
Khanza sedang melipat mukena, karna baru saja menyelesaikan sholat subuh. Saat Khanza ingin berdiri mengambil ponselnya tiba-tiba ia merasa tidak enak diperutnya seperti ada yang ingin dikeluarkan.
"Hoekk hoekk" Khanza langsung lari ke mandi yang memang berada di atas diujung kamar. Masuk kedalam dan memuntahkan isi di dalam perutnya.
Kamar Lestia yang berdekatan dengan kamar mandi. Mendengar suara orang muntah-muntah lantas keluar menuju kesana untuk melihat siapa yang berada didalam kamar mandi.
"Siapa di dalam?" tanya Lestia sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Aku mba, Khanza," sahut Khanza dari dalam sudah sangat lemas. Khanza membuka pintu kamar mandi dan mendapati Lestia sudah berada tepat didepannya.
Khanza yang amat lemas karena baru memuntahkan isi diperutnya langsung dipapah oleh Lestia menuju ke kamar dan dibaringkan perlahan ke tempat tidur.
"Nza kamu sakit ya, muka kamu pucat banget. Bentar mba kebawah dulu, bikinin teh hangat buat kamu," ujar Lestia segera pergi berjalan kedapur untuk membuatkan teh untuk Khanza.
Sedang dikamar Khanza sungguh lemas sekali, padahal dirinya tinggal siap-siap memakai seragam sekolah. Tapi apalah daya tubuhnya tidak bisa di ajak kompromi.
Dibawah Lestia sudah selesai membuat teh hangat dan langsung naik ke lantai atas menuju kamar Khanza.
"Ayo Nza bangun dulu gih, minum teh hangat supaya nggak muntah lagi," Lestia membantu Khanza untuk bangun dan duduk bersandar di sandaran ranjang.
"Rasanya tubuh aku lemas bangat mba," ujar Khanza memang merasakannya.
"Makanya minum teh dulu ya."
Khanza mengangguk.
Lestia membantu Khanza meminum tehnya hingga setengah gelas. Lestia lalu mengambil minyak kayu putih dan mengusapkan ke perut Khanza. Lestia merasakan perut Khanza sangat keras seperti perut wanita hamil pada umumnya. Tapi Lestia dengan cepat menepis pikiran itu dari otaknya, tidak mungkin Khanza yang dilihat sangat polos melakukan begituan.
"Makasih ya mba, maaf juga udah merepotkan."
"Engga merepotkan sama sekali Nza. Lagian kamu udah mba anggap adik sendiri. Jadi kalau ada apa-apa cerita aja sama mba, mba siap bantu kamu sayang."
Khanza mengangguk dan memberikan senyuman tulus.
"Kalau gitu mba balik ke kamar ya, mau berberes. Oh ya untuk hari ini mending kamu gausa sekolah dulu dan masuk kerja. Nanti mba ijinin sama bu Kirana."
"Iya mba, makasih lagi ya mba."
"Sama-sama Khanza sayang."
Setelah itu Lestia keluar dari dalam kamar milik Khanza. Balik menuju ke kamarnya untuk berberes, karena jam 9 dia sudah harus berada di toko kue. Dia sudah di beri kepercayaan oleh Kirana memegang kunci toko kue. Jadi dia tidak boleh semena-semena dengan tugasnya sekarang.
.
.
Khanza terbangun dan melihat kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 12:00 siang. Ternyata dia tertidur sudah sangat lama, Khanza terlelap ketika Lestia sudah keluar dari dalam kamarnya.
Segera Khanza memakai jaket. Keluar dari dalam kamar kost, tidak lupa menguncinya. Khanza tidak menggunakan sepeda dan menyetop angkutan umum yang kebetulan sekali lewat didepan kostnya.
Selama perjalanan otak Khanza dipenuhi dengan sesuatu yang mengganjal di hatinya. Dia berdoa semoga tidak ada apa-apa dengannya. Sungguh dirinya tidak bisa membayangkan jika itu beneran dialaminya. Dia harus bagaimana mengahadapinya, sekolah saja belum lulus. Memang tinggal beberapa bulan saja lagi, tapi tetap saja masih terasa lama.
"Maaf neng sudah sampai," tegur sopir angkot yang berada didepan.
"Oh iya pak, ini pak uangnya. Kembaliannya ambil aja buat bapak" ucap Khanza setelah itu segera turun dan masuk ke dalam rumah sakit mencari ruang dokter.
Beruntunglah Khanza di luar ruangan itu sepi. Ia pun disuruh masuk oleh suster dan duduk berhadapan dengan dokter tersebut.
"Apa ada keluhan?" tanya dokter.
"Beberapa hari saya selalu muntah setiap pagi dok. Saat siang badan saya kembali fit kembali. Tapi saya mengingat sesuatu, saya telat menstruasi bulan ini," jelas Khanza.
"Yasudah kamu berbaring dulu biar saya periksa."
Dokter pun melakukan pemeriksaan. Saat ini Khanza sedang berada diruang dokter kandungan. Untuk memeriksakan apakah benar yang ada dalam pikirannya sekarang bahwa dia sedang berbadan dua.
Setelah selesai Khanza dipersilahkan duduk kembali.
"Jadi saya kenapa dok?"
"Kamu sedang mengandung, dan usia kandungan kamu sudah jalan 4 minggu. Emm.. Maaf kalo saya boleh tahu umur kamu berapa." dokter tersebut menanyakan umurnya.
"17 tahun," jawaban Khanza membuat dokter tersebut terperangah. Mungkin dokter tersebut berpikir masih muda sudah hamil.
"Ternyata kamu masih sangat muda, jagalah kandungan mu dengan baik. Karna sebenarnya diusia 17 tahun tidak disarankan untuk mengandung dulu, sangat berbahaya dan rentan keguguran. Tapi setelah saya periksa tadi kandungan anda termasuk kuat, jadi tolong berhati-hati. Saya akan memberi resep vitamin untuk diminum sesuai jadwal" ucap dokter menjelaskannya dan menulis resep lalu memberikannya pada Khanza.
Khanza mengangguk lalu keluar dari dalam ruangan dokter setelah mengucapkan terimakasih. Ada sesorang yang melihat Khanza keluar dari dalam ruangan dokter. Orang itu pun mengikuti Khanza sampai ke dalam toilet.
"Yaallah kenapa harus terjadi sama aku, bisakah aku menjaga dia dengan baik," ucap Khanza berbicara sendiri di dalam kamar mandi.
"Anak mama baik-baik didalam perut. Mama akan jagain kamu dengan sebisa dan sekuat mama." guman Khanza sedih hamil diluar nikah. Tapi dia akan tetap mempertahankan kandungan ini dan berjanji pada dirinya sendiri akan menjagannya dengan sebaik mungkin.
***
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