My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Episode 103



Ketika melihat kalung tersebut, raut wajah Antonio tampak terkejut. 'Kalung itu sangat persis sama yang di pakai oleh Khanza. Baiklah, sepertinya aku tahu sekarang. Jadi istriku adalah putri sahabatku sendiri.' batinnya.


.


"Dit!" seru Antonio.


"Kenapa An," ujar Aditya.


Antonio malah kebingungan sendiri ingin memberitahunya, takut jika salah dan malah membuat sahabatnya berharap besar...


Ketika ingin membuka suaranya lagi, Antonio melihat ke arah jam tangannya. Dan ternyata sekarang sudah menunjukkan pukul satu, siang.


"An, tadi kau sepertinya ingin mengatakan sesuatu," kata Aditya.


"Sebentar Dit, saya mau menelpon istriku dulu," Antonio mengambil hanphone yang berada di kantong celanannya. Setelah mencari nama istrinya di kontak panggilan, dengan segera ia memijit tombol menelpon.


Ketiga kali berdering barulah telponnya diangkat. Segera Antonio berdiri dan sedikit menjauh dari Aditya...


"Assalamualaikum, mas," kata seseorang duluan mengucap salam di seberang sana.


"Waalaikumsalam... Sayang kamu berada dimana sekarang?"


"Aku lagi di restoran mas, makan siang. Sebentar lagi kami pulang kok, maaf ya mas aku lupa ngabarin kalau udah di Mall,"


"Kali ini mas maafkan, tetapi nanti tetap ada hukumannya. Nanti kalau di jalan pulang kabarin mas... Ada yang mau mas bicarain sama kamu, tapi nanti dirumah aja,"


"Emm, baik mas. Kali ini aku pastikan ngga bakalan lupa ngabarin... Oke mas! Bentar lagi kami pulang kok. Udah dulu ya suamiku..."


Setelah itu sambungan pun berakhir, Antonio mengelus dadanya. Sedikit rasa kesal menghampirinya, saat istrinya mengatakan bahwa sudah berada di Mall dan lupa mengabarinya. Beruntunglah ia masih bisa menahan rasa kekesalannya itu, dia pun berjalan kembali duduk di tempatnya tadi.


"Ada apa An, wajahmu terlihat sangat kesal begitu?" tanya Aditya.


"Saya tidak apa-apa Dit," jawab Antonio. "Ada sesuatu yang harus saya katakan ke kamu, entah ini benar atau salah, yang kamu harus mengetahuinya. Dan kita akan memastikannya bersama-sama," sambungnya...


"Sesuatu?"


"Iya, kalung yang kamu perlihatkan tadi sangat mirip dengan yang dipakai oleh Khanza-"


"Benarkah An," sela Aditya mengatakan dengan wajah senangnya.


Antonio mengangguk. "Tetapi untuk memastikannya kita harus melakukan tes DNA," ujarnya.


"Baik An, bicara saja dulu dengan Khanza..."


.


.


Di restoran, kedua perempuan asik mengobrol dan menikmati makanan mereka. Keduannya belum menyadari jika satu orang diataranya belum juga kembali.


"Loh, mah... Bunda kok ngangkat telponnya lama banget," ucap Rhea yang baru saja menyadari ketidakadanya bundannya. Mata gadis itu pun melihat kearah Alvaro dan Eduard yang tengah menatap kearahnya juga.


"Tenang sayang, kita tanya dulu kedua bodyguard kamu," Raya menenangkan putrinya, agar tak panik.


Rhea pun memanggil keduanya untuk mendatanginya segera.


"Apa kalian melihat dimana bundaku?" tanya Rhea to the point.


Langsung saja keduanya menggeleng...


"Sedari tadi saya tak melihat nona Khanza keluar dari restoran ini," jelas Alvaro.


"Begitupun dengan saya, kami selalu mengawasi kalian," timpal Eduard. Padahal mereka telah lengah, yang mengakibatkan seseorang pergi sendirian tanpa diketehui oleh satupun orang.


"Tadi bunda sempat angkat telpon dadd, sedikit menjauh dari kami. Ini juga sudah lama dari waktu menelpon, biasanya jika dadd yang menelpon itu hanya sebentar," Rhea berkata panjang lebar.


"Kami akan mencari nona Khanza dulu, dan nona Rhea bersama nyonya Raya. Tunggu disini, jangan pergi kemanapun," ujar Alvaro segera mencarinya diikuti oleh Eduard dibelakangnya.


Sedangkan kedua wanita tersebut, menunggu dengan pikiran kemana-mana. Apalagi Rhea sangat takut jika terjadi sesuatu dengan bundanya. Ia akan sangat merasa bersalah terhadap itu...


****


Follow ig aku yuk guys : @antiloversn


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