
Setelah selesai dengan urusan di toilet Khanza keluar. Mereka melanjutkan kembali berjalan menuju ruang rawat. Sesampai diruang rawat Antonio membuka pintunya.
Mereka berjalan mendekati ranjang nyonya Erina yang tengah duduk bersandar di berangkar yang sudah di naikan. Khanza sama sekali tak mengetahui wajah nyonya Erina yang tengah menatapnya dengan tatapan marah.
"Mama kenaph-"
PLAK!!!
"Mama kenapa menampar istriku?" ujar Antonio membawa Khanza berada didekatnya, mengelus pipi istrinya dan lalu menatap kembali ke mamanya.
"Mau tahu kenapa mama nampar istrimu... Dia itu udah beraninya ngeracunin mama sama papa. Mungkin juga Rhea, karna tadi cucu mama juga ikut makan masakannya itu," nyonya Erina menunjuk-nunjuk Khanza dengan tatapan marah.
"Apa maksud mama ngomong gitu, apa mama punya buktinya kalau istriku melakukannya?" tanya Antonio telak untuk membela istrinya. Karena dia yakin istrinya mana mungkin berbuat seperti itu.
"Buktinya? Kamu masih bertanya buktinya, jelas semua sarapan tadi pagi dia yang masak," jawab nyonya Erina. Sedangkan Clara sedari tadi menengang, tapi untanglah nyonya Erina tak menyebutkannya.
"Tapi ma, aku ga ngelakuin itu. Aku ngga mungkin ngeracunin mama, papa sama Rhea. Buat apa ngeracunin keluarga aku sendiri!" ujar Khanza mendekat ke berankar nyonya Erina dan memegang tangan mama mertuanya yang tak di infus.
"YA JELAS KAMU NGELAKUIN ITU MAU MENDAPATKAN HARTA KAMI!! BERKEDOK DENGAN NGIDAMNYA KAMU AGAR SAYA MAU MEMAKAN MASAKAN KAMU!!" teriak nyonya Erina menggelegar bicara dengan nada tinggi bahkan menekan setiap kalimatnya. Menghempaskan tangan Khanza dan mendorongnya. Untunglah dibelakang Khanza ada Antonio yang merengkuhnya.
"PERGI KAMU SAYA MUAK LIHAT WAJAH KAMU!!" usir nyonya Erina.
"Erina sabar!" seru tuan Andreas yang sedari hanya mendengarkan.
Khanza melepaskan dirinya dari rengkuhan Antonio. Saat ingin keluar bertepatan dengan pintu yang terbuka, Khanza menunduk dan berlari keluar. Sedangkam Vinno masuk ke dalam ruangan orangtuanya.
"Sayang tunggu! Kamu mau mau kemana?" Antonio ingin mengejarnya, tapi suara mamanya menghentikan langkah kakinya.
"Antonio berhenti, tetap disini dan dengarkan penjelasan Vinno," tegas nyonya Erina.
"Mama kenapa marah-marah seperti itu?" tanya Vinno yang baru datang dan tak tahu hal apapun.
"Jelasin sama Antonio, kenapa mama bisa berada disini!" pinta nyonya Erina kepada Vinno, putranya yang memang seorang dokter.
"Karena mama diare kan, sama papa. Bahkan Rhea juga ikutan, tadi baru saja aku selesai memeriksanya. Mungkin ada seseorang yang mencampurkan obat diare di makanan atau minuman," ujar Vinno.
"Ruangan berapa?" dingin Antonio bicara singkat.
"Ruang VIP khusus keluarga Horison... Oh ya, satu lagi An, Rhea tidak sendiri melainkan bersama seorang pemuda. Aku lupa bertanya namanya..."
Setelah itu Antonio langsung dari ruangan tersebut dengan membanting pintu kasar. Entahlah emosinya sedang bergejolak sekarang. Sebelum keluar pergi ke ruangan Rhea. Antonio menelpon seseorang.
"Saya minta kamu cari istri saya dan awasin geraknya. Jangan sampai terjadi apa-apa dengannya atau kamu tahu sendiri akibatnya. Suruh Alvaro, minta dia untuk mengecek CCTV di dapur," Antonio mengakhiri sambungan telpon. Selesai memerintahkan kedua bodyguardnya.
"Aku tidak percaya istriku yang melakukannya, awas saja orangnya akan ku buat seperti hidup di neraka. Berani sekali dia bermain dengan seorang Antonio Xaviaro," gumannya tertahan.
Melanjutkan jalan menuju ruangan Rhea. Sampai depan ruang rawat Rhea, Antonio membuka pintunya. Bertepatan dengan kedatangan Bagas, ternyata Bagas juga mengetahui Rhea masuk rumah sakit.
"Rhea kamu ga apa-apakan sayang? Apa yang terjadi dengan kamu, kenapa sampai bisa masuk rumah sakit begini hem?" tanya Bagas sambil memeluk erat putrinya. Memang Bagas merencanakan setelah rapat selesai ia ingin pergi ke sekolah Rhea. Ingin meminta ijin membawanya ke rumahnya dan menungguinya sampai pulang sekolah. Tetapi ketika ia bertanya pada satpam yang berjaga disekolah bilang bahwa Rhea dilarikan ke rumah sakit. Maka dari itu tanpa berpikir panjang dirinya langsung bergegas menuju rumah sakit.
"Bisa tidak tanganmu tak memeluk putriku dengan erat. Apa kamu tak melihat putriku sesak nafas karna pelukan erat mu itu," ujar Antonio berkata datar.
