My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Season 2. 32



Sesampai di Bandara mereka segera turun, Rhea masih menggendong bayi masuk ke dalam Bandara. Dari kejauhan terlihat Bagas dan Raya tengah menunggu kedatangan mereka.


“Ma, pa maaf kita telat, kalian pasti udah nunggu lama banget kan?” Tanya Rhea ketika sudah berada dihadapan Bagas dan Raya.


“Iya ngga papa sayang, mama sama papa juga belum terlalu lama juga kok disini,” jawab Raya.


“Itu bayi siapa yang kamu gendong re?” Tanya Bagas yang menyadarinya.


“Kita duduk dulu mah pa, biar aku menceritakannya,” sahut Leo mengajak kedua mertuanya untuk duduk terlebih dahulu sebelum ia menceritakannya.


Setelah itu mengalirlah cerita, bagaimana bayi ini bisa bersama mereka saat ini.


“Kenapa tidak di bawa ke kantor polisi saja, siapa tau ibu dari bayi melapor telah kehilangan bayinya,” tukas Bagas.


“Itulah yang kami pikirkan tadi pa, hanya saja waktunya benar-benar tidak sempat, sebentar lagi pesawat kami flight. Kami minta bantuan mama papa, biar papa sama mama membawanya ke kantor polisi,” jelas Leo.


Bagas dan Raya sempat terdiam mendengar penjelasan menantu mereka. Tetapi akhirnya keduanya mengangguk menyetujuinya.


“Baiklah berikan bayi itu pada mama, biar papa sama saja yang mebawanya ke kantor polisi,” ujar Bagas. Rhea memberikan bayi dalam gendongan kepada mamanya.


Terdengar pemberitahuan bahwa pesawat akan segera lepas landas.


“Mah, pa kami pamit dulu ya. Maaf telah merepotkan mama papa,” kata Rhea memeluk papa dan mamanya bergantian, tak lupa menyalami tangan keduanya. Diikuti dengan Leo yang melakukan hal sama pada kedua mertuanya.


“Gimana pa kita bawa ke kantor polisi saja ini,” ucap Raya.


“Ya kita harus melaporkan dulu mah, takutnya orangtua bayi ini mencari dan sudah melapor duluan,” tukas Bagas.


“Tapi bagaimana kalau tidak ada orangtua yang mencarinya?” Tanya Raya. Wanita itu telah jatuh cinta kepada bayi di gendongannya, melihat wajahnya saja sudah membuat ingin memiliki bayi ini.


“Iya pah, mama tahu tapi kalau misalnya tidak ada orangtuanya yang mencari. Bagaimana?”


“Ya mau tidak mau kita harus menitipkan di panti asuhan mah.”


“Kok malah dititipkan di panti asuhan pah, mengapa tidak kita angkat sebagai anak saja!”


“Bukan papa tidak mau mah, takutnya nanti setelah bayi itu kita angkat menjadi anak dan orangtuanya mencari dan tahu jika bayi mereka di asuh oleh kita lalu orangtuanya malah memeras kita. Memang mamah mau begitu?”


“Astagfirullah papa, jangan berpikiran buruk. Siapa tahu bayi ini adalah titipan dari Alllah buat kita. Papah tahu kan mama ingin sekali merasa bagaimana rasanya mengasuh bayi.”


“Nantilah mah kita pikirkan itu, baiknya kita ke kantor polisi saja terlebih dulu untuk melaporkan bayi hilang ini,” putus Bagas, lelaki itu tak ingin berdebat dengan sang istrin. Karena itu hanya mengulur waktu saja.


***


Keduanya akhirnya telah berada dirumah, setelah membuat laporan di kepolisian tadinya. Polisi sempat mengira bahwa mereka sengaja ingin membuang bayi mereka, yang membuat emosi Bagaskara tersulut, untunglah lelaki itu bisa menahannya karena tahu bahwa mereka sedang berada di kantor polisi.


Beruntunglah Bagas mempunyai salah satu teman yang menjadi seorang anggota kepolisian. Dan sangat kebetulan sekali temannya berada disana, temannya lah yang menjelaskan bahwa mereka berdua memang belum mempunyai anak. Laporan mereka akhirnya di proses dan tinggal menunggu kabar saja lagi. Selama belum ada kabar bayinya pun harus bersama mereka.


“Mas kamu kenapa?”


“Ngga papa sayang.”


“Yaudah mas aku mau kekamar dulu ya, mau nidurin bayi di ranjang. Kasian, kayaknya dia ngga nyaman,” Bagas hanya mengangguk sebagai jawaban, Raya berlalu menaiki tangga membawa bayi dalam gendongan ke kamar mereka untuk di tidurin di ranjang agar tidur lebih nyaman.


****