
"Yang mau rasa apa?" tanya Rafa tanpa merasa malu sedikitpun.
"Rasa apaan?" tanya balik cessa sambil bergidik ngeri, gadis itu tampak kebingungan dengan maksud dari Rafa.
"tapi katanya pakai pelindung, ni ada berbagai macam rasa" tunjuk Rafa sambil terkekeh kecil.
Cessa langsung melotot kan matanya pada Rafa. "hah terserah lah" ucap cessa pasrah.
"aku benaran loh, ini ada rasa strawberry, ada__" Rafa tidak dapat melanjutkan ucapannya lagi karena mulut pria itu sudah di bekap oleh cessa.
"Ambil aja yang kamu suka" ketus cessa, setelah berkata begitu gadis itu melepaskan tangannya dari mulut Rafa.
"aku sukanya gak pakai apa-apa hahaha" kekeh Rafa.
cessa kembali melotot kan matanya.
"akhhh sakit sayang" lirih Rafa masih dengan tawa jenakanya, karena baru saja cessa mencubit perut suami nya itu.
"kamu ni ada-ada aja gimana itu aku, ngerasain rasanya gak ada indra perasa disitu!" geram cessa dengan suara pelan, dia tidak mau perdebatan absurd dia dengan suami di dengar oleh orang-orang.
"Pakai ini sayang" Rafa memegang bibir cessa sambil kembali tertawa kecil, sontak tangannya itu langsung di pukul cessa.
"Mesum! ihhh suami aku kok mesum banget sih" keluh cessa, ingin rasanya dia menangis di sana, kok bisa suami beruang kutub nya berubah jadi kucing garong?
"aku benaran sayang, jadi mau yang mana?" tanya Rafa lagi sambil melipat kedua tangannya di dada dan menaik turunkan alisnya.
Cessa tidak menjawab, gadis itu lebih memilih meninggalkan Rafa sambil menatap pria itu dengan mata yang memicing.
Rafa tersenyum senang, dia sangat suka menggoda istrinya itu, baginya itu adalah hobi baru yang sangat menyenangkan. Tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding menggoda istrinya dan bermain bersama cessa di atas ranjang.
Rafa mengambil asal barang yangsejak tadi dia perdebatkan dengan cessa agar bisa menyusul gadis itu.
“Sekalian beli bahan masakan untukdi villa ya, aku pengen makan masakan kamu” ujar Rafa yang sudah berada disebelah cessa.
Cessa hanya mengangguk dia masih kesal dengan suaminya yang super mesum itu.
“Mau barbeque?” tawar cessa.
Rafa mengangguk, “boleh, banyakkan iga bakar nya” ucap rafa cepat.
Cessa terkekeh suaminya itu memang sangat menyukai daging iga.
“Fa kamu yang bayar dulu ya, akum au mencari satu bahan lagi, takutnya ngantri” ucap cessa.
Rafa hanya mengagguk sambil mendorong troli menuju kasir.
.
“Ikan guramenya 2 ekor pak” ucap cessa pada penjual ikan, dia ingat abang kembarnya sangat menyukai ikan bakar, cessa jadi ingin membuatkan ikan bakar untuk abangnya itu.
“ini dia” ucap penjual sambil menyodorkanikan pada cessa.
“terima kasih pak” cessa menunduk dan Kembali menuju tempat rafa mengantri untuk membayar barang-barang mereka.
Langkah kaki cessa berhenti saat dia hendak mendekati Rafa, bukan karena rafa yang tampak santai dan dilihati oleh para Wanita tapi dari jarak sepuluh Langkah dari rafa, cessa meihat Dina sedang menatap rafa dengan lekat.
Cessa mempercepat langkahnya dan mengapit lengan Rafa, membuat pria itu sedikit terkejut dengan kedatangan cessa yang tiba-tiba.
“Kenapa sayang?” tanya Rafa bingung.
Cessa menggeleng pelan lalu Kembali menoleh kea rah tempat dia melihat dina tadi, tidak ada siapapun disana, bahkan seperti tidak terlihat siapapun ada disana.
“Liat apa?” tanya Rafa lagi karena cessa tidak menjawab pertanyaannya.
“Dina” jawab cessa, wajah gadis itu sudah sedikit pucat.
“Dina? Hahahha sayang kamu ini ada-ada aja, si din aitu sudah dimasukkan kedalam rumah sakit jiwa, jadi tidak mungkin dia ada disini” ucap rafa, pria itu tertawa kecil setelah berkata begitu.
“Aku yakin tadi aku liat dina, fa coba tanya bang xelo, apa benar gadis itu ada di rumah sakit jiwa” kata cessa, sedikit mendesak Rafa.
