcel sudah membuka matanya dan Arsen yang memejamkan matanya.


Khanza mengambil Arcel dan menggendong membawanya untuk mencari keberadaan suaminya.


"Pagi bi Inah," sapa Khanza.


"Pagi neng," balas Bi Inah.


"Bibi ada liat mas Nio?"


"Tadi kalau ngga salah tuan berjalan ke arah ruang olahraga neng,"


"Makasih ya bi.. Oh ya bi semua orang kemana, kenapa tidak ada yang duduk di meja makan buat sarapan pagi," ujar Khanza keheranan melihat meja makan kosong, padahal ini hampir mau jam delapan.


"Itu neng, kalau tuan Andreas sama nyonya Erina pergi keluar katanya ada urusan mendadak. Kalau non Rhea ke kampus," beritahu Bi Inah.


"Kekampus sepagi ini," guman Khanza setelah tadi Bi Inah memberitahunya langsung pergi dan ia masih berdiri memikirkan Rhea yang pergi ke kampus terlalu pagi.


Khanza mengeluarkan handphonenya untuk menelpon Rhea menanyakannya dan memastikan keberadaan gadis itu.


"Assalamualaikum re, kamu dimana?"


"Waalaikumsalam mom, ini re di rumah mama Raya,"


"Tadi bi Inah bilang kalau kamu di kampus,"


"Ouh itu tadi re salah ngomong mom sama bi Inah, ini mama Raya lagi duduk dekat re,"


"Kenapa nza, ini aku lagi sama re. Lagi duduk santai,"


"Ngga pa-pa tante, aku cuman mau memastikan keberadaan re aja. Kalau gitu aku tutup telpon tan."


Tutt...


Khanza menutup telponnya dan menghela nafas lega setelah mengetahui keberadaan Rhea. Khanza mencium Arcell.


"Sekarang kita temuin dad kamu, nak."


Kini Khanza sudah berdiri di depan pintu ruang olahraga, ia memegang handel pintu dan membuka perlahan. Disana terlihat suaminya tengah treadmill, ia pun masuk dan mendekati suaminya.


Antonio menghentikan treadmill dan turun dari alat itu.


"Honey,,, kenapa kamu kesini hm? Arsen mana?" tanya Antonio ketika melihat yang di gendong Khanza adalah Arcell.


"Arsen masih nyenyak mas, aku bawa Arcell karna dia bangun," jawab Khanza.


"Ayo kita ke atas lihat Arsen, nanti dia nangis kalau merasa tidak ada keberadaan kita," ajak Antonio, karena memanglah benar, Arsen selalu merasakan jika sedang sendirian akan menangis.


"Mas tetap disini saja, lanjutin olahraganya. Biarkan aku saja yang mengecek Arsen, tadi aku cuman pengen tau keberadaan kamu aja. Yaudah kalau gitu aku tinggal ke atas dulu mas..."


Hampir sampai di depan pintu suara Antonio menghentikan langkah kaki Khanza.


"Tunggu honey," seru Antonio.


Khanza berbalik badan menghadap kearah Antonio.


'CUP'


"Kamu melupakan morning kiss," ujar Antonio tersenyum menggoda.


"Mas ada Arcell, kamu suka banget main cium aja," ucap Khanza sedikit kesal dengan kelakukan suaminya.


"Arcell masih terlalu kecil honey untuk mengerti yang dilakukan oleh orang tua nya," tukas Antonio dan memberikan ciuman juga untuk Arcell. Membuat Arcell malah menangis.


Oweekk owekk..


"Sebentar lagi juga diam honey, Arcell paling cuman bentar aja nangisnya. Mas udah hafal sifat Arcell," ucap Antonio.


Arcell memanglah jarang menangis, tapi saat merasa terganggu dia akan menangis dan itupun hanya sebentar. Maka dari itu Antonio berani mengatakan jika Arcell sebentar lagi akan diam. Ya, terbukti sekarang anak itu sudah tak menangis lagi.


"Nah udah diam kan," ujar Antonio.


"Yaudah mas, aku pergi ke atas dulu," ucap Khanza dan kali ini benar-benar keluar dari ruang olahraga.


.


Dalam waktu 15 menit Antonio sudah siap dengan pakaian formalnya, sebenarnya hari ini tidak ada kerjaan di kantor. Tetapi karena hari ini dia akan menguji sebesar apa rasa cinta Leo untuk putrinya.


Mata Antonio tertuju ke sofa yang mengarah ke kaca jendela, dimana disana Khanza sedang duduk sambil menyusui bayi twins secara bersamaan.


"Honey..."


"Kenapa mas?"


"Mas tinggal ke kantor, apa tidak apa-apa kamu sendirian di mansion atau sebaiknya mas tetap disini saja menemani kamu..."


"No, mas harus tetap berangkat ke kantor. Jangan hanya mas bossnya jadi semaunya mau ke kantor atau nggak. Aku nggak mau suamiku memberikan contoh yang ga baik buat para karyawan di kantor," terang Khanza panjang lebat, mana mungkin ia membiarkan suaminya selalu tak ingin ke kantor hanya karena mengkhawatirkan dirinya seorang di mansion ini.


Padahal di mansion banyak para pelayan yang menemani Khanza dan ada satpam dan beberapa bodyguard berjaga di depan, apa itu masih belum cukup bagi Antonio untuk tak mengkhawatirkan Khanza dan baby twins?


"Tapi mas selalu mengkhawatirkan keadaan kamu," ujar Antonio.


Khanza tersenyum berdiri menggendong kedua putranya berjalan menaruh di box bayi, karena twins sudah kenyang dan terlelap tidur. Lalu menghampiri Mas Nio dan merapikan kerah baju dan dasinya.


"Makasih honey..." Antonio mengelus kepala istrinya dan memberikan ciuman.


"Mas berangkat dulu, kalau ada apa-apa segera hubungin mas," pamit Antonio.


"Sebentar mas," cegah Khanza.


"Ada apa honey?"


"Mas, kok kak Al sama Ed gak kelihatan lagi. Mereka kemana mas, apa mereka di pecat," ujar Khanza baru mengingat tak melihat keberadaan dua bodyguard yang selalu menjaganya. Sudah empat minggu lamanya.


"Mereka lagi mas tugaskan urusan yang lain honey..." ujar Antonio, Khanza hanya mengangguk..


Khanza ingin mengantar Antonio ke bawah, tetapi Antonio tidak mengijinkannya. Jadinya ia hanya menyalimi tangan Antonio saja, barulah Antonio turun ke bawah untuk berangkat ke kantor.


...***...


Disisi lainnya Leo telah sampai lebih dulu di kantor Horison. Ia pun memasuki kantor dan menuju meja resepsionis untuk bertanya.


"Ada yang bisa saya bantu pak," ujar resepsionis wanita yang baru bertanya ramah. Karena yang lama telah di pecat atas sikap kurang ramah dan sopannya.


"Pak Antonio nya ada?" balas Leo bertanya balik.


"Kebetulan pak Antonio belum ada di kantor, kalau ada pesan yang ingin dititipkan silahkan nanti akan saya sampaikan jika pak Antonio sudah berada di kantor," ucap resepsionis.


"Tidak, biar saya menunggunya saja," pungkas Leo.


"Yasudah kalau begitu, silahkan menunggu disana," resepsionis menunjuk sofa yang berada di lobby.


Leo melangkah menunggu Antonio di lobby, duduk di sofa yang memang telah ada disana.


****


Follow ig aku yuk guys : @antiloversn


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