Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
81. Keputusan



Rafa diam beberapa saat mencerna ucapan cessa dan ucapan prince. Sebenarnya dia juga tidak ada niatan untuk membantu papa ali lagi, tapi rafa tidak ingin papa ali terkena serangan jantung atau terkena penyakit lain, Rafa hanya tidak mau kedua orang tuanya jatuh sakit karena ulah gavin, tetapi disisi lain jika rafa membantu, gavin akan semakin merajarela, dia akan menganggap mempertahankan perusahaan itu mudah, dia tidak perlu melakukan hal yang susah, hanya sedikit berusaha dia sudah mendapatkan bantuan dari rafa, walau dia tidak tau jika rafa lah yang selama ini membantu dirinya yang beberapa kali colabs.


“Fa, aku tau yang kamu cemaskan, tapi kali ini jangan berikan gavin pertolongan lagi, sudah cukup selama ini kamu membantunya” ucap cessa.


Rafa akhirnya menghela nafas panjang, “kamu benar, tidak bisa selamanya aku memberikan bantuan padanya, aku sudah keluar dari daftar warisan papa, jadi aku tidak punya kewajiban lagi membantu papa” ucap rafa.


Cessa langsung memeluk suaminya itu mengelus punggungnya, “Jika terjadi sesuatu pada papa, akan kita jelaskan semuanya, dan bilang kenapa kamu tidak mau membantu papa lagi, setelah itu biarkan kita yang menghidupi papa dan mama, biarkan mereka menikmati masa tua mereka” ujar cessa dengan lembut.


Rafa membalas pelukan istrinya itu, “makasih sayang” balas rafa.


“Eheemmm, udah dong pelukannya, ni perut gue keroncongan liat makanan lezat didepan mata” sindir Dafa.


Cessa dan rafa tertawa pelan lalu melepaskan pelukan mereka.


“gak bisa liat orang mesra dikit aja” gerutu Rafa secara tidak langsung untuk menyindir Dafa.


‘puk’ rafa mendapat pukulan pelan dari cessa, “yuk kita makan aja” ajak cessa.


...🌜🌨🌨🌨🌨🌛...


1 jam setelah mereka selesai makan semuanya bermain di pinggir pantai untuk yang terakhir kalinya.


📲“Assalamualaikum bang” jawab Rafa, begitu dia menerima telepon dari Xelo.


📲“Waalaikum salam Fa, aku mau kasih info soal yang kamu tanya ke aku tadi” jawab xelo.


📲“Ya bang apa informasinya?”


📲“Gavin beberapa minggu yang lalu berinvestasi dengan perusahaan tidak benar, perusahaan palsu dan sekarang perusahaan papa mu sedang mengalami kesulitan dana akibat ulah gavin, apa yang akan kita lakukan fa? Apa perlu memberikan bantuan seperti biasanya?” tanya xelo, dia sudah tau kebiasaan Rafa ketika perusahaan papanya hampir bangkrut dia akan dengan sukarela membantu perusahaan papa nya dengan mengirimkan dana bantuan pada perusahaan papa nya.


Rafa memijat kepalanya, pria itu pusing dengan tingkah abang tirinya itu, pria itu terlalu di manja hingga dia menganggap bisnis itu dengan pandangan mudah.


📲“Haaahhh, sudah bang, tidak usah berikan bantuan, jika mereka datang ke perusahaan kita untuk meminta bantuan, jangan berikan lagi, bilang saja kita sudah tidak percaya pada perusahaan mereka yang selalu hampir colabs berkali kali” putus rafa akhirnya.


📲“Kamu yakin?” Xelo mencoba menanyakan ulang keputusan yang telah di ambil oleh Rafa, karena dia tau seperti apapun orang tuanya memperlakukan dia dengan dingin dan tanpa kasih sayang, dia akan tetap menyayangi kedua orang tuanya tanpa meminta balasan apapun.


📲“yakin, jika kita membantu mereka lagi, mereka akan menganggap bisnis itu mudah, padahal aku membangun perusahaan ku dari nol dan tanpa modal apapun dari mereka, hingga aku sudah bisa mencapai tempat yang tinggi, dengan susah payah aku mencapai posisi puncak itu, aku tidak bisa memanjakan mereka terus bang, Gavin itu tidak akan pernah berubah jika aku terus membantu papa” ucap rafa pelan.


📲“Baiklah, tapi bagaimana jika papa jatuh sakit karena hal ini?” xelo mencoba bertanya sekali lagi, dia tidak mau rafa menyesal di akhir keputusannya.


Inilah yang rafa takutkan, dia tidka ingin terjadi apapun pada papanya, dia tidak mau papa nya jatuh sakit karena keputusan yang dia buat.


