
"Jangan buka gerbangnya," teriak Antonio pada satpam penjaga mansionnya.
"Maaf neng, bapak tidak bisa membukakan," ujar pak satpam.
"Pleasee... Buka gerbangnya pak," pinta Khanza memohon.
"Tidak jangan buka gerbangnya atau kamu saya pecat," teriak Antonio yang masih jauh dibelakang.
"Maaf sekali neng, bapak tidak bisa kehilangan pekerjaan ini. Karna bapak mempunyai anak dan istri yang harus bapak nafkahi," tutur pak satpam, dia tidak bisa kalau harus kehilangan pekerjaan yang menurutnya sudah nyaman, apalagi gajihnya disini tidak main-main nominalnya.
Khanza hanya pasrah, dirinya juga tidak mungkin membiarkan orang di hadapannya kehilangan pekerjaan. Bagaimana dirinya juga merasakan saat kehilangan pekerjaan, bahkan tanpa di gajih.
.
Antonio telah berada di hadapan wanitanya yang belum mau menatap ke arahnya.
"Sayang lihat saya," Antonio memegang rahang Khanza dan mendongakan kepala wanitanya yang menunduk untuk menatapnya.
Air mata Khanza mengalir begitu saja. Rasanya dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan tangisannya. Segitu rendahkah dirinya di mata nyonya Erina, sampai disebut hanya menginginkan harta kekayaan Horison. Bahkan itu tidak pernah ada dalam pikirannya.
"Hey? Sayang bicaralah," ujar Antonio. Khanza hanya menggeleng, mulutnya rasanya kelu untuk mengeluarkan suara sedikitpun.
"Ikut saya ya," ajak Antonio.
"A-aku mau sendiri dulu," singkatnya.
"Saya tidak akan membiarkannya, kamu harus bersama saya. Saya tidak ingin terjadi apa-apa dengan kalian," Antonio berjongkok mencium perut wanitanya.
"Please! Ikut saya," seorang Antonio bahkan memohon. Kali pertama bagi dirinya memohon pada wanita.
Khanza akhirnya mengangguk, Antonio tersenyum tipis. Segera Antonio mengeluarkan handphone, menelpon Alvaro untuk membawa mobil ke depan gerbang. Hanya beberapa saat kemudian mobil telah berada di dekat mereka.
"Apa tuan ingin kami setirkan?" tanya Alvaro.
"Saya akan menyetir sendiri saja," tolak Antonio, lalu kunci mobil diberikan padanya. Dia membukakan pintu untuk wanitanya dan memasangkan sabuk pengaman.
Gerbang telah di buka oleh satpam tadi, mobil Antonio langsung keluar. Jalanan malam sungguh sunyi, gelap temaram. Antonio melirik wanita disampingnya yang tengah menatap keluar kaca jendela.
"Bisakah kita ke kost'an ku," ujar Khanza menatap Antonio dan langsung diberi anggukan.
Mobil pun meluncur menuju alamat kost'an Khanza. Memang barang-barang Khanza masih berada di kost'an, bahkan ponselnya berada disana.
Sampai didepan rumah kost'an, mereka berdua segera turun. Kebetulan sekali saat mereka ingin menaiki tangga menuju ke kamar kost'nya seseorang keluar dari dalam kamar kost dekat wc. Orang itu adalah Lestia, perempuan yang Khanza anggap seperti kakaknya sendiri.
"Khanza!" pekik Lestia berseru.
"Mba Lestia," balas Khanza.
Keduanya pun saling berpelukan melepas kerinduan mereka.
"Aku baik-baik aja mba, kemarin aku dirumah sahabatku," ucap Khanza.
"Terus yang disamping kamu siapa?" bisik mba Lestia bertanya.
"Ayahnya sahabatku mba," bisik Khanza balik, tetapi masih bisa di dengar oleh Antonio yang berada di sampingnya.
"Ehem! Bisakah kita cepat," dehem Antonio berkata singkat.
"Nza apa kamu masih ingin bekerja di toko roti? Bu Kirana nyariin kamu terus? Mba terpaksa bilang kalau kamu masih sakit, bu Kirana juga ingin menjenguk kamu tapi mba selalu mencari alasan agar bu Kirana tidak jadi menjenguk,"
Sebelum menjawabnya, Khanza menatap pria di sampingnya. Antonio memberikan gelengan bahwa ia tidak menyetujui jika Khanza kembali bekerja. Khanza memikirkan kandungan yang masih lemah, dia takut apabila dibawa bekerja takut terjadi apa-apa sama kandungannya. Akhirnya dia memberikan gelengan.
"Maaf mba sepertinya aku akan berhenti bekerja dulu. Apalagi sebentar lagi aku bakalan ujian kelulusan, takut malah ke ganggu belajarnya," bohong Khanza.
"Tidak pa-pa nza, mba mengerti nanti mba akan beritahu bu Kirana. Kamu yang semangat ya belajarnya, semoga lulus dengan nilai terbaik," ucap mba Lestia memberi semangat.
Khanza tersenyum, 'Maaf mba aku bohong, aku tidak bisa cerita yang sebenarnya aku alami,'
"Kalo gitu mba mau kebawah dulu," pamit mba Lestia.
"Tunggu sebentar mba," sergah Khanza. Dia pun memberikan amplop berisi uang pada Lestia.
"Apa ini?" tanya mba Lestia.
"Aku titip uang kontrakan ya mba, sekalian aku juga mau pamit sama mba," kata Khanza.
"Pamit?" bingung Lestia.
"Aku mau pindah mba! Mba tenang saja aku sudah dapat kontrakan baru yang dekat sekolahan," ujar Khanza.
"Baiklah! Nanti akan mba berikan pada ibu kost. Kamu jaga diri baik-baik ya. Kalau butuh bantuan datanglah pada mba, mba akan bantu kamu," ujar mba Lestia sedih dan kembali memeluk Khanza terakhir kalinya. Karena sebentar lagi mereka akan sangat jarang bertemu.
"Mba juga baik-baik ya," ucap Khanza.
Setelah itu mereka berpisah, Lestia turun kebawah dan Khanza masuk ke dalam kamar kost.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