
Pagi-pagi sekali sekitar jam enam Queen sudah bangun dari tidurnya. Gadis itu sudah membersihkan diri dan bersiap turun kebawah. Rencana hari ini ia ingin mengajak daddy dan abang-abangnya joging.
Saat berada di bawah Queen mengeryit, melihat daddymya jam segini sudah berada di ruang tamu dengan ipad ditangannya. Tanpa babibu Queen langsung berlari menghampiri daddynya.
"Daddy..." panggil Queen duduk disamping dan mengamit lengan daddynya.
"Loh, princess tumben jam segini udah bangun," ujar Antonio menatap putrinya.
"Aku mau ngajak daddy sama abang abang jogging."
"Abang abangnya sudah dibangunkan belum?" Queen seketika menggeleng.
"Yasudah princess bangunkan abang abang, baru kita jogging." lanjut Antonio.
Queen mengangguk segera beranjak dan naik ke lantai atas kembali. Pertama gadis cantik itu memasuki kamar abang kembarnya lebih tepatnya kamar abang Arcell.
'Kreek' tangannya sudah membuka pintu kamar tersebut. Gadis itu mengira abangnya masih terlelap, ternyata dugaannya salah. Abang sudah bersiap dengan setelan kantor yang melekat ditubuhnya.
"Ada apa princess? tumben sekali ke kamar abang," ujar Arcell bertanya dan berbalik menghadap adiknya.
"Aku mau ngajakin abang jogging... pleasee abang mau ya, sekali ini aja," mohon Queen mengajak abangnya agar mau.
"Bukannya abang engga mau sayang, tapi abang hari ini ada meeting dikantor bersama daddy." Arcell menjelaskan pada adiknya, memberikan pengertian.
"Abang bohong ya, tadi aja daddy aku ajakin jogging mau kok," sanggah Queen tak terima.
"Betulan sayang, abang memang ada meeting bersama daddy jam sembilan," ucap Arcell meyakinkan adiknya yang sepertinya masih belum percaya sehingga melenggang keluar dari kamarnya begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Arcell menghela nafas kasar, jika tak dituruti kemauan princessnya akan ngambek seharian tidak menegurnya. Maka dari itu ia lebih memilih mengganti setelan kantornya dengan pakaian olahraga. Ia juga melirik jam yang baru jam enam lewat sepuluh menitan. Perkiraannya tak akan terlambat pergi ke kantor.
Mereka berempat keluar dari lift bersama. Queen merangkul abangnya Rey yang masih terlihat mengantuk akibat bergadang bermain game online.
"Bang Ell," spontan Queen menyebut nama abangnya, saat melihat pakaian abang menjadi pakaian olahraga.
Arcell berdiri berhadapan dengan adiknya, "Buat kamu apapun akan abang lakukan sayang," katanya tersenyum.
"Princess abang engga usah ikut aja. Hari inikan bukan hari libur sekolah, mana sempat jogging, yang ada abang telat kesekolahnya," protes Rey angkat bicara walaupun masih sangat mengantuk.
"Daddy udah telpon kepala sekolah, buat mengizinkan abang Rey dan abang Ghani yang akan telat berangkat sekolah hari ijin. Jadi abang Rey tak punya alasan untuk tidak ikut," kata Queen bicara dengan gaya sok tegas yang malah membuat keempat lelaki berbeda usia tersenyum melihat gadis kesayangan mereka. Kecuali Rey yang merengut kesal karena tidurnya terganggu dan tidak puas.
...****************...
Mereka berenam kini berlari sudah lumayan jauh dari mansion. Queen merasa tak kuat lagi berlari, kakinya sudah sangat lemas. Kelima laki-laki yang masih berlari belum menyandari bahwa princess mereka ketinggalan beberapa meter dibelakang.
"Daddy, abang..." teriak Queen memanggil kelima laki-laki didepan.
Kelima laki-laki tersebut berhenti berlari. Arsen dan Ghani lebih dulu menengok kebelakang dan mendapati Queen terduduk dengan berselonjor kaki.
"Yaallah princess..." Arsen berlari diikuti yang lainnya.
"Princess kenapa? Mana yang sakit sayang." Arsen bertanya cemas saat melihat adiknya sudah berselonjoran begitu saja.
"Iya sayang, mana yang sakit?" Kali ini Antonio yang bertanya.
"Daddy, abang-abang.. Aku enggak papa kok, aku cuman capek aja. Jadi berhenti deh," kata Queen santai, membuat kelima laki-laki yang cemas menjadi lega mendengarnya.
