
“yuk ke kantin gue lapar” ajak prince pada Rafa yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, pria itu ternyata memasang kamera tadi pagi di kamarnya, tidak ingin istrinya kenapa-kenapa jadi Rafa sengaja memasang kamera yang bisa dicopot kapan aja, agar dia bisa memantau kondisi cessa walau dia tidak ada di dekat cessa.
“pergi aja, gue lagi gak mau makan” tolak Rafa.
“ntar gue aduin lo, gak mau nempel sama gue?” ancam Prince, “ayolah Fa, kan lo masih bisa mantau cessa di kantin” bujuk Price lagi.
Rafa akhirnya mengalah, pria itu tegak dan mengikuti kedua sahabatnya menuju kantin.
.
“Hai kak” sapa wanita tidak dikenal dan dia langsung duduk tepat disebelah Rafa membuat pria itu risih.
“woii wanita jadi-jadian, sebaiknya lo menyingkir atau gue siram pakai ni air kobokkan!” ancam prince sambil mengangkat air kobokan di dekatnya.
“kakak kayak anak kecil aja pakai ngancam-ngancam” gerutu gadis itu.
“biarin! Gue udah ada yang punya, jadi gak masalah bersikap aneh, gue udah laku!” jawab Prince dengan percaya diri.
Juli hanya tertawa pelan endengar ucapan prince, emang benar juli sama sekali tidak merasa malu dengan sikap prince tadi, malah dia merasa lucu, dengan cara prince melindungi Rafa dari lalat yang hinggap di badannya.
“haiiss sial” umpat gadis itu, dia segera pergi takut disiram dengan air kobokan oleh prince.
“bagus! Tau malu juga kan!” sindir Prince, pria itu langsung duduk di tempat yang tadi di duduki oleh gadis asing tadi.
Rafa menyantap makanannya dengan tidak semangat, “gue balik aja ya” ujar rafa pada prince.
“udah capek gue dari tadi ngusirin lalat, lo masih juga gak mau makan disini” keluh prince.
“emang gak ganggu lagi, tapi menjadi bahan tontonan satu kantin gak enak juga prince” bukan rafa yang mengatakan tetapi, devi yang mengatakan itu.
Prince akhirnya menyetujui permintaan Rafa untuk kembali ke kelas. Baru saja rafa hendak berdiri, ada murid wanita yang menabraknya dan terjadi lah hal yang tidak dinginkan.
Coca cola dingin di tangannya tumpah dan mengenai baju Rafa, pria itu sudah basah kuyup dengan, untung saja celananya tidak basah.
“ya ampun maaf kak, aku tadi buru-buru , jadi gak sengaja nabrak kakak” ucap wanita itu terdengar sedikit meyakinkan jika tidak menatap wajahnya yang tampak dibuat-buat.
“ini ni definisi apapun akan dilakukan demi mendapatkan perhatian dari pria yang kita suka, dibenci-dibenci deh asal mendapatkan perhatian pria itu” gumam Devi pelan.
Rafa masih menatap wanita yang menumpahkan cola padanya dengan wajah datar, dia tidak marah tidak juga tersenyum, wajah datarnya justru membuat setiap orang yang melihat menjadi merinding.
“Ya, wanita A mulai melancarkan aksinya” dafa memulai berkomentar atas apa yang terjadi, membuat Prince juga merasa tertantang ingin ikutan menjadi komentator.
“Kita liat apakah si gunung es akan menjawab?” sambung prince dengan cengiran khasnya.
Tidak ada jawaban juga dari Rafa, Rafa hanya menepis tangan gadis itu yang tadi sibuk menempel pada badannya.
“Sayang sekali pemirsa, Gunung es masih belum mau mencair” komentar Dafa.
“Kak, minta nomor penselnya deh, biat aku ganti uang laundry nya” ujar wanita tadi.
“Oke wanita A mulai melemparkan umpan, apakah akan disambut?” komentar Prince.
Juli dan Devi yang mendengar terus saja tertawapelan sambil menutup mulut mereka, entah apa yang dilakukan kedua pria itu, merekaselalu saja ad acara membuat orang-orang tertawa.
“Prince pinjam baju lo” rafa menatap Prince, kebetulan pria itu memakai baju dalam. “cepatan!” lanjut Rafa lagi.