"Maaf sayang!" ucap Bagas menatap Rhea.
"Rhea ga apa-apa kok pah... Daddy ngomongnya jangan datar gitu," tegur Rhea.
"Hem," balas Antonio.
"Kamu sakit apa sampai masuk rumah sakit?" ulang Bagas bertanya kembali.
"Aku cuman diare aja kok pah," jawab Rhea.
"Dad, mama Khanza mana?" tanya Rhea celingak-celinguk melihat tidak ada kehadiran Khanza.
"Khanza lagi ada di rumah sayang," bohong Antonio.
"Ouh, baguslah kalau daddy ga ngabarin mama. Aku cuman ga mau terjadi mama khawatir," ucap Rhea. Ia paham betul bagaimana Khanza jika mengetahui dirinya masuk rumah sakit, pastinya sahabatnya akan khawatir tingkat tinggi.
"Dadd, tadi uncle Vinno bilang katanya oma sama opa juga masuk rumah sakit. Kok bisa barengan sama Rhea, sakitnya juga sama gara-gara diare..."
"Dadd!" seru Rhea menatap Antonio yang belum menjawabnya.
"Mungkin hanya kebetulan sayang," Antonio berbohong kembali. Ia tak mungkinkan berkata jujur, bahwa sebenar mamanya telah menuduh istrinya. Bukannya dia tak mengejar istrinya, lalu disebut percaya bahwa istrinya telah melakukan itu. Oh, tidak, dirinya sama sekali tak percaya istrinya melakukan semua itu. Dia tadi tak mengejar karena ingin mendengar perihal yang dialami mama, papa dan Rhea dari Vinno.
Ruangan itu kembali hening, karna tak ada lagi yang ingin berbicara. Tetapi hanya beberapa saat saja sampai suara Bagas mengalihkan atensi mereka.
"Saya ingin mengatakan sesuatu," ujar Bagas.
"Mengatakan apa pah?" tanya Rhea.
"Apa saya bisa minta kamu untuk keluar dulu, karna ini hal tentang pribadi," pinta Bagas kepada Leo temannya Rhea.
"Bisa om, baik kalau gitu saya tunggu diluar," Leo segera keluar dan duduk di kursi yang tersedia disana.
"Begini papa ingin, kamu bergantian tinggal bersama papa. Jika kamu tak keberatan, keputusan juga papa serahkan sama kamu. Apapun keputusan kamu akan papa terima..."
Rhea menatap Antonio, karena dia juga tak bisa memutuskan ini. Menurutnya ini keputusan yang berat bagi dirinya, berat karena dia memang tidak pernah tinggal di rumah papanya.
"Apa kau bisa menjamin, putriku akan baik-baik tinggal bersamamu," sahut Antonio, bukanlah Rhea yang angkat bicara melainkan Antonio.
"Ya, aku bisa menjamin tidak akan terjadi apa-apa dengan Rhea," tangkas Bagas.
"Gimana sayang, dad terserah kamu. Jika kamu mau bergantian silahkan, dad tak akan memaksa atau menahanmu," ujar Antonio.
"Eum, ya aku mau. Tapi tidak sekarang, karna di mansion masih ada oma. Aku tidak ingin pisah dulu sama oma dan opa," setelah berpikir Rhea pun menyetujuinya. Ia tak tega rasanya kalau harus menolak, mungkin papa Bagas juga ini merasakan bersamanya.
"Makasih sayang, papah senang. Papah juga mengerti sayang, nanti kalau kamu sudah siap tinggal dirumah papah, kamu bisa mengabarinya. Nanti papa sendiri yang akan menjemputmu..."
"Re, dad pergi dulu. Kamu ga apa-apakan dad tinggal," ucap Antonio. Rhea membalasnya dengan anggukan.
Keluar dari ruang rawat, Antonio menghentikan langkanya saat melihat Leo yang masih duduk menunggu. "Ehem," dehemnya.
Leo menoleh, mendengar deheman orang yang dikenalnya. "Ehh om Antonio, udah selesai bicaranya. Apa saya boleh masuk?" tanyanya.
"Tunggu dulu, saya mengingat sesuatu. Sepertinya saya pernah mengatakan mengajak kamu ke ring, setelah saya menikah. Benar begitukan?"
"Om mungkin salah, om tidak pernah mengatakan itu kok," kilah Leo. 'Ini om tua, pengingatnya benar minta diancungi jempol... Haduh Leo, kenapa kamu kemaren mengiyakan. Huh, bisa-bisa babak belur ni. Ah ya, aku baru ingat om Adit kan juga pinter berkelahi. Lebih baik nanti aku minta ajarin saja, untuk menambah ilmu,' ucapnya dalam hati.
"Apa kamu takut berada di ring bersama saya," ucap Antonio meremehkan.
"Ouh, jelas tidak om," bohong Leo sok kuat.
"Jadi kenapa kamu berkilah, kalau saya tak pernah mengatakan itu?" telak Antonio. Membuat Leo mati kutu.
"Oke baik om, kapan kita ke ring," akhirnya Leo mengatakan itu. Cukup sudah orang yang berada di depannya ini membuat mati kutu.
"Saat belum bisa, karna saya banyak urusan yang harus diselesaikan. Tapi bersiap saja, nanti orang saya akan mengabarinya..."
"Baiklah om, saya akan menyiapkan diri..."
"Satu lagi, saya minta kamu menjaga Rhea..."
Leo memberikan anggukan, karna tanpa disuruh pun ia akan tetap menjaga gadisnya.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