Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
210. Romantis



Rafa memetik satu buah stroberry mencuci dan mengelap sisa airnya setelah itu baru memberikan pada cessa. “ini sayangku, mau lagi?”


Cessa masih cemberut sambil memakan buat yang rafa berikan padanya. Wanita hamil itu masih terlihat kesal saat ini.


Rafa mengulum senyumnya dan mencolek dagu istrinya, setelah itu memberikan ciuman pada bibir istrinya tidak peduli ada beberapa karyawan perkebunan yang melihatnya, saat ini si ibu hamilnya sedang ngambek, dan akan sangat sulit membuat ibu hamil itu kembali ceria.


“waahhh manis banget ya buah yang dipetik pagi-pagi” gumam rafa, karena tadi dia sempat merasakan buah yang tersisa dalam mulut istrinya.


“lagi” kata cessa singkat.


Rafa kembali mencium istrinya itu, kali ini sedikit lebih lama dari yang pertama, dan itu kembali menjadi tontonan, beberapa karyawan yang punya pasangan berharap segera pulang dan mencium pasangan mereka beberapa yang belum memiliki pasangan menonton dengan iri, termasuk Nita yang berada sangat jauh mata gadis itu menatap benci, kesal dan marah.


“aku juga bisa mendapatkan pria seperti itu jika saja aku tinggal di kota” batin Nita kesal.


“Bukan itu, petik lagi!” rengek Cessa pada Rafa.


“Oh maaf sayang, mau yang mana?” rafa berusaha menahan tawanya, otaknya sedang berpikir bagaimana cara untuk membuat istrinya itu berhenti ngambek.


“yang itu” cessa menunjuk stroberry lainnya.


Kembali Rafa memetik, mencuci lalu mengelap setelah itu memberikan pada ibu hamil yang sedang ngambek.


“mau yang mana lagi?” tawar rafa.


“gak enak, coba yang itu” cessa menghabiskan satu buah stroberry yang tadi rafa berikan dengan wajah cemberut. Lalu dia menerima lagi buah yang baru saja rafa petik.


“gak enak juga” ketus cessa.


“belum di makan udah di bilang gak enak, tadi kamu loh yang pilih” ujar rafa dengan lembut.


Cessa menatap suaminya itu sudah dengan mata memerah sebenarnya dia ingin minta di cium lagi saat dia sedang makan buah stroberry, tapi mulutnya tidak mau mengatakan keinginan itu.


“mau di cium?” tanya rafa dengan bibir mengulum senyum.


Anggukan pelan yang cessa berikan membuat pria itu kini tertawa pelan, “ngambeknya lama banget sih bumil cantik ini?” setelah berkata begitu rafa kembali menempelkan bibirnya pada bibir cessa. Pria itu kembali *******, mencecap bibir manis istri cantiknya. “kita balik ke kamar sayang?” bisik rafa setelah bibir keduanya terlepas.


“hmm” cessa berdeham sambil menganggukkan kepala pelan.


Mendapatkan persetujuan istrinya Rafa langsung menggendong cessa membuat wanita hamil itu sedikit memekik karena terkejut.


“yang~ aku berat” teriak cessa tidak mau di gendong.


“Gak berat, baru segini dibilang berat masih perlu tambah lagi kalau mau buat papi mengeluh mengangkat mami” bisik Rafa seduktif.


.


Sesampainya di kamar, rafa dengan perlahan menurunkan cessa dan mencium bibir istrinya dengan rakus. Sementara bibirnya asik mencium, tangan pria itu bergerak membuka baju istrinya.


“tidak apa kan?”suara Rafa sudah dipenuhi oleh nafsu saat ini, tubuh berisi istrinya bukan membuatnya risih malah membuat pria itu semakin bergairah. Bertanya bukan bermaksud untuk menghentikan kegiatan tapi lebih untuk meyakinkan hal itu juga diinginkan oleh cessa.


“teruskan...” kata cessa, bukan hanya rafa ternyata ibu hamil itu juga menginginkan rafa, dan bermain dengan paralon air milik rafa.


Tanpa aba-aba lagi rafa mengangkat tubuh cessa di atas tubuhnya, memang kata dokter posisi itu yang paling aman untuk dilakukan saat si wanita sedang hamil.


Setelah memberikan pemanasan dan melihat cairan keluar dari kue cubit kesukaannya Rafa baru memasukkan paralon airnya dengan sekali hentakan. Dan itu berhasil membuat cessa menegang sejenak sebelum merasa nikmat saat tubuhnya dibantu untuk bergerak naik turun.


