Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
102. Sudah di rekam



“Surat izin itu apa daddy?” tanya Farel.


“Izin jadi daddy farel dan Darel, mommy kalian belum mau” King memanfaatkan kesempatan itu untuk mendapatkan persetujuan dari Queen, masalah kurang romantic itu di hitung nanti aja, mending harus dapat izin menikahi lalu baru urusan romantisnya menyusul.


“Mom, boleh ya daddy king jadi daddynya farel dan Darel” kedua anak kembar Queen menatap Mommy mereka dengan mata memelas.


“Kak, please terima, kasian ngejomblo bertahun-tahun” Prince pun ikut memohon pada Queen, king yang mendengar ucapan Prince ingin mengumpat tapia pa daya didepannya ada anak kecil, umpatan itu akhirnya dia simpan dulu untuk nanti menghajar adik lelakinya itu setelah Queen dan si kembar tidak ada.


“Iya kak, kasian setiap hari mainnya Cuma sama sabun di dalam kamar mandi, belum pernah terjamah dengan apapun kak, kecuali sabun yang sudah berkali-kali menjadi pelampiasan” cessa menambahkan ucapan yang keluar dari mulut saudara kembarnya. Queen mengulum senyum mendengar ucapan Prince dan cessa, sementara king, wajah pria itu sudah seperti kepiting rebus, king tidak habis pikir punya adik-adik dan orang tua yang mulutnya emang gak pernah ada filternya.


“Bisa di tes kak, kalau gak percaya masih orisinil” Rafa yang sejak tadi diam ikutan berbicara. Membuat semua orang yang ada disana menatap Rafa dengan bengong dan heran.


King menepuk jidatnya, bahkan sampai adik iparnya ketularan virus dari keluarganya, bisa bahaya Queen bertemu dengan orang tuanya bisa merinding King membayangkan hinaan apa yang bakal keluar dari mulut keluarganya.


“Momm…” sekali lagi Faren dan ada Darel memelas menatap Queen.


Queen akhirnya tersenyum dan mengangguk, “baiklah, boleh” jawab Queen.


“CiHUUUiiiii” teriak king berbarengan dengan kedua anak sambungnya. “Prince udah direkamkan?!” tanya king pada Prince adiknya.


“Beres, terekam dengan sempurna” jawab prince dengan menaik turunkan alisnya.


“rekam?” beo Queen.


“Prince merekam pembicaraan kita tadi kak, jadi kakak gak bisa lari lagi dari si jomlo akut itu” terang Cessa dengan memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


“Maksudnya?” Queen masih tidak mengerti maksud dari ucapan Cessa.


“Kalau kakak menolak abang, udah ada bukti di tangan prince ucapan kakak yang menerima itu, jadi kakak udah gak bisa lari lagi” juli ikutan menjelaskan ucapan Cessa.


Prince mengelus puncak kepala tunangannya itu,”ihhh pintar banget sih tunangan aku” puji Prince.


“hoiiii sadar diri woii, masih banyak orang disini, apa lagi ada anak kecil” protes Dafa pada prince dan juli yang tampak bermesraan.


“Alah iri aja, tuh pegang pacar lo disebelah, iri bilang, biar devi pegang tangan lo” sindir Prince.


Queen tertawa pelan, makan malam bersama seperti itu sudah sangat lama tidak pernah dia rasakan, dia hanya makan malam bersama kedua putra kembarnya, keluarga Queen sudah tidak ada dan ini pertama kalinya ada keluarga yang menyambut baik dirinya, biasanya mereka memandang rendah Queen dan menganggap gadis itu sebagai pelac*r karena keberadaan kedua putra kembarnya disaat dia masih berusia 17 tahun.


Senyum dan tawa Queen tertular pada king, pria itu senang Queen mulai terbiasa dengan suasana kekeluargaan yang ada disana, dia senang kedua adiknya memiliki pemikiran yang sama dengannya, untuk merekam ucapan Queen, jadi dia tidak bisa menolak lagi untuk menjadi pendamping hidupnya.


.


“Makasih ya kak, makan malamnya” ucap cessa, saat ini Queen dan ke dua anak kembarnya akan pulang ke rumah mereka.


