
"Alesha!"
Arcell menggeram marah dan melangkah panjang mencari kamar rawat adik perempuannya. Setelah mendengar semua yang diceritakan oleh Abian tanpa ada yang terlewatkan sedikitpun.
"Abang gimana keadaan abang Rey?" tanya Queen lemah.
"Abang Rey akan baik-baik saja sayang, mending kamu berbaring kembali ya." Arsen perlahan akan membaringkan adiknya di buat terkejut pintu dibuka kasar.
BLAM!
Arcell menutup pintu dengan membanting kuat. Queen memejamkan mata akibat suara keras tersebut. Wajah Arcell terlihat menakutkan sekarang, Arcell mendekati brangkar Queen.
'Plak' Tamparan Arcell tepat mengenai pipi kiri Queen.
"Arghh." Queen merintih kesakitan menerima tamparan Arcell yang begitu tiba-tiba saja. Pertama kalinya gadis manis itu mendapatkan tamparan dari abang tertuanya.
"Arcell kau keterlaluan," ujar Arsen menatap marah pada saudara kembarnya.
"Diam Arsen! Adik kita ini yang sudah sangat keterlalu, halusinasi membuat semua celaka, termasuk Rey bahkan membuat Rey hampir merenggang nyawa. Semua ini salah dia." Arcell menujuk Queen dan menatap nyalang adik perempuannya.
"Hiks, aku mau melihat abang Rey." Queen yang akan turun di peluk Ghani.
"Enggak dek, kamu masih sakit. Istirahat saja, biar abang yang melihat Rey," ujar Ghani melarang Queen kemana-mana. Ghani masih was-was terhadap Queen.
Queen menggeleng memaksa ingin melihat keadaan Rey.
"Saya tidak akan mengizinkan mu melihat adik saya," larang Arcell.
"Kenapa abang? Abang Rey juga saudara ku," kata Queen membantah Arcell.
"Saudara kamu bilang, lalu kenapa kamu membuatnya celaka. Harusnya liburan ini tidak ada, tapi karena kemanjaan mu semua orang mau menurutinya. Kamu benar pembawa sial, pantesan saja daddy pergi meninggalkan kita. Semua ini gara-gara dia." Arcell seperti tengah di rasuki, sampai berkata kejam menusuk ulu hati Queen.
"Kau membuat adikku celaka, sampai membutuhkan donor ginjal agar bisa bertahan hidup. Semua salah kau, kau-"
"ARCELL CUKUP!! Hentikan omong kosong mu," teriak Arsen marah, pertama kalinya Arsen meneriaki saudara kembarnya yang sudah sangat keterlaluan pada adik perempuan mereka.
"Aku tidak mengizinkannya menemui Rey walaupun dia merengek sekalipun."
Arsen mendorong Arcell dan menariknya keluar dari kamar rawat Queen. Karena ocehan Arcell akan membuat Queen tertekan.
"Hiks aa..abang El me-membenciku," tangis Queen pecah dalam pelukam Ghani.
"Sudah sayang omongan abang El, jangan di masukin ke hati. Mungkin saja abang El hanya sedang pusing dengan masalah kantor, jadi tanpa sadar berbicara seperti tadi. Kamu mau melihat abang Rey kan?" Queen mengangguk, lalu mendongak menatap mata abangnya.
"Tapi nanti ya sayang, setelah kamu isitrahat dengan cukup," lanjutnya.
"Eem, aku mau istirahat. Biar bisa jenguk abang Rey."
Perlahan Ghani merebahkan kepala Queen menjadi tiduran di bantal. Dirasa Queen sudah terlelap Ghani meninggalkannya.
"Tidak! Abang jangan tinggalkan aku." Queen langsung terbangun dari mimpinya, bersamaan air mata mengalir.
"Abang Rey gak boleh pergi. Aku harus menemui papa Vinno."
Queen mengendap-endap membuka pintu kamar rawatnya, menengok kanan-kiri tidak ada siapapun. Kaki melangkah menuju ruangan papa Vinno.
Tokk... tokk..
