My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Season 2. 51



Di negara lainnya seorang wanita tengah sibuk mempersiapkan kepulangan ke Indonesia.


“Mama, kita mau kemana. Kok bawa kopel banyak banget?” Celoteh si kecil Raffa yang cadel, belum bisa menyebut huruf R dengan benar.


“Kita mau pulang ke Indonesia sayang,” jawab Rhea.


“Wahh asik, laffa lindu aunty uin,” ucapnya penuh bersemangat.


“Uhh anak mama sepertinya tak sabar mau bertemu aunty queen ya.”


“Iya mama, pasti aunty uin cantik banget.”


“Yasudah sekarang anak mama yang pinter dan ganteng ini bobo dulu. Karena besok kita berangkatnya pagi.” Rhea meninggalkan pekerjaan berberes sebentar dan menggendong putranya membawanya ke ranjang. Lalu menidurkan disana, sebelum menlanjutkan kembali pekerjaan dia memastikan bahwa putra sudah benar-benar pulas tidurnya.


Setelah itu Rhea kembali lagi menlanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


‘Hoam’ beberapa kali sudah dirinya menguap, matanya juga berairan. Kantuk menyerangnya, tetapi dia masih mempertahankan matanya agar tetap terjaga, packingannya juga hampir selesai.


‘Ceklek’ Betepatan sekali suami masuk, packingannya pun selesai.


“Loh sayang kamu kok belum tidur?” Tanya Leo menghampiri istrinya.


“Belum mas, tapi ini mau tidur kok,” jawab Rhea dan berdiri. Mengambil piyama untuk suaminya di walk-in closet.


“Ini kamu packing sendiria yank?”


“Iya mas, memangnya kenapa mas?”


“Sayang kenapa ngga bilang sama mas, mas kan bisa bantuin kamu.” Leo bicara sambil mengganti bajunya.


“Ngga papa mas, aku masih bisa membereskan sendiri. Lagian aku juga tau pasti mas sibuk banget ngurusi kepulangan kita ke Indonesia dan perusahaan.”


“Tapi mas masih bisa sayang bantuin kamu, mas malah ngga tega liat kamu sendirian beresan ini.”


“Udah mas ngga papa, mendingan kita tidur yuk. Besok kita harus ke bandara pagi kan?” Leo mengangguk dan Rhea menggandeng tangan suaminya membawanya ke ranjang.


***


Mansion Horison,


Ditengah-tengah sarapan pagi, terdengar suara adik kakak bertengkar.


“Abang pinjam iphone nya, queen mau juga main game itu.”


“Ngga, abang masih mau main game ini juga.”


“Gantian abang, queen juga mau nyobain main gamenya.”


“Abang bilang ngga ya, NGGA!!” Mendengar suara keras abangnya membuat Queen menunduk takut.


“Rey kecilkan suara mu.” Arcell bersuara lantang yang baru keluar dari dalam lift dan mendengar suara keras adiknya membentak princess kesayangannya. Ya Reylah yang beradu mulut dengan Queen sampai mengeluarkan suara kerasnya.


Perlahan-lahan Queen memilih menghindar dari keduanya, gadis itu juga ketakutan mendengar suara lantang abang pertamanya. Jadi gadis memilih berlari kearah daddynya yang berada di meja makan.


Antonio yang mengerti dan mengetahui penyebab dari princessnya menjadi seperti ini. Karena dia mendengar suara keributan, tadinya dia berpikir jika kedua anaknya hanya beradu mulut seperti biasanya setiap ingin sarapan pagi. Tetapi saat mendengar suara keras Rey membuatnya sangat kaget dengan putra keempatnya itu. Diapun mengangkat princessnya dan mendudukan dipangkuannya.


“Mommy, queen boleh minta susu,” pinta pada mommy yang masih mengoleskan selai roti. Khanza segera memberi putrinya susu dan membantu meminumkannya, dia tahu tangan putrinya bergetar.


Khanza menatap mata suaminya yang seperti menahan kemarahan agar tidak kelepasan dihadapan princessnya. Karena itu malah akan menambah ketakutan princess mereka.


“Sabar mas, aku juga mendengarnya tadi. Biarkan Arcell yang bicara dengan Rey,” bisik Khanza di telinga suaminya.


Antonio mengangguk sebagai jawabannya. Antonio percaya dengan putra pertamanya bisa mengurusnya. Sekarang dia akan menenangkan princessnya saja.


“Mom, aku udah selesai sarapannya. Aku mau ke depan dulu,” ucap Ghani segera melangkah mendatangi abang dan adiknya untuk mengetahui apa yang sedang dibicarakan kedua orang itu.


Khanza tahu bahwa Ghani putranya yang tak banyak bicara itu tampak marah. Tetapi Khanza hanya diam saja, memang seperti itulah putra-putranya tidak pernah terima jika princess mereka dibentak.


“Mommy abang Arsen kemana?” Tanya Queen mencari abang keduanya. Karna tak melihat keberadaan abangnya sedari tadi.


“Oh itu sayang, abang mu bermain bola basket bersama teman-teman sekolahnya,” jawab Khanza lembut.


Queen hanya ber ‘oh’ ria saja...


“Princess daddy mau disuapin!” Queen mengangguk dipangkuan daddynya.


“Ini mas roti buat princess,” ucap Khanza memberikan roti khusus untuk princessnya.


Antonio menyuapi princessnya dengan roti yang telah disiapkan oleh Khanza khusus untuk princessnya. Queen menerima suapan demi suapan dari daddynya, sampai sarapannya habis tanpa tersisa.


“Mom, queen boleh minta gendong sama mommy,” ucapnya masih mempertahankan agar tak menangis.


Khanza dengan cepat mengangguk dan segera mengangkat putrinya ke dalam gendongan. Wanita itu tahu bahwa putrinya ingin menangis dipelukannya sekarang.


“Daddy, queen mau berdua sama mom.”


“Tapi sayang.”


“Mas, tinggalkan kami berdua dulu,” sergah Khanza meminta suaminya meninggalkan mereka berdua. Khanza paham bahwa putrinya sekarang hanya ingin bersamanya.


“Yasudah daddy tinggal dulu.” Antonio berdiri dari kursinya sebelum melangkah pergi dia mencium pipi princessnya terlebih dulu. Barulah melangkah mendatangi putranya di lantai atas.


****


Follow ig aku yuk guys : @dianti2609


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