Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
46. Sakit Jantung



Revi masuk ke dalam kamar Gavin dia sedikit terkejut saat melihat kamar Gavin yang sangat berantakan.


"Jadi rencana apa lagi yang harus kita lakukan?" tanya revi, dia memilih tetap tegak karena tidak ada tempat untuk dia duduk kecuali di tempat tidur.


"tidak tau!" jawab Gavin dengan ketua, di menyingkirkan beberapa barang di atas sofa dan duduk di sana.


"apa aku beritahu saja mama reta tentang cessa menggoda Rafa dan membawa Rafa ke tempat tidur? dengan begini mama reta akan benci pada cesaa" seru Revi, dia merasa itu adalah ide yang sangat cermelang.


"tidak akan berpengaruh, mereka sebenarnya sudah menikah bukan sekedar tunangan" jawab Gavin dengan santainya.


"Apa?! mereka sudah menikah?!" pekik Revi tidak percaya.


Gavin mengangguk singkat menjawab rasa terkejut dari Revi.


"maksudnya mereka menikah di usia mereka sekarang? mereka berdua belum lulus sekolah!" pekik Revi lagi, dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"iya, jika mau sebarkan disekolah kalian silahkan tapi mereka berdua sudah sah dimata hukum dan agama, jadi kau hanya bisa mempermalukan dirimu sendiri jika menyebarkannya, sekarang yang perlu kita cari tau bagaimana cara memisahkan mereka, kalau bisa membuat mereka bercerai" ucap Gavin.


Revi menatap kesal Gavin yang mengatakan semua informasi itu dengan sangat santai.


"kau tau semua itu tapi tidak memberi informasinya padaku?" geram Revi dengan kesal.


"itu adalah rahasia di keluarga ku, lagi pula kalau kau tau, apa kau akan menjauh dari Rafa?" tanya Gavin.


Revi terdiam beberapa saat lalu menggeleng, "tidak akan, Rafa hanya milikku, dia tidak boleh dimiliki orang lain" kesal Revi.


"ya sudah, jadi tidak masalah aku bilang atau tidak bukan? apa lagi yang kau perlukan?" jawab ketus Gavin.


"rencana untuk membuat mereka bercerai" ucap Revi dengan sedikit nada ketus.


"aku belum bisa memikirkan itu, cara paling ampuh membuat mereka bercerai adalah dengan memanfaatkan dirimu tidur dengan Rafa, tapi kau menggagalkan rencana itu, jadi aku tidak bisa mengatakan apapun lagi" balas Gavin.


"kau tidak bisa emangnya! buat cessa hamil anakmu! perkosa gadis itu!" maki Revi secara spontan.


"Perkosa? maksud mu aku memperkosa gadis itu biar dia hamil anakku dan dia jadi milik ku? rencana yang cukup bagus, akan aku pikirkan rencananya" balas Gavin.


...🌜πŸŒͺπŸŒͺπŸŒͺπŸŒͺπŸŒ›...


Pagi itu cessa bangun sedikit menggigil kedinginan, pandangan gadis itu menoleh kesamping dimana Rafa tidur disebelahnya dengan tidak menggunakan baju atasan, cessa tidak tau apakah Rafa masih memakai celana atau tidak karena bagian bawahnya tertutupi oleh selimut tebal.


Tiba-tiba kenangan malam tadi muncul dalam benak cessa, bagaimana dia diikat oleh Rafa dan mereka masuk ke dalam bathup, kenangan cesaa berhenti sampai Rafa membuat dia terpuaskan, sampai sana cesaa tidak mengingat apapun lagi.


"hiks hiks hiks" gadis itu menangis berusaha mengingat apa lagi yang terjadi tapi masih tidak bisa.


Apalagi, ketika dia sadar dia tidak mengenakan apapun di dalam baju yang dia pakai.


Rafa yang masih setengah tidur langsung membuka matanya ketika mendengar suara tangisan cessa.


"kenapa cess?" tanya Rafa dengan suara seraknya.


dia berusaha mendudukkan dirinya sambil menatap kearah cessa.


tangan rafa mengangkat dagu cessa agar melihat kepadanya. "kenapa? kok nangis?" tanya Rafa dengan lembut.


"hiks hiks, gak a-ada a-aku hanya__"


"kita belum melakukan hal itu cessa" potong Rafa, sepertinya dia tau apa yang ada dalam pikiran istrinya.


Cessa menatap manik mata Rafa dengan intens dia ingin mencari kebohongan dari mata suaminya itu, tapi nihil mata Rafa memancarkan kejujuran.


