My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Episode 123



Satu minggu kemudian...


Tak terasa sudah satu minggu Khanza berada di mansion. Ia terbangun saat merasakan area dadanya sepertinya basah. Hanya bisa menghela nafas dengan kelakuan suaminya, bagaimana tidak geleng-geleng kepala, tadi malam mas Nio entah kenapa ikut-ikutan mau merasakan sesuatu yang di minum oleh twins. Sampai memelas, membuat Khanza tak tegaan, jadinya ia memberikan dan sambil berbaring hingga tertidur. Bahkan saat ini Antonio belum melepaskannya juga, terpaksa ia harus berusaha untuk itu.


"Akhirnya... Lega juga rasanya," ucap Khanza menghembuskan nafas perlahan.


Ia beranjak dari tempat tidurnya untuk melihat Arcel dan Arsen di box bayi yang terpisah. Box sama besarnya bahkan warnanya juga sama.


"Hai baby twins mommy, tampan banget sih twinsnya mommy," sapa Khanza, ia menciun kedua pipi lembut twins tampannya.


Sungguh ia tak pernah menyangka sudah melahirkan dua anak kembar sekaligus. Tidak terbayangkan oleh ku menjadi seorang ibu di usia yang masih terbilang sangat muda, tetapi aku bersyukur atas kebahagian yang aku rasakan ini. Awalnya terjadi karena sebuah kesalahan aku dan mas Nio, dimana aku bersikeras menolak untuk menikah dengan mas Nio. Pada saat itu aku tak ingin merusak rumah tangga orang, entah gimana caranya mas Nio selalu menyakinkanku bahwa dirinya sudah bercerai. Dan akhirnya aku menikah juga dengannya.


Mengingat itu Khanza menjadi tersenyum-senyum dengan dirinya yang sangat keras kepala.


"Kenapa aku jadi malah keingat masa-masa itu," Khanza segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, nanti baru ia memandikan twins. Satu minggu belajar mengurus bayi dari mertuanya membuat sedikit paham dan tahu caranya.


Lima belas menit kemudian Khanza baru saja menyelesaikan mandinya. Melihat jam dinding baru menunjukkan pukul 06.10 pagi, tadi ia bangun jam 05.45.


Khanza dengan cepat berpakaian dan tak lupa mengeringkan rambutnya yang baru habis di keramas. Karna sebentar lagi twins bakal bangun.


Oweekk.. oweek..


Terdengar tangisan twins di telinga Khanza, bertepatan sekali dirinya yang sudah menyelesaikan rutinitasnya di depan cermin.


Ternyata yang menangis adalah Arsen, sedangkan Arcel masih anteng walapun matanya terbuka. Khanza segera mengangkat Arsen ke dalam gendongannya dan membawanya ke ranjang untuk menyusuinya, karna Arcel anteng di dalam box jadi ia biarkan dulu.


Selesai memberi asinya, Khanza beralih menatap suaminya yang belum terbangun juga. Karna ia juga tak bisa juga memandikannya sendiri, selalu Antonio atau tidak Rhea dan mama mertuannya membantunya memandikan twins.


"Mas, bangun bantuin aku mandiin twins," Khanza menggoyangkan lengan Antonio agar terbangun.


"Morning," ketika Antonio ingin mencium Khanza, dengan cepat tangan Khanza menutup mulut Antonio.


"Disini ada Arsen mas, jangan aneh-aneh. Ayo sekarang bantuin aku memandikan twins," katanya.


Antonio turun dari ranjang, mengangkat Arcel ke dalam gendongannya. Antonio merasa bahwa Arcel anak yang sedikit pendiam, mungkinkah nantinya sifat Arcel lebih dominant mengikutinya.


Sepuluh menit kemudian kedua baby twins telah rapi dan harum.


"Hari ini mas ke kantor atau ngga?" tanya Khanza, karena jika tidak ia akan menyiapkan baju santai saja.


"Sepertinya tidak sayang, mas mau di rumah aja menghabiskan waktu bersama kamu dan baby twins."


"Yaudah kalau gitu aku siapin baju santai aja buat kamu pakai."


Antonio mengangguk dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Khanza mengambil handphone untuk menghubungi Rhea agar ke kamarnya.


"Halo re, ke kamar mom bentar.. Mom butuh bantuan kamu,"


"Iya mom, re lagi berpakaian, sebentar lagi selesai,"


"Okey sayang mom tunggu."


