
Ditempat lainnya, Antonio memberhentikan mobil di parkiran apartemen mewah. Antonio melangkah memasuki kawasan apartement dan menaiki lift menuju lantai 4 dimana disitulah Aditya tinggal.
Antonio sekarang berada di depan pintu apartemen Aditya dengan nomor 412. Ia membunyikan bel yang berada di dinding sebelah kanan. Kedua tangan bersedekap dada, menunggu orang di dalam sana untuk membukanya.
.
Sedangkan di dalam kamar apartemen, Aditya baru saja menyelesaikan mandinya. Pria itu tengah bersiap-siap memakai setelah kerjanya. Karna hari banyak dokumen penting yang harus ditanda tanganinya.
Sudah dua bulan dia tak pulang ke mansion Mahendra. Aditya masih enggan bertemu ibunya, ia memang sama sekali tak menaruh kebencian pada ibunya. Tetapi amarah di dalam dirinya masih bergemuruh ketika mengingat apa yang telah dilakukan ibunya pada anak kandungnya.
Setelah memastikan penampilan sudah benar-benar rapi, barulah Aditya keluar menuruni tangga. Bertepatan ia sampai di bawah dengan bel apartemennya berbunyi.
Ting! tong...
"Siapa yang bertamu," gumannya. Aditya segera menuju pintu, sebelum membukanya ia mengintip ke lubang yang berada di pintunya. Melihat siapa yang membunyikan bel apartemenya.
"Antonio, ngapain dia kesini!" Aditya segera membuka pintu apartemennya.
"Masuklah An," ujar Aditya mempersilahkan sahabatnya untuk masuk.
Antonio pun masuk, melangkah menuju sofa dan mendudukan dirinya disana dengan kaki menyilang. Lalu menatapa sekeliling apartemen tersebut.
"Apa kau betah tinggal disini?" tanya Antonio.
"Darimana kau tahu aku disini?" Aditya malah bertanya balik.
"Tidak penting darimana saya tahu. Yang paling penting sekarang, tante Hani. Kenapa kau meninggalkan ibu mu dit, tidak pulang selama dua bulan. Sudah merasa lelaki hebat, lupa terhadap ibu kandung sendiri," tegas Antonio memperjelas maksudnya.
"Rupanya kau datang kesini, karna mamaku menelpon mu dan meminta bantuan membujukku untuk pulang," dengus Aditya.
"Memang kenapa jika tante Hani meminta bantuan pada saya. Tante Hani sudah saya anggap seperti ibu sendiri," balas Antonio.
"Pantaskah ibu kandungku sendiri memisahkan cucunya dari ayah kandungnya," pungkas Aditya menggeram marah ketika mengingatnya.
"Baiklah sepertinya kau juga perlu mengetahuinya. Aku akan menceritakannya," ujar Aditya. Lalu mengalir cerita yang persis di dengarnya dua bulan lalu dari mulut ibunya sendiri.
Barulah Antonio memahami, mengapa sahabatnya tidak pulang ke rumah. Ternyata masalah sahabatnya sangat berat, bahkan Antonio sama sekali tidak menyangka jika tante Hani yang begitu baik sampai setega itu melakukannya. Kenyataan bahwa sebenarnya Aditya memiliki anak bersama Kirana, bahkan di perkirakan anak mereka seumuran dengan Rhea, putrinya.
"Itulah mengapa aku memilih menghindar dari mama, aku tidak ingin melampiaskan kemarahan ku ini, yang nantinya malah berakibat fatal," jelas Aditya.
"Apa tante Hani tak memberitahu keberandaan anakmu?" tanya Antonio.
"Aku sudah mendesak mama untuk mengatakannya, tetapi mama bilang dia tak mengetahuinya orang suruhan menaruh anakku," tukas Aditya.
"Tapi, Rana pernah cerita padaku jika putri kami memiliki kalung yang pernah ku berikan pada Kirana saat kami masih berpacaran dulu. Makanya aku masih punya harapan untuk menemukan keberadaan putriku dengan mengetahui kalung yang di pakainya," sambungnya.
"Kalung seperti apa yang kau maksud dit?"
"Sebentar biar ku perlihatkan bentuk kalungnya," Aditya mengambil iphonenya, membuka galeri dan menunjukkannya pada Antonio.
Ketika melihat kalung tersebut, raut wajah Antonio tampak terkejut. 'Kalung itu sangat persis sama yang di pakai oleh Khanza. Baiklah, seperti aku tahu sekarang. Jadi istriku adalah putri sahabatku sendiri.' batinnya.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