
Dirumah sakit Khanza merasa kebosanan dan ingin cepat-cepat pulang ke kost'an. Apalagi sudah beberapa hari ini dia tidak masuk kerja, untunglah mba Lestia sudah mengijinkannya pada bu Kirana. Bossnya itupun berbaik hati mengijinkan untuk istirahat saja dirumah sampai sembuh, bahkan tidak diberi batasan waktu.
Khanza beranjak dari ranjang rumah sakit. Ia tidak tahan rasanya berada didalam terus, dengan pelan-pelan berjalan sambil memegang infusnya.
'Ceklek' Pintu sudah terbuka. Khanza terkejut mengetahui jika didepan pintunya ada dua orang berbaju hitam tengah berjaga. Dari tampang mereka seperti bodyguard.
"Maaf nona, anda tidak boleh keluar," larang salah satu bodyguard yang bernamtag Alvaro.
"Apa hak anda melarang saya keluar," dengus Khanza kesal terhadap kedua bodyguard yang menghalanginya saat ingin keluar.
"Maaf nona, kami hanya menjalankan perintah tuan Antonio," ucap bodyguard yang bernamtag Eduard.
Mengetahui siapa dalang dari semua ini, membuat Khanza tidak heran lagi. Antonio sebenarnya hanya berjaga-jaga, takut Khanza kabur.
Khanza pun memaksa tetap ingin keluar, kedua bodyguard berusaha menghalanginya.
"Kalian bisa tidak sih menyingkir," kata Khanza bersuara sedikir keras.
"Tidak bisa nona," sahut kedua bodyguard tersebut.
"Pleasee... Aku hanya ingin ketaman, aku janji tidak akan kabur," mohon Khanza, tetapi kedua bodyguard menggeleng tidak memperbolehkannya.
Khanza tetap bersikeras ingin pergi ke taman dan kedua bodyguard tersebut tetap menghalanginya.
.
.
Dimansion Antonio terbangun dari tidurnya. Ia melihat kesampingnya, ternyata Rhea masih tertidur. Dengan pelan Antonio bangkit dari tidurannya agar Rhea tidak terbangun.
Antonio keluar dari dalam kamar Rhea, membiarkan putrinya yang masih terlelap. Sangat pelan membuka engsel pintu, melangkah menuju ke kamarnya untuk membersihkan dirinya.
Selesai mandi, Antonio bersiap memakai baju santai. Dia melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul empat sore. Antonio berpikir untuk memasakan Khanza, sebelum ke rumah sakit.
Melangkah keluar menuju ke dapur bawah. Di dapur terlihat Bi Inahya sedang memasak. Antonio pun menghampiri Bi Inahya.
"Ehh! Tuan, mau ngapain didapur," ujar Bi Inahya.
"Saya mau masakan makanan spesial buat seseorang bi, cuman saya bingung mau masakan makanan apa?" bingung Antonio.
"Memangnya orang spesial itu suka makanan apa tuan? Nanti biar bibi bantu,"
"Bingung bi, tetapi saya rasanya ingin masakan nasi goreng saja,"
"Bahan-bahannya apa saja bi?"
Bi Inahya pun menyiapkan bahan-bahannya. Lalu membantu mengupas bawang saja. Selesai itu dilanjutnya Antonio yang mengiris bawang menjadi tipis dan kecil. Lalu memasukan ke dalam wajan panas, saat tercium bau harum. Ia memasukan telor, baru sosis, dan terakhir adalah nasi.
"Tuan, jangan lupa masukin garam sama veksin. Bumbu nasi goreng juga," Bi Inahya memberitahu saja, karena tuannya tidak ingin dibantu lagi.
Antonio memasukan garam dan veksin ke dalam nasi gorengnya. Tidak lupa bumbu nasi gorengnya pun ia masukan. Tidak tanggung-tanggung Antonio memasukan semuannya tanpa tersisa sedikitpun bumbu nasi goreng itu.
"Hem, harumnya," Antonio mencium nasi gorengan yang sudah begitu harum. Lalu mematikan kompernya, bahkan di tidak mencoba dulu nasi gorengnya sudah pas belum rasanya. Menurutnya jika sudah tercium harus, berarti nasi gorengnya enak.
"Bi, saya minta tolong ambilkan wadah buat naruh nasi gorengnya," pinta Antonio. Bi Inahya mengambilkan wadah tupperware didalam lemari.
"Ini tuan wadahnya! Oh ya, apa nasi gorengnya sudah tuan coba," ujar Bi Inahya.
"Tidak perlu di coba bi, karna saya yakin nasi gorengnya sudah pasti enak," kata Antonio bersemangat.
Bi Inahya hanya mengganguk, walaupun sebenarnya tidak yakin. Jika masakan tuannya enak, itu sangat mustahil. Karena Bi Inahya tahu, bahwa tuannya tidak bisa memasak.
"Sini tuan biar bibi saja yang pindahin, mending tuan siap siap saja," Bi Inahya memindahkan nasi goreng tersebut ke dalam wadah tupperware.
Sedang Antonio bersiap-siap didalam kamarnya. Lalu setelah selesai, balik turun lagi kedalur.
"Sudah selesai bi?" tanya Antonio.
"Sudah tuan, itu bibi taroh tupperware diatas meja makan,"
"Makasih ya bi, udah bantuin saya,"
"Tidak perlu berterimakasih tuan, karena itu memang sudah tugasnya bibi,"
"Yaudah bi, saya mau berangkat dulu. Nanti kalau Rhea mencari saya, bilang saja kekantor. Tidak usah menunggu saya saat makan malam, karna mungkin saya akan pulang larut," pesan Antonio. Bi Inahya mengangguk saja.
****
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