Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
87. Kena Sindir



“baiklah sekarang aku akan mengatakan tujuan aku membuat basecamp ini” ucap rafa.


Semuanya diam menatap rafa serius. “Aku mau kalian fokus pada pertandingan kalian, tenang saja setiap bulan yang kalian lalui di sini akan dibayar, anggap saja kalian sedang bekerja bersamaku, tugas kalian hanya berlatih dan sesekali online untuk menyapa para penggemar kalian, aku sudah membuat pengumuman di internet jika King Corporation akan mendidik beberapa pemain andalan untuk berlatih pada pertandingan yang akan datang, kalian juga harus sering berlatih melawan orang secara random sambil live secara langsung, masalah sekolah bagi yang masih sekolah, aku juga sudah menyiapkan catatan untuk kalian belajar juga, walau kalian bermain game sekolah tetap menjadi prioritas kalian, aku akan membantu kalian di keduanya, jadi kalian tenang saja, dan jika kalian ingin menginap disini silahkan, aku sudah mempersiapkan kamar kalian masing-masing disini, tinggal pilih sendiri dan buat nama kalian didepan pintu, khusus untuk juli sudah disiapkan sebelahan dengan prince, jadi jangan ada yang mengambil posisi kamarnya, dan Devi, kamu juga bisa ambil satu kamar disini jika mau menemani juli atau kekasihmu disini” jelas rafa sedikit panjang dari biasanya. Memang saat ini Devi ada di sana entah menemani Juli atau mau menemani kekasih barunya.


“aku beneran boleh ikut juga?” tanya Devi.


Rafa mengangguk, “boleh, tapi aku tidak bisa membayar mu, karena kamu tidak ikut andil disini” ucap rafa. Dia ingin profesional dalam bekerja.


“yup! No problem, tapi gue boleh ya ikut belajar bareng” ucap devi.


Rafa mengangguk, “boleh aja kok, ya udah sekarang kalian pilih kamar kalian dan ambil barang-barang kalian, jika kalian ingin menginap tapi kalau tidak mau menginap juga tidak apa, berikan ini pada orang tua kalian, ini adalah pernyataan ku sebagai pemimpin perusahaan dan sertifikat jika kalian lulus sekolah kalian tetap dikontrak oleh perusahaan ku, dan juga tertera gaji kalian di sana, aku yakin mereka akan setuju, dan juli aku yang akan memohon sendiri pada orang tuamu, untuk mengizinkanmu menginap disini” ucap rafa, dia tau diri, juli adalah anak perempuan, orang tuanya pasti takut jika anaknya menginap dimana banyak cowok di sana.


“Biar aku aja fa yang minta izin ke orang tua Juli” potong prince, dia menggenggam tangan juli kekasihnya itu.


“Tapi aku yang_” ucapan rafa terhenti.


“Iya fa, gak apa, biar prince aja, surat kamu ini juga udah cukup, orang tua aku juga gak sesulit itu melarang kok, tenang aja” potong juli.


Rafa akhirnya mengangguk, “udah ni ambil dan pilih kamar kalian” perkataan rafa membuat semua orang yang ada di sana berlari mengambil surat itu dan berlari melihat-lihat kamar-kamar yang ada.


Cessa tersenyum dan menyandarkan kepalanya pada bahu rafa. “kamar kita gimana?” bisik cessa didekat telinga suaminya itu.


Rafa merinding merasakan nafas hangat cessa menerpa lehernya, “princess jangan menggodaku” balas rafa dengan berbisik juga.


Cessa menjauhkan badannya dari rafa tapi langsung ditahan Rafa, pria itu kembali memasukkan cessa kedalam pelukannya.


“Tapi katanya gak mau tergoda, ini apa tarik-tarik” tunjuk cessa pada tangan rafa yang merangkul bahunya agar cessa berada dalam jangkauannya.


