My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Episode 96 Spesial Kirana & Aditya



Saat ini Aditya tengah duduk berhadapan dengan Kirana. Ada rasa canggung di antara keduannya, karna ini pertama kali mereka duduk ditempat yang sama dan hanya berdua.


Kirana masih merasakan ragu dan takut mengatakannya. Karena ingatannya begitu jelas, ketika melihat pria di depannya ini berciuman dengan seorang wanita.


Aditya menyadari jika wanita di depan menunggunya untuk memulainya.


"Ehem," dehemya


"Aku hanya ingat tahu alasan kamu ninggalin aku tanpa kabar," ujar Aditya to the point.


"Aa..aku hanya ingin pergi," ucap Kirana cepat.


"Ayolah Rana jangan berbohong, tolong jelaskan alasan kamu ninggalin aku," tukas Aditya tak berhenti sebelum Kirana menjelaskan yang sebenarnya.


"Aku belum kuat untuk menjelaskannya," Kirana berdiri dan ingin pergi. Secepat kilat Aditya menghalanginya dan memeluk Kirana.


"Hiks..Hiks," tumpah sudah air mata Kirana yang sedari tadi ia tahan agar tak jatuh. Tapi begitu di hadapan pria yang masih dicintainya sampai sekarang, runtuhlah semua pertahanannya.


"Udah nangisnya?" tanya Aditnya sambil tangan digunakan menghapus air mata Kirana, wanita itu mengangguk pelan.


"Sekarang kamu ikut aku, kita tidak bisa bicara disini," Aditya menarik tangan Kirana lembut agar mengikutinya.


Kedua masuk ke dalam mobil bersama, tak lupa Aditya mengirim pesan pada Antonio untuk menitipkan Fadil sebentar. Dan sahabatnya itu mengerti dan tak bertanya aneh-aneh.


Aditya menjalankan mobilnya membawa ke suatu tempat. Dimana tempat itu dulunya sering mereka kunjungi berdua, untuk saling mengbrol lama. Hingga tidak melihat waktu yang hampir malam.


"Adit kenapa kamu membawa aku kesini," ujar Kirana menatap bingung pria di sampingnya.


"Karna aku ingin mengbrol dengan mu disini. Disini tempat yang nyaman untuk mengobrol," kata Aditya.


Mereka berdua pun duduk di salah satu bangku taman. Ya, sekarang mereka berdua tengah berada di taman. Tetapi taman yang mereka kunjungi sangatlah sepi.


"Apa kamu sudah siap menjelaskannya?" tanya Aditya penuh kehati-hatian.


"Ya, memang sudah saatnya kamu tahu. Kenapa aku bisa ninggalin kamu dan tidak punya pilihan selain menjauh dari kehidupan kamu Adit."


Setelah memahami keadaan dan semua yang terjadi. Kirana mulai bisa berpikir jernih, dan ia melihat wajah pria di sampingnya yang masih menunggunya untuk menceritakannya.


Kemudian mengalirlah cerita tentang mengapa Kirana bisa meninggalkan Aditya. Dengan keadaan hamil, dan saat melahirkan ia harus menelan rasa pahit. Dimana putrinya di culik dan sampai sekarang belum ditemukan. Sempat Kirana merasa putus asa untuk mencarinya, tetap hati kecil selalu memberinya semangat untuk mencari putrinya.


"Tapi kenapa kamu tidak mendatangi ku kembali, dan meminta penjelasan."


"Aku benar lemah, saat melihat kamu yang berciuman dengan wanita. membuat aku tidak bisa berpikir jernih. Ditambah tante Hani mengatakan  bahwa kamu mencintai wanita itu dan kalian sudah di jodohkan. Itu benar benar membuat aku drop dan memutuskan untuk pergi jauh. Tante Hani sempat memberiku uang untuk ongkos agar aku pergi sejauh mungkin sampai kamu tidak bisa menemukanku. Tapi aku menolak uang pemberian tante Hani, karna aku masih bisa bekerja mendapatkan uang tanpa perlu di kasihani," jelas Kirana panjang lebar, sambil air berjatuhan dipipinya.


"Apa kamu tahu siapa penculik putri kita?"


"Kalo aku tahu siapa penculik, mungkin sekarang putri kita masih bersama ku saat ini."


Hatinya Aditya begitu bergemuruh saat mendengar, jika dia telah memiliki seorang putri. Dan kemungkinan besar putrinya seumuran dengan Rhea anak Antonio.


Aditya bangkit berdiri, tangannya memukul pohon di belakang tempat duduk mereka.


'Buk'


'Buk'


'Buk'


"Adit berhenti, ku mohon berhenti. Itu hanya akan melukai tanganmu," Kirana berdiri memeluk Aditya erat.


"Rana lepaskan aku, aku memang laki-laki tak berguna, tak berguna," teriaknya, bahkan matanya sekarang memerah.


"Adit please berhenti, kita duduk kembali. Masih ada yang harus kamu tahu," Kirana membawa Aditya untuk duduk kembali.