Rafa hendak menolak tapi melihat wajah istrinya yang sedikit ketakutan rafa akhirnya mengalah dan mencoba menelpon Xelo.
“Assalamualaikum bang”
“Waalaikum salam, kenapa fa?” tanya Xelo dari telepon.
“minta tolong apa fa?” tanya xelo.
“Bisa carikan dimana keberadaan Dina saat ini?” pinta rafa, dia mulai menjelaskan jika istrinya melihat Dina di bali, tapi rafa sangat yakin dina ada di rumah sakit jiwa.
“Oh baiklah, nanti aku hubungi lagi ya” ucap xelo.
“Iya bang makasih” ucap rafa. Lalu mematikan teleponnya.
“nanti dia kabari, udah gak usah cemas gitu, hayalan itu, gak mungkin dia ada disini” ucap Rafa berusaha menenangkan istrinya, sambil mengelus punggung cessa dengan lembut.
“Aku tidak takut menghadapi Revi, karena dia memiliki rasa takut, aku bisa mengancam dia, tapi aku sedikit takut dengan Dina, karena gadis itu gila, dia tidak akan main-main dalam membalas dendam ataupun mendapatkan khayalannya menjadi kenyataan” ungkap cessa.
“Tenang ya, aku yakin yang tadi itu hanya hayalan kamu” ucap Rafa.
Cessa mengangguk pelan, dia memangberharap itu hanyalah hayalannya sendiri.
.
Rafa mengangkat semua belanjaan yang berat sedangkan cessa mengangkat belanjaan yang ringan, kedua pasangan itu berjalan saling bergandengan tangan menuju taxi yang tadi menunggu mereka berdua berbelanja.
“Udah semua?” tanya si supir. Saat menutuk jok belakang.
“Udah pak, jalan aja lagi” ucap Rafa.
“Bli kemana lagi?” tanya Si supir.
“Tadi kan saya bilang udah semua pak, gak beli beli lagi” ucap rafa.
“Iya bukan itu maksud saya, bli mau kemana” ulang si supir.
“Bapak budek ya, saya bilang udah beli semua, gak ada beli beli lag__”
‘puk’ cessa menepuk paha Rafa dengan keras. “Maaf pak, otaknya sedang konslet” kekeh cessa, lalu gadis itu menyodorkan selembar kertas kepada si supir untuk menuju vila yang sudah dipesan oleh rafa.
“yang kok aku di pukul, yang salah bapak itu karena gak dengar”
“Udah berapa kali kamu kebali?” tanya cessa.
“udah sering, emang kenapa?” balas Rafa.
“Bli yang dimaksud berbeda dengan Beli” tegas cessa, dia sedikit menekankan kata bli pada Rafa.
Otak Rafa baru connect, pria itu menepuk keningnya sendiri sambil terkekeh pelan, “aduh maaf pak, saya lupa, arti kata bli” kekeh rafa.
“Gak apa bli” ucap si supir.
“Kok bisa-bisanya lupa” ledek Cessa.
Rafa mencubit gemas pipi cessa yang sedang merengut, “wajar sayang, kalau aku di dekat kamu itu selalu kena tegangan tinggi makanya bisa konslet seperti ini” kekeh Rafa.
“Rafa!” geram cessa, gadis itu berusaha mengingatkan ada orang lain yang ada didalam mobil bukan hanya ada dirinya.
“hehehe gak apa sayang, makin malu-malu gini aku makin suka tau” bisik rafa tepat disebelah telinga cessa membuat gadis itu bergidik ngeri.
Baru saja Cessa hendak membalas ucapan Rafa, si supir lebih dulu bersuara. “Bli sepertinya kita diikuti” ucap supir itu.
“di ikuti?” rafa menoleh melihat kebelakang mobil taxi yang dia naiki. “sejak kapan bapak sadar kita diikuti?” tambah rafa.
“Sejak di hotel, tapi saya kira itu Cuma hayalan saya saja, tapi ternyata saat kita ke supermarket tadi mobil itu juga berhenti” ucap si supir.
Rafa menoleh pada istrinya, dia takut cessa kenapa-kenapa, tapi ketika matanya menatap mata cessa, di sana terpancar energi yang ingin membara.
“kamu gak takut sayang?” tanya rafa heran.
“aku bisa bela diri jika kamu ingat, sekalian olah raga udah lama juga gak olah raga” jawab cessa.
“Tapi kita gak tau lawannya seperti apa” jawab rafa.
“tenang aja, kita hadapi bersama” jawab cessa sambil menggenggam tangan suaminya itu.
...🌜🌥🌥🌥🌥🌛...