“iya, sama-sama, makasih juga udah nemani si Kembar main” balas Queen, dia menatap kedua anak kembarnya yang di gendong oleh king di tangan kiri dan kanan, pria itu sangat telaten menjaga kedua putranya.


“kapan-kapan bolehkan cessa undang untuk masak disini lagi?” tanya cessa.


Queen mengangguk, “boleh panggil aja kakak, gak perlu di jemput” jawab Queen.


...🌜🌞🌞🌞🌞🌛...


King dan Queen tampak canggung didalam mobil, saat ini si kembar sedang tertidur di kursi belakang.


“Makasih Queen” suara king lebih dulu memecahkan keheningan di sana.


“ada yang kamu pikirkan?” tanya king lagi, karena melihat Queen termenung menatap jalanan.


Queen menatap king yang sedang menyetir. “Apakah kedua orang tuamu benar-benar akan menerima ku?” tanya Queen.


King tertawa pelan, “itu toh yang kamu takutkan, liat kan adik-adikku tadi saat makan malam, kedua orang tuaku tidak terlalu jauh beda dari adik-adikku, bahkan aku takut mempertemukanmu dengan mereka karena takut aib ku mereka bongkar semua” kekeh King.


“Apa benar kamu belum pernah pacaran?” Queen bertanya dengan menatap wajah king yang sedang menyetir.


Wajah king langsung berubah merah hingga ke telinganya. “bisakah jangan membahas itu” elak king, dia malu sebagai pria yang belum pernah punya pengalaman.


“aku penasaran, ap aitu benar?” Queen mengulangi pertanyaannya.


King akhirnya mengangguk pelan, “benar, semua aibku tadi sudah dibongkar oleh adik-adikku” ungkap King.


“berarti yang sabun juga__”


“Kecuali itu, itu hanya hayalan cessa aja” potong king cepat.


Queen mengulum senyumnya dan menahan tawa yang akan keluar.


“benaran! Mana mungkin aku melampiaskan dengan sabun” ujar King, dia tidak mau Queen berpikir dia cab*l.


“Iya-iya aku percaya” kekeh Quen tapi masih terdengar suara tawanya yang kecil.


“Benaran Queen, aku serius” ucap king lagi.


“Berarti belum pernah mimpi basah dan si itu tegang dong?” ledek queen.


Muka king semakin memerah, “udah jangan dibahas, kalau masih dibahas aku cium kamu disini” ucap king, untuk mengalihkan pembicaraan, sepertinya pria itu sudah mulai berani karena telah diterimamenjadi daddy si kembar.


...🌜🌤🌤🌤🌤🌛...


“Jadi perusahaan papi tidak jadi bangkrut?” tanya Rafa pada Xelo.


“Tidak, papa mu berhasil mengambil kepercayaan investor, walau kita tidak membantunya, dia tetap masih bisa naik dengan mengatakan mengenal kita, dan kita pernah berinvestasi kepada mereka” jawab Xelo.


Rafa terdiam, memang benar, jika mengatakan nama perusahaannya banyak perusahaan yang ingin bekerja sama dengannya, apa lagi yang ada bukti kalau perusahaannya pernah berinvestasi disana, bakal banyak perusahaan yang ingin bekerja sama berharap akan menjadi jembatan untuk mendekati perusahaan yang rafa miliki.


“bagus lah, biarkan saja dulu, selama kita tidak membantunya, bisarkan mereka berkembang sendiri, kita tidak perlu membantu lagi, dan jangan menghancurkan perusahaan itu, biar si gavin sendiri yang menghancurkan perusahaan papa. Ucap Rafa.


“ya udah, ni udah malam, istri lo gak nungguin di Kasur? Gak gulat kalian?” kekeh Xelo.


“mau tau aja, assalamualaikum” Rafa langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Xelo.


.


‘Ceklek’ Rafa membuka pintu kamarnya, sejak tadi dia berada di ruang kerja milik papi harri, kebetulan pria itu sedang tidak menggunakan ruang kerjanya, jadi rafa lah yang memakainya, untuk menyelesaikan pekerjaan dia yang tertunda.


“masih ingat istri?!” sindir cessa begitu suaminya masuk kedalam kamar.


...🌜🌥🌥🌥🌥🌛...