Prince membuka baju sekolahnya menyisakan baju dalamnya. Dan memberikan pada Rafa yang sejak tadi menengadahkan tangan padanya, setelah itu Rafa langsung pergi berlalu, tanpa memperdulikan teriakan gadis yang tadi menyiramnya dengan air cola.
“hahahha malu dek di kacangin!” tambah Prince.
...🌜⛈️⛈️⛈️⛈️🌛...
Rafa sampai di rumahnya, dia langsung menuju kamar dan memeriksa kening istrinya untuk memastikan bahwa suhu badan cessa sudah turun. Tadi dia melihat cessa sarapan dan memakan obatnya, dan ternyata suhu badan cessa sudah turun begitu rafa sampai dirumah.
Perlahan mata cessa terbuka karena merasakan tangan seseorang di keningnya.
“fa, udah pulang?” suara cessa terdengar serak, mungkin karena gadis itu baru bangun tidur.
“iya, baru aja sampai, gimana keadaanmu? Masih pusing?” tanya rafa, dia sudah berpindah menjadi berbaring disebelah cessa menjadikan tangannya sebagai bantal untuk gadis itu.
“Dikit, tadi udah minum obat jadi udah ada kurang” jawab cessa, dia kembali memejamkan mata dan memeluk tubuh rafa dengan erat. “tadi berapa orang yang kamu ledeni ngomong?” tanya cessa masih sambil memejamkan matanya.
“hmmm, Cuma 4 orang” jawab rafa.
Mata cessa langsung terbuka menatap wajah suami tampannya itu. “empat? Siapa aja?” tanya cessa langsung.
“dafa, prince, juli dan Devi” jawab rafa.
Cessa menghela nafas panjang lalu kembali menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya, “ini baju abang kok kamu yang pakai” cessa baru sadar dengan baju yang dikenakan oleh rafa, pria itu belum mengganti bajunya karena khawatir dengan cessa.
“insiden kecil tadi disekolah tapi sudah lewat dan aku tidak meladeni gadis itu” jawab rafa.
Cessa sedikit memicingkan matanya, tapi kemudian kembali memeluk rafa, dia akan percaya pada rafa untukkali ini.
...🌜🌧🌧🌧🌧🌛...
Juli, prince, dafa dan yang lain sudah memulai pelatihan mereka di basecamp, walau Rafa tidak ada mereka sekarang sibuk bermain bersama sebagai tim, untuk melatih ke kompakan mereka.
Mereka juga live agar memenuhi kuota video yang harus mereka kejar, ini adalah kebijakan yang dibuat oleh rafa juga, dia mau semua yang berlatih juga harus online agar mereka terbiasa di tonton oleh banyak orang, dan tidak canggung tampil di depan public.
“wahh ternyata ada ceweknya di grup kalian! Ngapain aja di basecamp ayooo!” komentar salah satu pria, begitu melihat Juli yang sedang bermain.
“cuekin aja Jul, kalahkan mereka! hajar!” balas dafa, dia masih fokus dengan komputernya.
“Disini banyak kamera, kami juga punya kamar masing-masing, jika kami melakukan hal yang tidak pantas, kami bakal di keluarkan dari perusahaan” Jaka mulai angkat bicara, dia sebagai anggota tim tidak suka ada anggotanya di remehkan.
“wahh gimana rasanya 5 lawan 1 enak gak?” komentar negative kembali muncul untuk menghina Juli.
“kalian iri ya dengan aku yang bisa mendapatkan kontrak dari perusahaan ini, kalian yang mencoba daftar saja gak diterima-terima tapi ini perusahaan sendiri yang menawariku, untuk ikut bertanding, umur masih 17 tahun tapi aku punya penghasilan sebulan dan kalau menang penghasilanku tambah banyak, aku juga dijamin akan masuk ke universitas yang aku inginkan, kalau mau menghina silahkan, aku tidak peduli” jawab cuek juli.
“TOP emang ACE kita!” pekik Dafa. Prince dan yang lain mengacungkan jempolnya pada Juli lalu kembali fokus bermain.
... 🌜🌞🌞🌞🌞🌛...
bonus pict
Juli yang sedang fokus bermain game
Prince yang sedang bermain game