
Rafa dan Cessa sampai di depan gedung besar bertuliskan Ali Group, itu adalah perusahaan milik papa Rafa. Di Sana bukan hanya satu atau dua perusahaan yang ada, tapi banyak perusahaan yang menjadi satu.
Rafa menggenggam tangan istri nya sambil memasuki gedung megah itu.
"Selamat datang tuan muda" sapa para karyawan ketika melihat Rafa memasuki gedung itu, mereka tau Rafa adalah anak dari direktur utama disana.
Rafa hanya menjawab salam mereka dengan sedikit menundukkan kepala, pandangan para karyawan itu beralih pada gadis manis yang digengam tangannya oleh Rafa, Cessa hanya tersenyum manis dan menunduk sesekali menyapa orang yang melihatnya.
"Jangan senyum sama cowok" bisik Rafa, kini dia sengaja meletakkan lengannya pada cessa dan membuat gadis itu lebih mendekat padanya.
"ihh cemburu nya gak tau tempat" gerutu cessa, tapi dia akhirnya mengikuti perintah suaminya, bukankah membantah suami itu berdosa?
.
"Papa ada di ruangannya?" tanya Rafa pada sekretaris papa nya yang berada diluar.
"Ohh tuan dan nona di persilahkan langsung masuk" ucap sekretaris itu.
"Terima kasih" balas Rafa singkat, dia kembali menggenggam tangan istrinya untuk masuk ke dalam ruang kerja papanya.
'Tok tok tok'
"Assalamu'alaikum, pa ini Rafa" salam Rafa.
"Waalaikumsalam masuk nak" perintah papa Ali.
Rafa dan cessa langsung masuk ketika sudah mendapat sahutan dari dalam ruangan.
"kamu dan Cessa mau minum apa?" tanya papa Ali.
"Gak usah pa, Rafa habis ini ada janji penting, langsung aja ke cerita papa" ungkap Rafa, dia tidak mau papanya berbelit belit, karena dia ingin tau apakah mamanya perebut suami orang atau kedua orang tuanya memang saling mencintai.
Papa Ali menghela nafas panjang, "Jadi apa yang ingin kamu ketahui?":tanya papa Ali.
" apakah mama orang ketiga dalam pernikahan papa dengan istri pertama papa?" tanya Rafa to the point.
Papa Rafa mengeleng, "Istri pertama papa meninggal karena komplikasi" jawab papa Rafa.
"lalu bagaimana papa dan mama menikah?" tanya papa lagi.
"Baiklah papa akan cerita kan semuanya" papa Ali menatap sendu putra bungsu nya, sudah terlalu lama dia tidak sedekat ini memperhatikan Putranya itu, dia terlalu sibuk dengan Gavin sampai hari ini dia tidak tau jika putranya itu sudah bisa berusaha sendiri tanpa dirinya.
Papa Ali juga sama sekali tidak tau apa yang disukai dan tidak disukai putra bungsu nya itu.
"istri pertama papa meninggal saat umur Gavin berumur 4 tahun, enam bulan setelah itu papa di nikahkan dengan mama kamu atas permintaan kedua orang tua papa, mereka tidak ingin Gavin tumbuh tanpa ibu" Papa Ali menjeda kalimatnya.
"Papa, awalnya tidak menyukai mama, tapi seiring berjalannya waktu papa jatuh cinta akan ketulusan mama dalam merawat Gavin. Saat cinta papa dan mama mulai tumbuh kamu hadir dalam hidup kami, dan disini lah kesalahan papa dan mama, kami mungkin saat itu terlalu memperhatikan mu Gavin yang masih berumur 6 tahun menjadi merasa terasingkan, dia mulai mengamuk dan sering membuat ulah, papa dan mama sangat sulit mengontrol sifat Gavin saat itu, lama kelamaan perhatian kami yang awalnya pada dirimu kembali padanya, dan saat itu Gavin kembali menjadi anak baik, tapi setelah semakin kamu dewasa, Gavin semakin merasa tertandingi, mungkin karena itu dia membencimu"
Papa mengakhiri ceritanya. dan menatap Rafa yang masih tertunduk mencerna semua cerita.
