
Akhirnya hari pernikahan king pun Tiba, Queen terlihat sangat cantik dan King terlihat sangat gagah, yang diundang bukan hanya kerabat dekat tapi para pejabat dan juga teman-teman Queen dan King, bahkan para pengusaha juga hadir, pesta ituterlihat luar biasa mewah, walau pesta kebun tapi pestanya luar biasa besar, memang banyak pohon buah mengelilingi mereka seperti permintaan ibu hamilnya.
“Hai king, selamat ya” ujar seorang pria tampan pada King.
“Iya makasih, makasih udah datang Dik” ucap king sambil berjabat tangan dengan pria itu.
“ternyata ibu dari anak-anakku canti ya” puji Diki pada Queen yang duduk disebelah King, karena dia hamil Queen lebih sering duduk takut dia kelelahan.
King langsung melotong mendengar pujian diki pada istrinya. “tidak pernah berubah” batin King, diki memang seorang playboy dan tidak pernah cukup dengan satu wanita, mungkin karena itu dia tidak diberikan izin lagi untuk memiliki anak karena kecelakaan itu.
“Aku Cuma bercanda king, mana mungkin aku merebut istrimu” kekeh Diki, tapi wajah menyeramkan king masih belum bisa berubah, dia menyesal telah mengundang diki.
“mana anak-anakku?’ bisik diki pada king.
“bermain sama uncle dan auntie nya, jika kau datang Cuma untuk membuatku kesal sebaiknya kamu pulang sekarang sebelum aku usir” ancam king juga dengan berbisik.
“hahahha tenanglah aku Cuma bercanda dan penasaran seberapa mirip aku dengan mereka” kekeh Diki sambil menepuk-nepuk bahu king.
“tidak mirip sedikitpun” ketus king. Sementara di sebelahnya Queen baru sadar jika itu adalah ayah kandung dari kedua putra kembarnya karena tidak sengaja mendengar ucapan Diki tadi.
“Mas, perutku sakit” lirih Queen sambil memegang sedikit lengan King.
“Apa? Gimana sakitnya? Sakit banget?” tanya king mulai panik, dia bahkan langsung menyingkirkan Diki yang ada di hadapannya.
Melihat Queen di atas panggung seperti orang yang sedang kesakitan Papi harry dan mami dona berlari mendekati mereka, bukan hanya itu Rafa juga datang bersama dokter Karin disebelahnya, kebetulan dokter Karin juga diundang dalam acara besar itu sebagai tamu.
“Ada apa ini? King bisa menggir sedikit” ujar dokter Karin pada king yang panik di sebelah King.
“Sakit dok, katanya perutnya sakit, ap akita hentikan saja pesta ini” ujar king panik.
“Sebentar biar saya periksa” ucap dokter Karin dengan nada yang tenang.
“Bang bisa segera turun, saya rasa kakak ipar saya butuh udara segar” sindir Rafa pada Diki yang masih berdiri di sana.
“ohh iya, saya akan pergi” diki langsung turun begit Rafa menyindirnya.
“Queen kamu tidak apa-apa?” tanya king sekali lagi.
Queen mengangguk pelan,”hanya sedikit sakit tadi, bisakah kita masuk ke acara akhir saja mas? Aku ingin segera beristirahat” pinta Queen.
“baik tapi kamu sanggup yang?” tanya king yang masih terlihat cemas.
Queen mengangguk pelan, memang rasa sakit yang tadi dia rasakan langsung hilang begitu Diki menjauh dari sana, mungkin anak-anak Queen membantu dirinya dalam menyingkirkan Diki dari sana.
.
Atas permintaan ibu hamil, semua wanita yang belum menikah dikumpul itu adalah acara akhir dari pesta, dimana pengantin wanita akan melemparkan buket bunga untuk di ambil oleh para wanita yang mengambil di kabarkan akan segera menyusul.
Cessa terkekeh melihat Juli dan Devi sudah berada di sana.
“Yang boleh ikutan gak?” tanya cessa pada Rafa suaminya.
“mau nikah lagi yang?” seru Rafa dengan mata sedikit melotot.