"Apa adalagi yang belum ku ketahui," ujar Aditya.


"Kamu ingat kamu pernah memberiku sebuah kalung," ucap Kirana.


Aditya mengingatnya...


Saat pulang kuliah Aditya mengajak Kirana ke suatu tempat. Bahkan sepanjang jalan mata Kirana ditutupi dengan kain, tujuan adalah ke sebuah taman.


Aditya turun duluan dan bergegas membukakan pintu mobil. Lalu menuntun Kiran berjalan ke arah bangku taman.


"Udah boleh di buka belum sih."


Kirana membuka kain yang menutupi matanya. Dia tidak kaget, karna tempat ini memang sering dikunjungi keduannya.


"Ternyata kamu bawa aku kesini, aku kira kemana. Inimah bukan kejutan Adit."


"Iya, emang ini bukan kejutannya sayang. Tapi ini dia yang menjadi kejutannya."


Aditya mengeluarkan sebuah kalung dengan buahan berinisial KA.


"KA?"


"Kirana Aditya."


"Hem, kamu ada ada aja. Tapi kalung bagus."


"Ini buat kamu, sini aku pasangin."


Kirana membelakangi Aditya. Dan pria itu segera memakaikan kalung tersebut ke leher kekasihnya.


"Kamu jaga kalung itu dengan sebaik mungkin."


Flasback off.


"Iya aku mengingatnya Rana, lalu dimana kalung itu sekarang," ujar Aditya.


"Kalung itu bersama dengan putri kita," ucap Kirana.


Aditya menatap Kirana penuh senyuman. Tanpa berkata-kata. "Berarti kita masih punya harapan untuk menemukannya."


Kirana mengangguk sambil membalas senyuman Aditya. Kebencian di dalam dirinya mengikis, oleh rasa cinta yang masih ada di dalam hatinya.


"Aku akan mengerahkan orang orangku untuk mencari putri kita," pungkas Aditya.


"Aku sangat merasa bersalah, tidak mengetahui kehamilan mu Rana. Maafkan aku, kamu pantas membenciku," kata Aditya.


"Tidak Adit, memang ini sepenuhnya bukan salah kamu. Ini semua salah aku yang egois meninggalkan mu tanpa mendengarkan penjelaskan dari kamu."


"Apa disaat kamu pergi, kamu melanjutkan kuliah mu?" tanya Aditya.


Kirana menggeleng. "Aku tidak melanjutkan, aku memilih bekerja dan sampai akhirnya bisa membangun toko kue. Walaupun tidak besar, tapi aku sudah merasa cukup. Karena sekarang aku tidak hidup dengan kekurangan lagi."


Aditya kembali memeluk Kirana. "Maaf sudah membuat berhenti kuliah, andai aku tahu kamu hamil. Aku akan langsung menikahi mun, tapi-"


"Sutt... Semua sudah berlalu, kita lupakan saja. Kita fokuskan untuk mencari putri kita."


"Ouh iya, aku akan menjelaskan sama kamu tentang wanita itu. Wanita itu bernama Winda, mama menjodohkannya denganku. Tetapi aku sudah beberapa kali menolaknya, tapi mama tetap kekeh. Sampai dimana mama sakit dan meminta diriku untuk menerima perjodohan itu. Aku dengan sangat terpaksa menerimanya."


"Aku akan ceritakan juga kejadian di kolam renang itu. Sebenarnya saat itu aku lagi asik berenang, entah dari mana datangnya wanita itu. Wanita itu menceburkan diri dikolam renang mencoba mendekatiku. Lalu wanita itu menciumku, tapi hanya sebentar, aku mendorongnya. Setelah itu aku sendiri memutuskan untuk naik saja. Langsung menuju kamar. Maafkan aku! telah membuat mu sakit hati."


Kirana memegang kedua rahang pipi Aditya. "Itu hanya kesalahpahaman. Jadi tidak perlu merasa bersalah Adit."


"Apa kamu sudah menikah dengan wanita bernama Winda itu."


Aditya menggeleng. "Aku tidak bisa menikahinya, karna hati ini hanya untuk kamu. Aku masih mencintaimu dan sampai kapanpun aku tidak ingin menikah. Kecuali hanya dengan mu, jadi maukah kau menikah denganku."


Kirana menunduk, ia belum bisa menjawabnya sekarang. Dirinya masih perlu waktu, karna menurutnya ini terlalu cepat. Walaupun benar dia masih begitu mencintai pria di depannya.


"Tidak usah di jawab sekarang Rana, aku hanya menyatakannya. Aku akan menunggu jawabanmu, asalkan kamu jangan menghindar lagi saat aku temui," ucap Aditya.


Kirana mangut-mangut. "Mulai sekarang aku tidak akan menghindar lagi dari kamu. Dan kamu bebas menemuiku." senyumnya.


Akhirnya hubungan kedua kembali, mereka sudah saling berbaikan.


****


Follow ig aku yuk guys : @antiloversn


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasihđź’“