"Maaf kan papa dan mama, kami tau kami tidak baik menjadi orang tua, karena anak-anak kami saling bermusuhan, tapi Fa, jangan terlalu membenci abangmu, papa janji dia tidak akan merebut istrimu, papa akan menjodohkan Gavin dengan orang lain, papa yakin dia hanya tidak ingin kalah darimu, bukan berarti dia menyukai istrimu" ucap papa ali.
Rafa mengangguk, "Rafa bersyukur ternyata mama tidak merebut papa dari mama Gavin, Rafa cuma ingin tau itu, mengenai hubungan Rafa dan Gavin itu urusan Rafa, papa tidak perlu khawatir" Rafa menggenggam tangan Cessa, "Pa Rafa pamit ya, Teman-teman Rafa udah nunggu"
"iya, Hati-hati dijalan" sahut papa Ali.
...🌜🌤🌤🌤🌤🌛...
"Ada apa?" tanya Rafa dia berhenti berjalan dan menatap lembut Cessa.
"Jika aku meninggal duluan ni, dari kamu, apa kamu akan nikah lagi?" tanya cessa.
Rafa menahan senyumnya mendengar ucapan Cessa, "Ya tergantung".
" Kok tergantung sih? kamu mau gantung diri kalau aku gak ada gitu?"
"Tergantung kalau udah punya anak gak bakalan nikah lagi tapi kalau belum ya nikah lagi" kekeh Rafa.
Cessa cemberut mendengar jawaban dari Rafa, "Jawabannya yang romantis dikit bisa gak, bikin kesal aja" Cessa melepas pegangan tangannya dari tangan Rafa dan memilih berjalan secara cepat.
'hup' Rafa memeluk Cessa dari belakang untung saja saat ini keduanya sedang berada di parkiran dan sedang sepi.
"Bercanda, jangan cepat ngambek gitu" ucap Rafa tepat di telinga Cessa.
"Fa, nanti dilihat orang, malu ahh" Cessa berusaha melepas tangan Rafa yang tengah memeluk nya.
"Makanya jangan ngambek" ucap Rafa lagi tapi masih tidak maun melepas pelukannya.
"Iya-iya gak ngambek" seru Cessa.
"Aku tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya, dan jangan pernah tanya seperti tadi, karena aku gak bisa menjawab itu, tapi aku cuma bisa pastikan selama aku masih bisa bernafas, selama itu aku akan selalu hanya melihatmu" ucap Rafa, ucapan itu mampu membuat Cessa terdiam. Hingga diamnya gadis itu membuat kesempatan emas bagi Rafa untuk membalik badan Cessa hingga wajah mereka berdua saling berhadapan.
"Jangan pernah pertanyakan hal itu lagi ces, janji?" Rafa menempelkan kening mereka berdua.
"Jangan sakiti dirimu dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan membuat hati kamu sakit, pikirkan saja tentang kebahagiaan kita bersama" lanjut Rafa lagi.
Cessa hanya mampu mengangguk pelan detak jantung gadis itu sudah tidak dapat di kontrol, Rafa mampu menjungkirbalikkan hatinya dalam sekejab.
"Jika kamu diam begini aku jadi ingin melakukan lagi" gumam pelan Rafa.
"lakukan apa?" tanya balik cessa dengan wajah polos.
Tanpa menjawab Rafa menempelkan bibirnya dan bibir Cessa cukup lama, dan memberikan sedikit lumayan.
Setelah ciuman itu terlepas cessa menunduk malu, muka gadis itu sudah semerah tomat.
"Biar terbiasa, jadi nanti pas buka duren gak canggung lagi" kekeh Rafa. Pria ini bisa dibilang kadang romantis, kadang so sweet kadang ngeselin.
"Buka duren lagi, maksudnya apaan sih" kesal cessa, karena sejak pagi dia ditertawakan sebab hanya dia yang tidak mengerti arti buka duren.
"Mau tau arti buka duren?" tanya Rafa.
"Mau!" jawab cessa cepat.
"Kemari, mendekat" cessa segera mendekat sesuai perintah Rafa.
"Malam pertama, S**s, buka keperawanan wanita" bisik Rafa, setelah itu dia meninggalkan Cessa yang bengong disana.
Rafa sudah tertawa keras melihat wajah istrinya yang memerah.
"Rafa!!!!" teriak cessa, gadis itu berlari mengejar Rafa dengan cepat.
...🌜🌥🌥🌥🌥🌛...