"Masuklah, pintunya tidak saya kunci," sahut Vinno dari dalam tengah fokus melihat beberapa data rumah sakit.
"Pa-pa boleh aku bicara," ujar Queen gugup, ia merasa takut berhadapan dengan papa Vinno. Takut papa Vinno juga menyalahkannya dan ikut membencinya.
"Princess ada apa kamu kesini? Keadaan mu masih belum sehat sayang." Vinno berdiri dari kursi kebesarannya dan membawa keponakannya agar duduk di sofa saja biar lebih nyaman.
"Ya, papa akan menjawabnya sayang," lugas Vinno.
"Eem, pertama aku mau menanyakan tentang kejadian yang menimpa kami ini. Melihat kecelakaan ini disebabkan oleh aku sendiri! Apa papa menyalahkan semua yanh terjadi hari ini adalah kesalahan ku, apa papa juga membenci?" Queen sampai menangis mengatakannya.
"Dengar sayang! Kecelakaan yang menimpa kalian adalah musibah, bukan kesalahan mu. Jadi papa minta jangan pernah menyalahkan dirimu untuk kejadian hari ini," tutur Vinno lembut memeluk Queen.
"Terimakasih pa, karena tidak menyalahkan ku maupun membenciku," kata Queen.
Vinno mengangguk, "Adalagi yang mau kamu tanyakan sayang?"
"Ada pa, gimana keadaan abang Rey sekarang? Kata abang El, abang Rey membutuhkan donor ginjal, kalau tidak ada pendonor yang cocok maka abang Rey bakalan meninggal."
"Ya, itu benar sayang. Tetapi kamu tenang saja kami semua mengusahkan mendapatkan pendonor secepat, agar Rey tetap bersama kita terus."
"Pa, aku mau mendonorkan ginjal untuk abang Rey." Perkataan mengejutkan Queen membuat Vinno seketika menggeleng menolaknya.
"Tidak sayang, semua orang tidak akan setuju kamu melakukan ini," tolak Vinno mentah-mentah.
"Orang-orang tidak perlu tahu pa, biarkan semua ini jadi rahasia kita berdua."
"Tetap papa tidak setuju."
"Pleasee pa, hanya dengan melakukan ini aku bisa menatap abang Rey sehat kembali. Untuk kali tolong izinkan aku menolong saudara ku." Queen memohon agar Vinno mau menurutinya.
"Tapi kamu tidak akan bisa menjalani hidup normal seperti biasanya sayang, mengertilah! Kamu akan bergantungan dengan obat-obatan dan akan cuci darah setiap satu minggu sekali, kamu sanggup menanggung resikonya," jelas Vinno.
Mendengar penjelasan papa Vinno, tidak mampu membuat ketakutan dalam diri Queen. Toh apa artinya hidupnya, jika salah satu abangnya harus meninggal karenanya.
"Aku yakin! Aku sanggup menghadapinya pa, jadi kapan kita bisa melakukan operasi transplantasi. Aku mau melihat abang kembali sembun, secepatnya."
Vinno meraih bahu keponakannya yang bagaikan putrinya sendiri. "Kamu siap?"
"Sangat siap pa, demi saudaraku nyawaku pun akan ku beri."
Vinno menangis mendengar perkataan Queen.
"Sayang papa tidak bisa melakukan operasi ini." Vinno menggeleng.
"Mengapa pa?"
"Papa tidak sanggup melakukannya. Tetapi papa akan meminta rekan papa yang akan melakukan operasi ini. Bersiaplah kita akan melakukan tahap pemeriksaan atau pengecekan terlebih dahulu. Sebelum melakukan operasi."
"Pa kalau semua orang mencari di kamar, katakan saja aku ke makam mommy dan langsung pulang. Biar mereka tidak curiga jika aku tidak berada disana."
"Janji setelah ini kamu harus mau menurut papa." Queen menangguk.
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Guys baca karya baru aku yuk judulnya "YOU'RE MINE, SERRA dan ISTRI SIMPANAN”
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasihđź’“