"Sekarang kita istirahat dulu," putus Antonio, ketika ingin menggendong Queen dicegah oleh Ghani.
"Biar aku saja yang menggendong dad." Ghani mengangkat tubuh Queen yang lumayan berat membawa ke sebuah bangku taman yang berukuran panjang.
"Ini minum dulu." Arcell memberikan air minum yang barusan di belinya pada princess dan membagikan juga kepada dadd**y, kembaran dan kedua adik laki-lakinya.
"Makasih abang," kata Queen dibalas anggukan oleh Arsen.
"Tuhkan kamu jadi capek. Udah tahu adek jarang jogging, kok malah tiba-tiba nganjak jogging. Abang sempat mikir tumben banget," ujar Rey bersungut-sungut.
Queen menunduk, merasa bersalah telah memaksa agar mau jogging bersamanya. Sebenarnya ia hanya merasa bosan di mansion terus, tidak diizinkan keluar jalan-jalan setelah kejadian pulang hampir mau petang. Sebenarnya itu juga kesalahannya.
Rey berlutut depan Queen, "Maafin abang," ucapnya tak tahu harus berkata apalagi.
Queen menggeleng, "Abang gak salah kok, harusnya aku yang minta karena udah maksa kalian semua joging."
"No, sayang! Jangan menyalahkan dirimu, disini tetaplah kita yang paling bersalah karena mengabaikan mu," kata Arcell lembut.
"Kalau begitu kita saling memaafkan." Queen merentangkan tangannya, meminta agar semua abangnya memeluknya.
Queen digendong Rey dari belakang. Mereka memutuskam kembali ke mansion, karena princess tidak sanggup lagi melanjutkan jogging.
Sesampai di mansion mereka lantas masuk ke kamar masing-masing, membersihkan diri dan bersiap turun kebawah untuk sarapan bersama. Selesai sarapan Queen iseng pergi ke dapur dan melihat Bibi Fatimah membawa keranjang yang digunakan saat berbelanja ke pasar.
"Bibi tunggu," cegah Queen.
"Ada apa nona?" tanya bi Fatimah kepala pelayan kedua.
"Bibi mau ke pasar ya, aku ikut dong bi," ujar Queen meminta ikut.
Bibi Fatimah menjadi bingung harus menjawab apa. "Tapi nona kan enggak dibolehin keluar mansion sama tuan. Apalagi mau ikut bibi ke pasar pasti tidak diizinkan sama tuan nona."
"Bibi tunggu sebentar biar aku izin dulu sama daddy." Queen segera menghampiri daddynya yang masih belum berangkat kantor.
"Sayang jangan lari larian seperti itu," tegur Antonio.
"Daddy pleasee... izinin aku ikut bibi Fatimah belanja sayur di pasar, sekali ini saja ya," mohon Queen dengan wajah memelas.
"Oke fine, daddy izinan. Alvaro dan Eduard harus ikut. Ingat kalau ada apa-apa cepat hubungin daddy," kata Antonio, tak tahan melihat wajah memelas putrinya.
"Makasih daddy," ucap Queen.
Selama Khanza menjadi istri Antonio. Khanza selalu membiasakan agar berbelanja sayuran dan bumbu rempah-rempah lainnya di pasar.
Queen dan bibi Fatimah berkeliling pasar mencari berbagai aneka sayuran-sayuran yang mereka butuhkan.
"Bibi masih ada yang kurang?" tanya Queen.
"Masih ada nona..."
Setelah mendengar jawaban dari bibi Fatimah, mereka kembali berkeliling mencari bahan-bahan yang masih kurang. Tiba-tiba Queen mendengar suara seorang yang mirip seperti mommynya. Gadis itu lantas berbalik dan melihat sekilas rambut seseorang yang persis seperti mommy. Seketika gadis iti berteriak nyaring.
"MOMMY!!!" Queen yang akan menghampiri malah ditabrak oleh orang hingga tersungkur dan menyebabkan kaki, dagu, dan lengannya terluka.
"Yaallah nona."Bibi Fatimah menjatuhkan barang belanjaannya.
"Bibi, mommy masih hidup," kata Queen lemah.
"Nona bertahan ya bibi telpon Alvaro sebentar," pinta bibi Fatimah yang menangis melihat keadaan nonanya.
Alvaro dan Eduard diminta oleh Queen agar menunggu di mobil saja dan tidak ikut mereka masuk ke pasar. Alvaro dan Eduard hanya mengikuti perintah Queen.
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Guys baca karya baru aku yuk judulnya "YOU'RE MINE, SERRA dan ISTRI SIMPANAN”
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasihđź’“