Cessa menggelengkan kepalanya, “pengen aja” jawab cessa dengan polosnya.
“Udah biarin Juli dan Devi aja yang ikut, kita nonton aja ya, kasian nanti kamu berhimpitan dengan para wanita itu” ucap rafa dengan lembut sambil mengelus perut cessa yang masih rata.
“Iya deh” ucap cessa pasrah.
.
“Ya sepertinya banyak wanita yang ingin mencoba mendapatkan buket bunga ini, apakah kalian semua sudah siap?” teriak Dafa dari atas panggung.
“SIAP!!” teriak para wanita yang ada di bawah panggung.
“kak Queen, ayo bersiap melempar bunganya, banyak yang sudah menunggu dibawah” ucap dafa.
Queen terkekeh pelan dan membalikkan badannya.
“Hitungan mundur kita mulai, satu… dua…. Dua setengahh…. Tiiii~ ga!” saat hitungan ketiga Queen melempar bunga itu dengan kencang.
Juli yang sedang berada di barisan paling belakang sendiri terkejut saat bunga yang dilempar Queen mendarat tepat di tangannya.
“wahhh selamat juli” pekik Devi sambil bertepuk tangan.
Prince yang menyaksikan itu tertawa sambil bertepuk tangan, “prince sepertinya sebentar lagi kamu akan menikah” goda Xelo pada prince.
Sementara prince hanya tertawa sambil bertepuk tangan.
“Selamat datang kakak ipar!” teriak Cessa dari tempat duduknya, dia tidak kalah Bahagia dengan orang-orang yang ada di panggung.
“yang~ tenang dong, kasian baby kalau bundanya jingkrak jingkrak seperti ini” ucap Rafa sambil memegang tangan cessa agar istrinya itu tenang. Bagaimana tidak panik istrinya langsung loncat loncat dan berptepuk tangan seperti anak kecil.
“Fa! Istri kamu kenapa?” tawa papi harry pecah melihat rafa yang kesusahan membuat istrinya untuk duduk.
“Yang~ ayo dong duduk, nanti anak-anak kita salto loh di dalam perut kamu” ujar rafa dengan tawa nya.
“Salto apaan belum juga jadi ini” protes cessa yang masih berlonjak dan bertepuk tangan.
“malu loh yang~ dilihatin oleh orang-orang” ucap Rafa lagi.
Cessa duduk dengan muka yang sudah masam, cemberut karena di ledek suaminya. “jadi sayang gak cinta lagi kalau aku kayak tadi bikin malu kamu” lirih cessa.
Rafa dengan gemas mencubit pipi gembul istrinya, “coba aja ini gak ada orang-orang udah aku cium sangking gemasnya sama istri aku yang imut ini” goda rafa.
“Ihhh kamu mah gombal aja, yang ~ aku lapar” rengek cessa, “ini karena loncat-loncat jadi kelaparan baby-baby nya” tambah cessa sambil memegang perut.
“Oke tunggu disini, Pi, mi , rafa titip cessa bentar, rafa mau ambilin makanan buat cessa” ujar rafa pada kedua orang tua Cessa.
“Ya sudah ambil sana, papi jagain” ucap papi harry.
.
“mohon pada pemegang bunga dan pasangannya untuk maju agar bisa berfoto dengan pengantin wanita dan pengantin pria” ucap Dafa dari atas panggung.
Juli berjalan mendekati Prince, begitu juga dengan prince pria it uterus saja tersenyum menatap Juli, setelah keduanya berhadapan Prince menggandeng tangan juli untuk naik ke atas panggung.
“Sepertinya pernikahan kita tidak bakal di tunda yang~” bisik Prince.
“Prince~ jangan godain aku! mana aku tau bunganya jatuh ke tanganku, padahal aku sudah tegak paling belakang sendiri” gerutu Juli.
“Gak papa dong, itu artinya kita bentar lagi bakal nikah” ucap prince.
“jangan godain terus prince” protes juli yang masih merasa malu”
...🌜⛈️⛈️⛈️⛈️🌛...