My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Season 2. 47



Ruangan Antonio sudah seperti kapal pecah akibat ulah princess. Bagaimana tidak, semua mainan anak balitanya berhamburan dimana-mana. Semantara anak balita itu malah tertidur lelap di pangkuan ibunya dengan menyusu sambil pantatnya di timang.


“Princess kita sudah tidur honey?” Tanya Antonio yang berada di kursi kerjanya.


“Iya mas, mau aku pindahin ke kamar. Biar tidurnya nyaman.” Khanza beranjak, melangkah menuju kamar dan membaringkan princess di ranjang dengan penuh kehati-hatian supaya tidak terbangun. Jika bangun, princessnya akan rewel karena tidurnya hanya sebentar.


Khanza memutuskan untuk keluar dari dalam kamar untuk menemani suaminya. Tetapi tak lupa pintu kamarnya tidak akan ditutup agar jika princess kebangun menangis suaranya akan kedengaran.


“Masih banyak kerjaannya mas?” Tanya Khanza yang sudah berada di belakang suaminya sambil memeluknya.


“Sebentar lagi selesai honey, princess ngga papa kamu tinggal sendiri dalam kamar,” ujar Antonio.


“Ngga papa mas, pintu kamarnya juga aku buka,” ucapnya.


“Mas mau aku pijitin?”


“Boleh honey.”


Khanza menyentuh bahu Antonio dan memberikan pijitan agar suaminya itu sedikit relax dengan kerjaannya.


Hampir 15 menitan Khanza memani Antonio bekerja, akhirnya pekerjaan suaminya itu selesai juga.


“Honey kita pulangnya nanti saja, lebih kita istirahat dikamar. Mas juga tahu pasti kamu capek banget habis mijitan mas dan nemani mas kerja,” kata Antonio, lalu dengan tiba-tiba menggendong Khanza ala bridal style dan membawanya ke ranjang.


“Mas kamu ngagetin aku aja, kenapa pake gendong segala sih mas. Aku kan bisa jalan sendiri tau,” omel Khanza.


“Iya mas tahu honey, hanya saja mas ingin menggendong mu,” kekeh Antonio.


“Sebaiknya kita istirahat ya, ngomelnya dilanjut nanti saja. Nanti princess kita kebangun mendengar omelan mommynya.” Sambung Antonio melanjutkan perkataan sebelum istrinya mengomelinya kembali.


Khanza akhirnya mengalah dan membenarkan perkataan suaminya. Jika dia terus mengomel yang ada nanti princess kesayangannya kebangun. Keduanya pun memejamkan mata, sampai ikut terlelap bersama princess.


***


“Myomy angun.” Queen membangunkan mommynya dengan menepuk pelan pipinya.


Merasakan sebuah tepukan di pipinya, membuat Khanza mengerjapkan matanya dan ketika matanya terbuka yang dilihatnya pertama kali adalah wajah princessnya yang tertawa menampakan gigi susu.


“Eung princess! Ada apa sayang?” Gumannya pelan.


“Sini sayang bobo lagi.” Anak balita itupun berbaring dengan lengan mommynya sebagai bantalan.


Sepuluh menit kemudian Queen menyudahi menyusunya. Khanza beranjak dari ranjang dan membuka gorden, ternyata hari sudah petang. Barulah Khanza melihat kearah jam dinding yang menunjukkan pukul 17:50, sepuluh menit lagi memasuki jam enam, artinya sebentar lagi maghrib.


Khanza melangkah mendekati ranjang duduk ditepian, dimana disana suaminya masih tertidur lelap. Khanza tersenyum memperhatikan garis wajah suaminya, walaupun umurnya sudah kepala empat tapi wajahnya tidak menunjukkan seperti umurnya.


“Dad da angun angun,” seru anak balita itu nyaring menaiki perut daddynya sambil mengangkat pantatnya dan menghempaskannya ke perut daddynya.


Antonio terlonjak kaget, matanya seketika terbuka. Saat ingin mengeluarkan suaranya untuk memarahi orang yang membuatnya kaget. Tetapi tak jadi, karena melihat tawa princessnya yang begitu lucu.


“Angun dad da, uin au puyang.” Tangan kecilnya memukul perut daddynya.


“Sabar princess sayang, daddy baru bangun loh nak.” Khanza mengangkat princess dari perut Antonio.


Setelah princess tidak diangkat oleh Khanza, Antonio langsung bangun dan bersandar di kepala ranjang sambil mengucek matanya.


“Jam berapa sekarang honey?”


Khanza melihat kearah jam didinding lagi, saat suaminya bertanya.


“Jam enam lewat sepuluh menit mas,” sahutnya.


“Myomy au puyang.” Queen membrontak di gendongan Khanza dan terus berkata meminta pulang.


“Mas, seperti princess rewel. Kayaknya princess mulai ngga betah dan pengen ketemu abang-abangnya,” kata Khanza berbicara pada suaminya yang masih mengumpulkan nyawa di atas ranjang.


“Sebentar honey, mas cuci muka dulu. Baru kita pulang.” Antonio beranjak dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya agar lebih segar.


Keluar dari kamar mandi Antonio sudah terlihat lebih segaran.


“Ayo honey kita pulang,” ajak Antonio, mereka segera keluar dari ruangan menuju lantai paling bawah.


Suasana kantor sudah terlihat sangat sepi, hanya ada beberapa karyawan yang masih bekerja, karena perkerjaan mereka yang belum selesai membuat mereka harus lembur sampai malam.


Mobil Antonio sudah dibawakan oleh satpam ke depan kantornya. Setelah dibukakan pintunya, mereka bertiga langsung masuk ke dalam mobil dengan Antonio yang mengemudikannya sendiri.


****