
Cahaya matahari yang masuk ke dalam celah-celah gorden rumah sakit dan mengenai mata Khanza yang masih tertidur nyenyak menjadi terganggu.
Khanza mengerjap-ngerjapkan matanya, untuk menyesuaikan pengelihatannya. Menatap sekeliling, merasa tempat ini asing baginya. Cat dinding berwarna putih, barulah ia mengingat bahwa sedang berada dirumah sakit.
Di atas perutnya terasa sangat berat, seperti ada tangan besi yang menindihnya. Saat melihat kesamping kanan barulah ia tahu siapa pemilik tangan tersebut.
"Om Antonio," guman Khanza pelan.
"Apa om Antonio yang membawaku semalam ke rumah sakit. Tapi darimana dia tahu alamat kost'an ku," ucap Khanza.
"Pasti om Antonio mencari tahunya,"
"Berat sekali tangan om Antonio," keluh Khanza, dengan pelan ia mencoba mengangkat tangan Antonio dan menaruh dibawah.
Bukan berpindah malah tangan itu menjadi memeluk pinggangnya. Tanpa sepengetahuan Khanza, Antonio sudah terbangun saat merasakan tangan diangkat. Diam-diam Antonio tersenyum dengan mata yang masih pura-pura terpejam.
"Om bangun,"
"Eunghh" Antonio pura-pura melenguh.
"Bangun!" seru Khanza, karena kesal ia mencubit tangan besar yang memeluknya.
"Awhh, sakit!" ringis Antonio padahal tidak merasakan sakit.
"Maaf, om," cicit Khanza dan menghapus-hapus bekas cubitannya ditangan Antonio.
Antonio mendengar suara pelan, langsung membuka matanya dan menatap mata Khanza.
"Heii, saya tidak papa kok," ucapnya.
Khanza mengangguk...
"Permisi," seru orang dari luar, membuat keduanya menoleh dan mendapati seorang dokter perempuan.
Dokter itupun mendekat dan kaget melihat seorang yang terbaring di ranjang rumah sakit.
"Kamu!" serunya.
Raut wajah Khanza seketika tegang, mengetahui dokter yang datang adalah dokter kandungan yang memeriksanya kemarin.
Antonio menatap keduanya, sepertinya saling mengenal satu sama lain.
Khanza memberikan tatapan tajam pada Antonio. Tetapi Antonio tidak menghiraukannya sama sekali dan malah menganggap tatapan gadisnya terlihat lucu dan menggemaskan baginya.
"Iya saya mengenalnya. Namanya Khanza kalau tidak salah, kemarin baru saja memeriksakan kandungannya," jelas dokter yang bernamtag 'Dinda'
Antonio memangguk, sedang raut wajah Khanza tidak tahu lagi bagaimana ekspresinya. Dokter Dinda mendekat dan melakukan pemeriksaan ulang.
"Bagaimana dok keadaan kandungan istri saya," bukan Khanza yang bertanya melainkan Antonio.
"Kandungannya memang lemah, karena mungkin ibunya banyak pikiran dan kurangnya asupan gizi. Tapi anda tidak perlu khawatir, kandungan masih bisa bertahan. Saya sarankan untuk ibu hamil jangan terlalu banyak pikiran dan asupan gizi harus dijaga. Agar kandungan istri anda bisa berkembang dengan baik," penjelasan dokter Dinda sama persis dengan disarankan oleh dokter yang memeriksa Khanza semalam.
Setelah dokter Dinda keluar dari dalam ruangan. Antonio menatap Khanza, menunggu penjelasan dari gadisnya yang terlihat hanya diam saja. Tidak ingin bersuara sama sekali.
"Ehem! Apa kamu tidak ingin menjelaskannya," Antonio buka suara, dan menatap Khanza meminta penjelasannya.
"Ga ada yang harus aku jelaskan lagi, om juga sudah mendengarnya langsung dari penuturan dokter Dinda," tukas Khanza.
"Jadi sekarang apa yang ingin kamu lakukan?" Antonio bertanya kembali dan ingin mendengarnya.
"Mungkin aku akan tetap mejalani hari-hariku seperti biasanya. Bekerja mencukupi kebutuhan aku dan bayi dalam kandunganku," lugas Khanza mengeluarkan jawabanya.
"Bagaimana dengan sekolah mu," pertanyaan Antonio mendapat gelengan dari Khanza.
"Sekolah! Aku sudah dikeluarkan, karena satu sekolah sudah mengetahui kehamilan ku ini," ucap Khanza sedih saat kemarin dirinya dengan tegas dikeluarkan dari sekolah.
Setelah mendengar jawaban gadisnya, Antonio mendekat kearah ranjang dan menggenggam tangan gadisnya yang terasa dingin. Antonio membawa tangan digenggamannya tepat dibibirnya dan menciumnya serta mengelusnya. Kembali menatap mata gadisnya.
"Menikahlah dengan saya,"
****
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