📲“Fa, boleh kali ini aku memberikan nasehat?” ucap Xelo dengan lembut, karena sejak tadi rafa tidak mengeluarkan suara sedikitpun, Xelo tau rafa sedang ragu dengan keputusannya, karena masalah Kesehatan papa nya.


📲“katakan bang” ujar rafa, dia memang membutuhkan banyak masukan dari orang sekitarnya, selama ini pria itu selalu mengambil keputusan sendiri, tanpa bantuan orang lain, karena dirinya terbiasa untuk mandiri, tapi sejak bersama cessa dia mulai terbuka untuk membicarakan masalahnya pada orang sekitarnya.


📲“keputusan yang kamu ambil sudah tepat, tapi aku tau yang kamu takutkan, kita persiapkan semua system medis, jadi jika seandainya terjadi sesuatu yang membahayakan papa mu kita akan bertindak cepat, kalau perlu kita datangkan suster dan dokter ke rumah papa, bilang saja rafa hanya bisa membantu itu, rafa takut Kesehatan papa sama mama terganggu, mereka pasti mengerti fa, jika kamu masih tidak mau memberitahu jati dirimu seluruhnya, katakan saja rafa mendapat bantuan dari perusahan tempat rafa bekerja, tidak selamanya bantuan yang kita berikan itu bermanfaat fa, jika mereka selalu mengharapkan bantuan mereka tidak akan pernah bisa mandiri” jelas Xelo panjang lebar.


📲“sama-sama, terima kasih sudah mau berbicara banyak sekarang, sepertinya menikah memberikan banyak kemajuan dalam hidupmu” kekeh Xelo. Sebenarnya rafa itu tidka banyak bicara termasuk sama xelo, kalau dia buat keputusan juga, dia tidak pernah menjelaskan alasannya pada xelo, baru kali ini dia berbicara panjang dan menyertai alasan pada keputusan yang dia buat.


📲“hahhaha sepertinya begitu” jawab Rafa.


📲“baiklah aku akan melaksanakan semua permintaanmu, sepertinya beberapa hari lagi papa dan gavin akan datang ke perusahaan, jangan datang ke perusahaan, mereka akan tau jati dirimu jika kamu datang”


📲“Iya bang terima kasih” setelah itu telepon ditutup.


📲“Sudah mengatakan pada bang xelo?” tanya cessa tiba-tiba sambil memeluk Rafa dari belakang.


Rafa terkekeh pelan, karena istrinya itu mulai berani memeluknya didepan umum, ya walaupun tidak banyak orang, tetap saja itu tempat umum.


“Udah” jawab rafa sambil mengelus tangan cessa, pria itu menarik tubuh cessa ke hadapannya, lalu membalas memeluk istrinya itu, tapi dengan berhadap-hadapan.


“Seperti yang aku katakana bukan?” selidik cessa.


“iya princess, seperti yang kamu katakan, tapi aku harus mencari mansion untuk tempat juli, prince, dafa dan yang lainnya berlatih.


“di king corporation tidak bisa?” tanya Cessa.


“tidak, papa dan gavin akan berkali-kali ke sana, aku tidak yakin mereka akan menyerah dengan satu kali penolakan” gumam dafa lembut.


“Paling nanti opsi terakhir dia minta bantuan papi” gumam cessa.


“Apa papi akan membantu?” tanya Rafa.


“kemungkinan iya, tapi papi tau perusahaan mu fa, bagaimana jika papi mengatakan pada papa ali?” cessa mulai cemas memikirkan apa yang akan terjadi jika rafa ketahuan pemilik king corporation.


“Jika papa dan gavin tau, mungkin aku bisa mengejek gavin, pria itu punya gengsi yang tinggi, dia tidak akan mau mengemis padaku, sesulit apapun dia” ujar Rafa.


“Semoga seperti itu” ucap cessa.


“kamu palang merah sampai berapa hari Yang?”


“seminggu paling lama” kekeh cessa, dia juga sebenarnya juga merindukan paralon air milik rafa, lama-lama kegiatan suami istri itu menjadi kesukaan cessa.


“haahh, berarti akan lama untuk menikmati kamu lagi sayang” lirih Rafa, pikirannya melayang pada satu minggu ke depan dia dan cessa akan sibuk sekolah apa lagi mereka berada di rumah mertuanya, akan sulit untuk melakukan hubungan suami istri di rumah cessa, cessa berteriak saja satu keluarga masuk ke kamar cessa, apa lagi mendengar ******* cessa, bisa bahaya kena cecar pertanyaan dari mertua.


“kita nginap aja sesekali di apartemen kamu” ujar cessa, menjawab lamunan Rafa.


“Kamu mau sayang?” seru rafa bersemangat.


“Iya, udah bolong juga, jadi apa lagi yang mau aku pertahankan” jawab cessa, setelah itu dia mendapatkan ciuman bertubi-tubi dari rafa.


...🌜🌥🌥🌥🌥🌛...