
Saat ini Khanza sudah berada di dalam kantor Antonio. Ketika ingin memasuki lift bersamaan dengan beberapa karyawan lainnya.
Satya assisten kepercayaan Antonio yang baru saja keluar dari lift khusus petinggi perusahaan tak sengaja matanya melihat sosok wanita dikenalnya yang tak lain adalah Khanza, istri bossnya.
“Nona,” seru Satya sambil berlari mendekati Khanza untuk memastikan orang yang dilihat benar nona atau bukan.
Khanza yang mengenali suara orang memanggilnya langsung menengok ke belakang.
“Paman Satya,” sapaku.
Sebelum berbicara Satya menarik nafas, lalu menghembuskannya. Laki-laki itu kini berhadapan dengan istri bossnya.
“Nona kenapa tidak bilang ingin kesini dan tadi mengapa nona memilih untuk naik lift khusus karyawan. Ini kalau sampai tuan tahu, tuan pasti akan memarahi para karyawan karena membiarkan istrinya naik menggunakan lift khusus karyawan,” tukas Satya dengan wajah paniknya.
Khanza yang mendengar perkataan assisten suaminya malah tertawa, “Paman tidak usah panik begitu, mas Nio tidak akan memarahi siapapun itu, karena aku sendiri yang akan menjaminnya. Jadi paman tak usah khawatir,” tuturnya.
“Baiklah saya percaya itu nona, tapi siapa yang mengantar nona kesini? Apalagi sampai tak mengawasi nona masuk ke kantor ini,” ujar Satya mencari seseorang dengan melihat sekitarnya. Tetapi tidak menemuka siapapun yang tengah bersama nonanya.
“Tadi aku sama Alesha diantar sama paman Alvaro,” jawabnya.
“Lalu dimana Alvaro?”
“Mereka aku suruh pulang paman.”
“Astaga nona, mengapa tidak mengantar nona sampai ke ruangan tuan dulu baru pulang,” ucap Satya kesal dengan bodyguard tuannya itu.
“Aku sendiri yang meminta mereka langsung pulang paman, lagian aku dan Alesha tidak kenapa-napa paman,” ucapku terkekeh, karena assisten suaminya sangat berlebihan.
“Yasudah nona, mari saya antarkan ke ruangan tuan,” ujar Satya mempersilahkan nona berjalan terlebih dulu di depannya.
“Memang tidak merepotkan paman?”
“Sama sekali tidak nona, sini biar saya saja yang membawakan paper bagnya.” Satya mengambil paper bag di tangan Khanza. Karena mereka sudah berada di dalam lift Satya memijit angka 34.
“Siang nona Khanza,” sapa Nada sopan pada istri bossnya.
“Siang juga kak Nada,” balesku. Karena Nada memang terbiasa memanggilnya ‘nona’, padahal sudah berkali-kali ia meminta agar tak usah dipanggil seperti itu.
Paman Satya membantu membukakan pintu ruangan Mas Nio, begitu aku masuk bersama Alesha pemandangan pertama kali yang ku lihat adalah suamiku yang tengah fokus dengan laptop diatas meja kerjanya dan belum menyadari keberadaan mereka berdua.
Ketika paman Satya ingin membuka suara, aku dengan cepat mencegahnya.
“Paman makasih ya sudah mengantarkan kami sampai ke ruangan mas Nio,” ucapku.
“Kalau begitu saya keluar dulu.” Khanza mengangguk sebagi jawaban.
Setelah Satya keluar, Khanza menurunkan princess dari gendongannya dan membiarkan anak balita itu melangkah mendekati sang daddy yang sangat fokus terhadap laptopnya. Semantara Khanza mengeluarkan tupperware rantang dalam paper bag.
“Dad da,” coleteh princess disamping kursi daddynya.
Seketika mendengar suara anak kecil, Antonio langsung menoleh dan betapa kagetnya pria itu menemukan princess berada di samping kursi sambil tertawa lucu.
“Loh princess daddy kok bisa ada disini.” Antonio pun mengangkat putrinya kepangkuannya.
“Sama siapa kesini sayang?” Tanya Antonio masih belum menyadari keberadaan istrinya di sofa yang berada di dalam ruangannya.
“Cama mymomy.” Telunjuk kecil mengarah pada Khanza yang tengah mempersiapkan makan siang.
Antonio menutup laptopnya dan beranjak dari kursi menghampiri istrinya.
“Honey! Kesini kenapa ngga ngasih tau mas dulu,” ujarnya.
“Sengaja mas,” jawabnya singkat.
“Lalu siapa yang mengantar kalian kesini?”
“Paman Alvaro, tapi tadi udah aku suruh pulang duluan.”
Antonio mangut-mangut mengerti, lalu dirinya mendudukan pantat di sofa panjang.
“Dad da ain.”
“Bentar daddy ambilkan mainannya dulu.” Antonio memindahkan putrinya agar duduk di sofa.
“Mas makan aja, biar aku yang mengambilkan mainan princess,” sergah Khanza. Antonio pun tak jadi melangkah dan kembali duduk di tempatnya.
“Honey kamu sudah makan?” Khanza mengangguk. Tadi pagi sepeninggal Antonio, Bi Inahya mengantari sarapan ke kamarnya.
“Sekarang mas makan ya, aku mau ke kamar dulu.”
Khanza sudah menyiapkan makanan untuk suaminya, tinggal di makan saja lagi. Lalu ia melangkah masuk ke dalam kamar dalam ruangan suaminya mengambil mainan princess yang memang sengaja ditinggal, supaya ketika mereka berada di kantor princessnya tak merasa bosan.
****