“Boleh kok godain aku princess, tapi dikamar kita aja, biar enak langsung main” ucap rafa dan langsung menggendong istrinya itu memasuki lift.


“Ahhh andai gue juga punya istri juga” ucap Rendi sambil kembali memasuki kamarnya, dia adalah adik angkat xelo di panti asuhan, dia merasa sangat beruntung, diajak untuk ikut kedalam pertandingan itu, karena dia tidak perlu tidur sempit-sempitan di panti asuhan, dan di sana hidupnya terjaga, dia senang rafa orang yang sangat baik, pria itu juga membantu beberapa orang di panti asuhan untuk bekerja bersamanya, bahkan anak-anak di panti semuanya dibiayai rafa dalam menempuh pendidikan mereka.


“Ingat umur! Masih 16 tahun udah pengen punya istri” ledek Alif, dia juga salah satu adik angkat xelo dari panti asuhan. Pria itu, rendi dan satu lagi yang bernama Jaka diajak rafa untuk ikut dalam pertandingan walau alif hanya cadangan, dia tetap diperlakukan sama dengan yang lain, gajinya juga tidak beda dari pemain inti. Ketiga orang itu memilih kamar dilantai 3 karena mau berdekatan sedangkan di lantai 2 Cuma sisa 1 kamar yang kosong, jadi mereka memilih kamar lantai tiga, sebenarnya semua fasilitas di setiap kamar tetap sama, hanya jenis furniture dan warna kamar saja yang berbeda, tapi rafa membebaskan mereka untuk merombak kamar milik mereka.


...🌜🌧🌧🌧🌧🌛...


Prince pulang kerumahnya untuk mengambil beberapa barangnya untuk diletakkan di kamar barunya, dia sangat menyukai kamarnya di basecamp dia ingin langsung memindahkan beberapa bajunya ke sana.


“mau kemana kamu Prince?” tanya papi harri yang ada di meja makan, kebetulan papi harri, king, dan mami dona sedang makan bersama di sana.


“hehehe nginap pi, ikut cessa nginap di basecamp” ujar Prince.


“kalau rafa dan cessa papi tau niat mereka untuk melakukan apa, tapi kamu? Ngapain ikut nginap juga? Mau nonton pertandingan gulat Rafa dan cessa?” tanya papi harri blak blakan.


Prince menepuk keningnya, bisa-bisanya dia punya orang tua yang ngomong gak pernah ada filter, “ngapain juga prince ikut nonton gulat cessa dan rafa, orang prince mau nginap di kamar prince sendiri yang ada di basecamp, prince ikut pertandingan dan biar mudah prince tidur di sana, biar gak menghabiskan waktu pi” ucap prince, tidak lupa prince juga memberikan surat rekomendasi yang diberikan rafa kepada papinya itu.


“Oohh, bukan mau nonton tanding gulat?” kekeh papi harri.


“Bukanlah pi, lagian pintunya dikunci cessa, jadi gak bisa prince masuk untuk nonton” emang kalau bapak rada somplak, anaknya pasti juga seperti itu. Mami dona sampai geleng-geleng kepala mendengar pembicaraan kedua bapak dan anak itu. “prince ingin menata masa depan prince pi, itu ditulis kan pekerjaan dan gaji prince, perusahaan papi biar abang king aja yang urus, prince gak punya kemampuan dalam bisnis, prince Cuma tau teknologi dan game, jadi prince berikan semuanya pada abang king” lanjut king lagi.


“emang kamu gak mau bantu abang kamu? Kasian itu sangking sibuknya dia kerja sampai sekarang belum ada juga pacar yang mau dia kenalkan ke papi” sindir papi harri. King sampai tersedak dengan makanannya begitu mendengar sindiran menohok dari papinya.


Niat hati ingin makan dengan tenang di rumah menikmati makanan buatan mami nya, malah dapat sindiran pedas dari papi nya.


...🌜🌤🌤🌤🌤🌛...