"Siapa yang nelpon sayang?" tanya Antonio, sontak saja membuat Khanza terkejut kemunculan suaminya yan tadi baru saja masuk ke kamar mandi dan tiba-tiba saja sudah berada di luar.


"Mas, kebiasaan kagetin aja...


Ini tadi aku nelpon Rhea buat ke kamar bantuin gendong twins buat turun ke bawah.."


"Kok mas keluar cepat banget, perasaan tadi baru masuk kamar mandi," Khanza sedikit heran melihat suaminya.


"Ouh ini mas melupakan sesuatu," ucap Antonio, membuat Khanza menaikan keningnya bingung.


"Apa mas? Biar aku bantuin," kata Khanza.


'CUP' dengan secepat kilat Antonio mencuri morning kiss dari istrinya.


"Mas melupakan itu honey," seru Antonio sudah berada di depan pintu dan langsung masuk ke dalam mengunci pintunya.


"Dasaar suami mesum," sungut Khanza, karna kesal mulutnya jadi sedikit tak terkontrol menyebutnya. Tetapi dengan suara pelan, ia tak ingin membuat twinsnya menangis hanya gara-gara teriakannya.


"Mom kenapa, keliatan kesal gitu," ujar Rhea yang kini berada di hadapanya, tanpa di sadari oleh Khanza.


"Hey mom?"


"Loh re, kamu disini dari kapan?" malah Khanza bertanya balik.


"Emm.."


"Ouh iya tadi mom minta bantuan apa?"


"Ini tolong bantuin mom gendong twins buat turun ke bawah."


"Twins udah ganteng aja ni," Rhea menciumi twins bergantian sebelum menggendong salah satunya.


Dert... dert...


Handphone Khanza yang berada di tangannya berdering, munculah nama 'Bunda Kirana'. Khanza langsung mengangkatnya.


"Assalamualaikum bun,"


"Waalaikumsalam nza,"


"Ada apa bun menelpon?"


"Begini sayang, ayahmu mengajak bunda bertemu ibunya. Rencana bunda mau mengajak kamu sama Antonio, apa kalian bisa sayang?"


"Aku senang dengarnya bun, nanti aku bilang sama mas Nio. Kebetulan juga hari ini mas Nio lagi ngga ke kantor. Jam berapa kesananya bun?"


"Nanti jam 10 an, bunda sama ayah jemput kalian biar barengan kesananya,"


"Okey deh bun,"


"Iya sayang, sampai bertemu nanti,"


Panggilan pun berakhir...


Khanza tersenyum senang, hatinya jadi berdegup kencang mau bertemu oma, ibu dari ayah Adit.


"Re kamu ke kampus ngga hari ini?"


"Masuk sih mom, tapi agak siangan,"


"Mom titip twins bisakan?"


"Memangnya mom mau kemana,"


"Tadi bunda Kirana nelpon mom, katanya hari ini mau ketemu ibunya ayah Adit. Tapi bunda ngajakin mom sama dad kesananya, gimana bisakan?"


"Emm, bisa bisa mom.. Tenang aja nanti re jagain twins dengan baik,"


"Makasih sayang,"


Mereka berdua sudah sampai di bawah dan terlihat Bi Minah berkutat di dapur menyiapkan sarapan pagi bersama mama Erina yang ikut membantu.


"Pagi mah,"


"Pagi oma,"


"Ehh, iya pagi juga cucu oma dan mantu mamah.. Pagi juga buat cucu twins tampan oma," Erina mencium baby twins bergantian.


"Mah, biar aku bantuin ya," ujar Khanza.


"Ngga usah nza, mending kalian duduk," suruh Erina. Lalu bicara kembali memanggil seseorang, "Pelayan, tolong ambilkan stroller," lanjutnya memerintah.


Salah satu pelayan yang di perintahkan telah datang dengan membawa stroller. Khanza segera menaruh kedua baby twins di stroller.


"Mom aku mau ke dapur dulu, buatin mas Nio kopi," ujar Khanza segera menuju dapur membuatkan kopi seperti biasanya. Antonio sudah mengatakan padanya jika ia tidak akan meminum kopi selain buatannya. Jadilah hanya dirinya saja yang boleh membuatkan Antonio kopi.


****


Follow ig aku yuk guys : @antiloversn


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