
“dek, kamu tidak apa?” tanya Prince khawatir. Tadi prince merasa cemas tiba-tiba saat dia menelepon rafa ternyata benar firasat pria itu, rafa dan cessa sedang dalam bahaya, begitu tau hal itu, prince segera mengajak dafa untuk mencari adik kembar dan juga adik iparnya disekitar jalan menuju vila.
Cessa menggeleng dan memeluk saudara kembarnya itu, “tenang, gue gak apa-apa, percuma gue belajar ilmu bela diri jika gue gak bisa melindungi diri gue, jangan cemas gitu” ucap cessa.
“gimana gak cemas itu leher kamu memar gitu” Prince menunjuk memar pada leher cessa,, gadis itu segera melihat kamera pada ponselnya.
Cessa sedikit mendengus kesal saat melihat memar yang dimaksud oleh Prince. Matanya segera memicing pada tersangka utama yang membuat memar pada lehernya rafa siapa lagi kalau bukan rafa yang membuat bekas ciuman yang disangka memar oleh prince. Mungkin karena sangat cemas prince mengira bekas kissmark itu sebagai memar, memang bekas keunguan kecil itu jika orang yang panik akan menyangka itu adalah memar.
“Gak apa bang, gak terasa juga sakitnya” elak cessa dia langsung menggandeng lengan Prince agar pria itu tidak bertanya lagi.
“yakin tidak sakit?” tanya prince sekali lagi.
Cessa mengangguk cepat dan langsung menyeret Prince untuk segera pergi dari sana.
...🌜🌦🌦🌦🌦🌛...
Andre tampak termenung menatap air pantai yang ada di depannya. Pikiran pria itu melayang pada Cessa, dia selalu berakhir dengan menyukai Wanita yang dimiliki oleh rafa, pertama dina dan kedua adalah cessa. Sekarang kesempatan untuk mendapatkan cessa lebih sulit dari yang dia mimpikan, karena dia sudah keluar dari sekolah, dia sudah lulus.
“Andre!” panggil abangnya dari jauh.
Andre hanya menoleh melihat dua orang pria datang menghampirinya, tampak menyedihkan, dimana-mana orang liburan membawa pasangan dia liburan hanya bersama teman dan abangnya.
“Ngapain bengong disini, dari pada mikirin Wanita-wanita gak jelas yang bisa lo miliki, mending lo ikut gue” ucap abang Andre.
“Kemana?” tanya Andre bingung.
“Gue sama ferdi tadi ketemu cewek cantik, mereka liburan kesini juga, tuh villanya tidakjauh dari villa kita, dari sini bisa lihat atapnya” tunjuk Dani pada villa yang tadi ditunjuk devi.
Ya, dani adalah abang dari Andre, mereka bertiga sedang merayakan waktu kelulusan andre di bali.
“hmmm” andre masih tampak berpikir.
“ayolah, gak usah mikir lagi, ceweknya cantik gue yakin lo bakal suka,jangan mikirin tentang Wanita milik rafa lagi, udah cukup sama Wanita gila itu, jangan tambah lagi Wanita gila lainnya yang ada disekitar rafa” kali ini yang membujuk adalah Ferdi sahabat baik dari Dani.
“Dia gak gila bang, malah gue yang bakal jadi gila karena gue betul-betul jatuh cinta dengan dia” ucap Andre.
“ckkckc, aku yakin dia gila, Wanita yang ada di sekitar rafa itu gila semua, jadi jangan menyukai Wanita – Wanita gila disekitar rafa” ucap ferdi.
“Iya bernar yang di bilang ferdi, ikut aja kita nanti malam, barbeque di villa itu” Dani menunjuk lagi vila tempat dina dan July menginap.
Andre menghela nafas panjang akhirnya dia mengangguk pasrah, dia berharap memang bisa menyukai orang lain dan bisa melupakan cessa.
...🌜⛈️⛈️⛈️⛈️🌛...
“Cess ini banyak banget daging iganya” ucap Devi pada cessa yang tampak asik membumbui daging iga dan beberapa daging, ikan dan makanan lainnya.
“Rafa suka, lagian kalau tidak habis bis akita buat jadi isian sandwich besok pagi, aku liat itu ada penggorengan datar, jadi bisa kita gunakan untuk masak ala turki” cessa menjawab tanpa melihat devi dia sibuk membumbui masakannya.
“cess, kira-kira rafa bakal marah gak gue undang orang kesini? Gue pikir kalian masih lama kesininya, jadi gue undang aja mereka” ujar dev takut-takut.
“Lo ngundang orang kesini? Atas tujuan apa?” tanya Cessa balik.
“Dia kesemsem sama cowok ganteng yang nyapa dia” yang menjawab adalah July, “ada yang bis ague bantu ces?” tambah July.
“Tolong bersihkan udangnya, seperti yang gue ajarkan kemarin” perintah cessa.
“Oke” July segera mengangkat udang ke bagian pencucian untuk mengeluarkan kotoran udang.
“masih kalah dari rafa, tapi lumayan ganteng kok ces, apa lagi gue berharap pengen punya pasangan cess, lo sama July udah punya, tu gue sendirian dong” jawab Devi dengan lesu.
“DEVI!! Gue belum punya!” sanggah July cepat.
“Alah lo sama prince Cuma tinggal nunggu waktu kapan tu pangeran lo nyatakan perasaan” ledek Devi.
“devi apaan sih!” dumel July gadis itu Kembali malu jika sudah membicarakan Prince.
“Bukannya lo sama dafa?” ledek Cessa.
“Apaan sih cess, gue gak suka sama dafa! Kerjanya marah-marah aja, tu playboy lagi, waktu di nikahannya bang gavin dia sibuk jalan dengan cewek-cewek” gerutu devi dia tidka sadar sedang mengungkapkan kekesalannya pada Dafa.
Cessa dan July sama sama tersenyum penuh arti, “bilang aja sama orangnya langsung kalau lo cemburu vi, selesaikan, gak perlu ngundang-ngundang orang, yak arena sudah diundang ya apa boleh buat kita gak bisa melakukan apapun” ucap cessa.
“Benar tu, mau balas buat dafa cemburu ya? Manggil cowok kesini” tambah July.
“kalau jodohin gue aja lo berdua kompak” sungut Devi.
“Ohhh jelas itu, adik ipar sama kakak ipar harus akur dong” kekeh Cessa.
July tidak menjawab dia hanya menunduk malu mendengar ucapan cessa.
“Yang udah siap?” Rafa muncul dari pintu untuk bertanya pada cessa.
“Ni udah, tinggal dibakar aja, pembakarannya udah siap?” tanya balik cessa.
“udah kok, udah banyak bara nya” jawab rafa, dia segera mengambil ember berisi makanan yang bakal dibakar.
“Yakin kuat? Ini berat loh, butuh dua orang untuk mengangkatnya” ucap cessa memberi peringatan.
“perlu tenaga sih” ucap rafa.
“tenaga? Ntar cess panggilkan prince” cessa hendak melangkahkan kakinya memanggil prince yang sedang membuat bara yang akan digunakan untuk barbeque, tapi langkahnya terhenti karena rafa menahan lengannya dan menempelkan bibirnya dengan bibir cessa.
‘cup’
“ya ampun fa! Kayak gak ada tempat aja!” gerutu devi sambil menutup matanya.
Rafa tersenyum melihat wajah bengong cessa, “sekarang udah full tenaganya” kekeh rafa lalu dia membawa daging dalam ember dengan sangat mudahnya.
“Gila si rafa suka banget cium-cium lo cess” ucap devi.
Cessa tidak menjawab dia hanya mencari kesibukan dengan membumbui makanan lainnya.
“Cess lo udah jebol ya?” tanya devi secara blak-blakan.
“Ihh devi mulut kamu itu dijaga, jangan ceplas ceplos gitu” ucap Cessa.
“iya kan gue penasaran, habisnya kalian sudah ciuman berarti udah sampai ketahap mana nih?” selidik Devi.
“anak kecil gak boleh tau” jawab singkat cessa, dia membawa udang yang sudah dibersihkan oleh July ke luar.
...🌜🌤🌤🌤🌤🌛...