
"Menikahlah dengan saya,"
Lamaran dadakan itu membuat Khanza shock. Bahkan sekarang keduanya saling menatap dan tiba-tiba saja Khanza menggeleng, melepaskan tangannya dari genggaman Antonio.
"Maaf om, aku ga bisa terima lamaran ini," tolak Khanza.
"Kenapa kamu menolaknya?"
"Karena aku tidak bisa menjadi wanita jahat yang mengambil suami orang,"
"Saya tidak mempunyai istri,"
Khanza menatap tidak percaya dengan perkataan Antonio.'Apa pria ini sudah gila tidak mengakui tante Laura sebagai istrinya,' batinnya.
"Saya sudah bercerai dengan Laura... Ada sesuatu yang belum bisa saya jelaskan sekarang... Satu hal perlu kamu ketahui Laura pergi ke negara lain meninggalkan Rhea. Tetapi sayang pesawat yang ditumpangi terjatuh," jelas Antonio. Khanza menutup mulutnya.
"Bagaimana bisa?" tanya Khanza.
Antonio menjawab dengan menghendikkan bahunya."Para korban masih dalam pencarian,"
"Apa masih belum ada kabar," pertanyaan Khanza mendapat gelengan dari Antonio.
"Mari kita menikah," ajak Antonio lagi mengulang lamarannya tadi.
"Pikirkan bayi kita! Jangan egois Khanza," hardik Antonio.
"Aku tidak bisa menikah dengan lelaki yang tidak aku cintai dan sebaliknya tidak mencintaiku," kata Khanza mencoba menolak dengan memberikan alasan logis.
"Kita bisa mencoba pendekatan satu sama lain," Antonio mengambil tangan Khanza kembali dan membawa ke dadanya.
"Apa kamu merasakannya," Antonio bertanya, Khanza mengangguk bahwa dia merasakannya."Saya tidak tahu, setiap kali didekat kamu jantung ini selalu berdetak kencang dan pikiran saya selalu mengkhawatirkan keadaan kamu," ucapnya.
"Jadi saya mohon hilangkan keegoisan kamu, pikirkan bayi kita," pinta Antonio membawa tangannya ke perut Khanza.
"Tapi om-..."
"Khanza dengerin saya! Kita bisa belajar saling mencintai," Antonio menyela kalimat yang akan diucapkan Khanza.
"Tapi gimana dengan Rhea," telak Khanza.
"Nanti saya akan menjelaskan pada Rhea," ucap Antonio.
Khanza mengangguk, sebenarnya ia juga tidak bisa membohongi hatinya yang mulai merasakan sesuatu jika berdekatan dengan pria didepannya ini. Tetapi dia juga tidak ingin disebut penyebab perceraian Antonio dengan Laura. Walaupun sebenarnya itu tidak benar, tapi tetap saja nantinya semua orang akan berpikir seperti itu.
Setelah mendapatkan jawaban dengan anggukan. Antonio sudah bisa mengartikan jika gadisnya menerima lamarannya. Karena saking bahagianya, tanpa sadar Antonio mencium kening Khanza dengan sangat lembut dan penuh cinta. Kemudian tatapan Antonio mengarah pada bibir tipis itu. Perlahan Antonio mencium mata, hidung dan terakhir ciumannya jatuh di bibir Khanza. Mengecup bibir itu penuh kelembutan, dia sangat menikmatinya.
Begitupun juga Khanza menikmati sentuhan bibir Antonio. Membuatnya hanya bisa memejamkan mata merasakannya.
Sedang Antonio pergi sedikit menjauh untuk mengangkat telpon yang ternyata dari Rhea.
"Hallo re, ada apa?"
".........."
"Daddy masih ada urusan, sebentar lagi daddy pulang, kamu mau dibawakan apa?"
".........."
"Yaudah kalau tidak ada, daddy tutup telponnya,"
Tutt..tutt!
Antonio memutuskan sambunga telpon dan kembali mendekat kearah Khanza.
"Kamu belum makankan, biar saya suapin," ucap Antonio ingin menyuapi. Tadi saat dirinya menerima telpon suster datang membawakan sarapan.
Khanza mengangguk, Antonio mengambil mangkuk yang berisi bubur diatas nakas. Dengan telatennya menyuapi Khanza hingga saat suapan ketiga Khanza merasakan perut menjadi tidak enak.
"Om, bisa bantu aku ke toilet," lirih Khanza tidak tahan lagi ingin memuntahkan sesuatu.
Antonio segera berinisiatif menggendong Khanza dan membawa ke toilet. Lalu tepat di closet ia menurunkannya.
"Hueekk...Hueekk." setelah diturunkan Khanza langsung memuntuhkan bubur yang telah dimakannya tadi. Dibelakangnya ada Antonio dengan siaga menahan tubuhnya agar tidak limbung dan mengurut tengkuknya.
Selesai muntah, tubuh Khanza terasa sangat lemas dan tidak berdaya untuk sekedar berjalan. Terpaksa dirinya harus menerima digendong kembali oleh si ayah bayinya.
"Saya panggil dokter ya, buat periksa keadaan kamu," ucap Antonio, lalu memencet tombol yang berada didinding dekat ranjang rumah sakit yang ditempati Khanza.
"Bangun dulu!" Antonio mengangkat bahu Khanza dengan penuh kelembutan lalu mengambil gelas yang sudah terisi air putih didalamnya. Meminumkannya pada Khanza, ia memegangi gelas tersebut karena paham akan kondisi Khanza yang terlihat begitu lemas akibat muntah-muntah.
Antonio benar-benar tidak tega melihat keadaan Khanza. Sungguh jika bisa biarlah dia yang merasakannya itu.
****
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