Kedua orang itu mulai olahraga yang sudah lama tidak mereka lakukan, cukup panas bahkan Rafa sama sekali tidak terganggu dengan perut istrinya yang sudah besar itu.


...🌜❄❄❄❄🌛...


“pagi” jawab semua orang yang ada di meja makan.


Dafa menatap semua orang di meja makan hampir semua orang yang ada di meja makan rambut mereka basah kecuali king dan Queen. “iri bilang daf?” suara ledekan rafa membuat pria itu mengangkat kepalanya ke atas.


“iri apaan si bos” Omel dafa.


“iri semuanya pada olah raga malam, Cuma kamu yang belum merasakan gimana olahraga malam” kali ini prince yang berbicara.


“tiap hari aku juga kalau malam olahraga” jawab dafa masih belum sadar maksud olahraga malam yang dikatakan.


“iya jadi semuanya basah rambut karena malam-malam olah raga? Ikutan dong jul, gue udah agak gemukan ini” Devi yang sama polosnya dengan dafa langsung berucap dengan santainya.


“huk huk huk” dafa yang baru sadar dengan maksud olahraga malam itu terbatuk dan tersedak dengan makanannya.


“Love kok batuk-batuk sih, hati-hati kalau makan” kata devi khawatir.


“huk huk” sementara dafa masih terbatuk.


Kalau yang lainnya hanya mengulum senyum mereka dan menahan tawanya.


“perlu bantuan untuk persetujuan mertua daf?” tawar papi harry.


“gak perlu pi, izinnya turun tahun depan pi” jawab dafa ambigu.


“izin apaan love?” tanya devi bingung.


“bukan apa-apa, makan aja love” ucap dafa.


.


Setelah selesai makan semua anggota keluarga itu berkumpul di taman, mereka kembali bermain bulu tangkis dan berbincang bersama.


“nyonya besar, tuan besar maaf bisakah saya memohon sesuatu kepada kalian berdua” suara nita membuat papi harry dan mami dona menolehkan kepala mereka dari pertandingan dafa dan devi vs Ellena dan Xelo.


“Nita! Sudah ibu bilang berapa kali hah! Maaf nyonya besar” ibu nita yang tadi mengantarkan makanan langsung mengamuk melihat tingkah putrinya itu.


“tidak apa bi, biarkan saja, saya juga ingin tau apa itu” ujar mami dona lembut.


Nita bersimpuh di hadapan kedua orang tua cessa, dan itu membuat permainan bulu tangkis itu berhenti karena penasaran dengan apa yang dilakukan Nita.


“mohon pekerjakan saya sebagai pembantu di rumah anda nyonya” pinta Nita, gadis itu tidak berani melihat ke arah mata papi harry dan mami dona.


“kenapa kamu mau bekerja dengan saya di kota?” tanya mami dona dengan lembut.


“Kota itu tempat yang hebat, saya ingin mengubah nasib keluarga saya, jadi saya ingin bekerja disana” jawab Nita.


“bukan untuk menggoda anak-anak lelaki saya?” tanya mami dona kini.


Nita langsung mengangkat kepala melihat mata mami dona, “tidak nyonya, saya hanyalah pembantu, tidak mungkin saya bermimpi untuk menggoda mereka, saya tidak secantik putri-putri anda, mana bisa saya melakukan itu, ini semua murni karena saya ingin memperbaiki ekonemi keluarga nyonya” bohong nita.


“maaf sekali nita, para pekerja di rumah saya sudah banyak, tidak mungkinkan saya memecat salah satunya, kalau kamu mau memperbaiki ekonomi keluargamu, akan aku pekerjakan kau di kantor putraku sebagai cleaning servis, tapi kau harus mencari tempat tinggalmu sendiri, karena di rumahku sudah tidak ada tempat untuk menampung orang, atau kamu mau tetap disini, akan aku berikan pekerjaan yang lebih tinggi disini, jadi kau memilih yang mana?” tawar mami dona.


“disini saja nyonya, saya akan memarahinya karena sudah lancang meminta hal seperti ini, saya mohon maaf nyonya dan tuan” bukan Nita yang menjawab, melainkan ibunya setelah memohon maaf nita ditarik paksa dari hadapan keluarga besar itu.


“sepertinya banyak yang ingin naik ke puncak dengan cara instan” kekeh papi harry.


...🌜🌧🌧🌧🌧🌛...