Rafa mulai menyapu air mata yang keluar dari mata cessa, "aku hanya membuatmu terpuaskan, agar reaksi obat itu hilang, hanya sedikit sentuhan aku minta maaf ya, jika kamu marah dengan tindakanku" ujar Rafa dengan lembut.


cessa menggeleng pelan dan tersenyum pada Rafa, "Gak fa, makasih karena menahan dirimu, makasih udah mau menghargai aku" isak cessa.


"udah jangan nangis gitu, tambah jelek jadinya" Rafa memeluk cessa sambil mengelus punggung cessa dengan sayang.


"hiks hiks iya, tapi ini air matanya gak mau berhenti" ucap cessa.


Rafa melonggarkan pelukannya sedikit kemudian memberikan kecupan pada bibir cessa dengan lembut. "kalau gak mau berhenti juga aku benaran belah duren ni, ni aku udah tanggung, tinggal buka celana selesai, kita tinggal buka bukaan lagi" kekeh Rafa.


Rafa menunduk dan melihat dirinya sendiri kemudian tertawa pelan.


πŸ’«flashback onπŸ’«


Rafa baru saja keluar dari kamar mandi.


🎼 gerakan Rafa yang tadinya ingin mengambil baju langsung terhenti ketika Suara ponselnya terdengar begitu nyaring.


πŸ“² "assalamu'alaikum"


πŸ“² "waalaikumsalam, maaf gue ganggu waktu kalian, belum tidur kan?" tanya Xelo dari telepon.


πŸ“² "belum bang, ada apa ya?" tanya Rafa dia duduk di sofa dengan hanya menggunakan boxer.


πŸ“² "ada hacker yang berusaha mencoba membobol sistem kita, memang dia masih belum bisa masuk, tapi jika seperti ini terus akan bahaya, makanya aku langsung menghubungimu" ujar Xelo.


πŸ“² "baiklah, akan aku selesaikan" jawab rafa.


ketika Xelo menutup teleponnya, Rafa segera mengambil laptop miliknya yang kebetulan memang dia bawa dan membawa ke tempat tidur.


cukup lama pria itu berkutat dengan laptop pribadinya, dan setelah selesai Rafa hanya memindahkan laptopnya ke nakas dekat samping tempat tidur, lalu pria itu langsung tidur, sepertinya karena kelelahan dia lupa untuk memakai kaos kembali.


πŸ’«flashback offπŸ’«


"Jadi begitu ceritanya" Rafa mengakhiri ceritanya dengan senyum simpul yang betul-betul membuat wanita yang melihatnya akan terpesona.


"jangan senyum-senyum seperti ini di depan orang lain" ancam cessa dengan lirikan tajam.


Rafa mendekatkan wajahnya pada cessa, "kenapa memangnya?"


cessa cepat-cepat mendorong Rafa sedikit menjauhinya, "Fa, sakit jantung aku" keluh cessa.


Rafa terkekeh pelan, "kok bisa?"


"Gak tau, nanti cewek-cewek lain bisa pingsan jadi jangan coba-coba senyum ke cewek lain" ancam cessa lagi.


'cup' karena wajah mereka yang sudah sangat dekat, Rafa mengecup singkat bibir cessa, "baiklah jika itu permintaan istriku, jadi... " Rafa sengaja menggantungkan ucapannya.


"jadi apa?" tanya balik cessa.


"gak mau di lanjutin? yang itunya" kekeh Rafa.


Cessa cepat-cepat memalingkan muka dari Rafa, "itu apanya" ucap cessa, wajahnya sudah memerah seperti tomat.


Rafa tersenyum jahil melihat istrinya yang sedang malu-malu. 'cup' pria itu kembali memberikan kecupan pada pipi cessa yang dihadapkan padanya, "yang tadi malam, di bathup" goda Rafa.


"Gak mau! ihh Rafa mesum! nyebelin" gerutu cessa sambil memukul mukul badan Rafa dengan pelan, sedangkan orang yang di pukul hanya tertawa riang.


...πŸŒœπŸŒ€πŸŒ€πŸŒ€πŸŒ€πŸŒ›...


Segini dulu ya.. masih adakah yang berharap cessa dan Rafa belah duren sekarang ini?


maaf ya untuk saat ini karena dia masih sekolah lebih baik jangan dulu ya, nanti aja belah durennya setelah selesai sekolah.


Jangan lupa dukung author ya,


Like, Vote, dan kirim hadiah sebanyak-banyaknya, dukungan dari kalian membuat author semakin semangat untuk ngetik novel ini. Terima kasih semuanya ❀❀


bonus pict nih buat kalian


Rafa lagi kerja malam-malam



Rafa saat bangun pagi, meleleh gak tuh? bajunya lupa pakai