Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
163. Penolakan



Papa ali menatap putra bungsunya dengan mata merasa bersalah, “Fa, papa minta maaf telah mengabaikanmu selama ini, tapi kamu tetap selalu berusaha menolong papa” ujar papa Ali.


Rafa menghela nafas panjang, “sudah la pa, Rafa gak pernah marah dengan sikap papa, mungkin ini adalah pembelajaran hidup buat rafa, jadi papa dan mama jangan merasa bersalah dengan hidup rafa sekarang”.


Papa ali mengangguk dan mengelus puncak kepala Rafa. “papa gak menyangka putra bungsu yang jarang papa beri perhatian dan kasih sayang lebih perhatian dan sayang pada papa disbanding butra yang papa beri kasih sayang penuh” ujar Papa ali.


Rafa membalas ucapan papanya dengan senyuman hangat, “jadi gimana dengan perusahaan papa?” tanya Rafa.


“Yah, berkat tuan Xelo papa tidak jadi bangkrut, tapi sekarang papa bingung mau kemana usaha ini akan papa bawa, apa kamu mau menggantikan papa nak?” Papa ali yang masih belum mengetahui pemilik asli dari perusahaan yang sering membantunya masih menganggap Xelo adalah penyelamat perusahaannya setelah putra bungsunya.


“Maaf pa, sejak awal papa buat perusahaan itu untuk gavin, jika papa tidak mau gavin yang memimpin perusahaan papa lagi, tunggu saja Gavin punya anak, berikan perusahaan itu pada cucu papa, dan didik cucu papa dengan baik, jangan terlalu dimanja, dia akan menjadi anak yang hebat jika papa pandai mendidiknya dengan baik” tolah Rafa secara halus.


“mau anak dari siapa fa? Gavin beberapa hari yang lalu sudah resmi bercerai dari istrinya, tidak ada rujuk karena sudah terucap talak 2 dari mulut pria itu” ujar papa ali.


Rafa sedikit terkejut mendengar pernyataan papa ali, tapi di mampu mengontrol ekspresinya menjadi datar kembali, karena akhir-akhir ini dia sibuk tentang xelo yang hendak menikah dan pertandingan yang memasuki babak final, rafa jadi sulit untuk memata-matai Gavin dan Revi, jadi dia tidak tau mereka sudah resmi bercerai.


“Papa belum ada bertemu dengan gavin, bagaimana papa bisa tau mereka bercerai?” tanya Rafa.


“Revi datang ke rumah mau mengambil sisa barangnya yang ada di kamar, saat tulah papa tau mereka sudah bercerai” jawab papa ali, “Fa, tidak bisakah kamu saja yang menggantikan papa?” pinta papa ali sekali lagi, dia tau putra bungsunya itu mampu untuk membesarkan nama perusahaannya dibanding dengan gavin.


Sekali lagi Rafa menggelengkan kepalanya, “maaf pa, rafa tidak bisa, tunggu saja, gavin pasti akan minta maaf pada papa dan mama atau papa suruh orang lain yang mengurus papa hanya terima beres saja, tapi jika papa minta Rafa, rafa gak bisa pa, maaf” tolak Rafa sekali lagi, dia tidak ingin mengambil alih perusahaan yang sejak awal bukan dibuat untuknya, itu adalah perusahaan papa ali dan istri pertamanya ditujukan untuk putra mereka gavin, sementara rafa bukan adalah orang baru disana.


“papa gak bisa memaafkan gavin lagi nak, papa sudah menyerah padanya, papa tidak akan bisa memaafkannya” ujar papa ali.


Rafa tidak tau apakah dia harus senang atau harus sedih setelah mendengar ucapan papa ali, pria itu kehilangan ekspresi dan kata-kata jika sudah berhadapan dengan kedua orang tuanya, mungkin karena sering berharap dan berkali-kali ditolak dan dihancurkan membuat Rafa kehilangan semua ekspresinya jika sudah dihadapan kedua orang tuanya.


Ingin rasanya rafa bersikap normal seperti dia bersama keluarga cessa, tapi entah kenapa otak pria itu selalu blank untuk merangkai kata-kata dalam berbicara.


“maaf pa, Rafa tetap tidak bisa” tolak Rafa lagi, entah untuk yang keberapa kalinya, “Rafa ketempat cessa dulu ya pa” pamit Rafa, dia tidak mau melihat wajah sedih papa ali lagi, tapi dia juga tidak bisa membantu papa ali, semua yang ada di perusahaan itu bukan untuk rafa, sejak mengetahui jika dia tidak memiliki ibu yang sama dengan gavin, Rafa merasa semakin marah, dia adalah anak mereka juga namun selama 18 tahun dia hidup tidak pernah sekalipun rafa mendapatkan kasih sayang utuh dari kedua orang tuanya.


**


Saat ini hanya papi ali, prince, dafa dan juga Xelo yang ada di dalam ruang hias pria, para MUA sudah hilang karena wajah Xelo tidak perlu dimake up tebal hanya kesan memperjelas rahang saja.


“Bang, kalau udah sah, abang bakal belah duren gak?” celetuk dafa.


Xelo menatap tajam dafa, “dia masih 17 tahun dan masih kelas dua SMA, tidak mungkin abang belah duren” jawab xelo.


“Siapa yang bilang lebih lama?” tanya papi harry.


“kan tunggu Ellen lulus baru belah duren pi, berarti lebih lama dong” seru prince bersemangat, dia sangat senang ada yang senasib dengannya masih lama belah duren.


“Salah kamu prince” ujar papa harry, “Xel papa kasih tau, jangan sok bilang tidak akan memperkeos istri kamu sebelum dia lulus, liat Rafa akhirnya dia gak tahan dan sudah melakukannya sebelum cessa lulus, apa lagi kamu belum tau istri kamu, siapa tau istri kamu mau memberikan haknya padamu tapi semangatnya langsung hilang saat kamu bilang tidak mau melakukan itu”nasehat papi harry.


“jadi xelo harus gimana pi?” xelo yang tidak punya guru ataupun orang dewasa yang mengajarinya harus belajar semuanya sendiri, untung ada papi harry yang bisa berperan sebagai papi penggantinya, yang bisa memberikannya nasehat.


“tanyakan pada istri kamu, jangan mengambil keputusan sendiri, setelah menikah jangan pernah mengambil keputusan yang harusnya diambil bersama tapi kamu mengambil keputusan itu sendiri, berbagilah dengan istri kamu, dia akan merasa senang jika kamu mau berbagi dengannya, dia akan merasa dibutuhkan, dan dihargai, banyak cara untuk menunda kehamilan, salah satunya memakai pengaman jadi kamu masih tetap bisa melakukan hal enak apa lagi sudah sah, jadi gak berdosa” nasehat papi harry diselingi juga dengan sedikit candaan.


Xelo mengangguk mengerti, “makasih pi” ujar Xelo.


“Prince, jangan cemburu, kalau mau cepat-cepat belah duren sana bujuk mertua kamu” ledek papi harry pada putra keduanya.


“Iya-iya” jawab prince sambil tegak dari kursinya.


“hei! mau kemana kamu prince?” seru papi harry.


“bujuk mertua, dari pada disini diledekin papi terus, mending Prince pergi” ujar prince dengan tawa kecil.


“bagus, bujuk sana” kekeh papi harry. Memang benar kedua orang tua Juli diundang dalam acara malam itu, jadi prince bisa saja membujuk mertuanya itu.


Papi harry melirik Dafa yang asik bermain game di poselnya.


“kamu gak berniat nikah muda daf?” selidik papi harry.


Dafa menghentikan permainannya, “niat pi, tapi orang tua devi gak bisa hadir, terus dafa mau bujuk siapa dong?” orang tua devi memang sedang tidak bisa hadir karena harus menghadiri acara lain yang sudah terlanjur diterima dan acaanya diluar kota, jadi mereka tidak bisa hadir.


“hahahaha kasian” ledek papi harry.


...🙈🙈🙈🙈🙈...


maaf ya author sedang sakit kepala, jadi salah masukkan 🤭🤭🤭🤭 nanti ya author up lagi sebagai gantinya