Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
73. Dokter Patrik



Rafa memasuki rumah dengan sedikit kesal dan perasaan marah, dia tidak habis pikir orang tua Dina kembali membuat putrinya lepas dari penjara rumah sakit jiwa.


"Fa! lo kenapa?" panggil Prince yang melihat ada kekesalan dari pancaran mata Rafa.


"Ahh gue gak kenapa-napa, jul udah siap yang dibutuhkan cessa?" tanya Rafa lembut, dan kekesalan pria itu juga tidak tampak lagi.


"Lo kenapa? tadi seperti orang mau pergi perang" prince kembali mengulangi pertanyaan nya.


Rafa mengambil nafas panjang dan mengeluarkan nya perlahan, "gue ketemu orang gila dijalan tadi" ucap Rafa terdengar menggantung.


"orang gila? lo di kejar orang gila?" tanya dafa kali ini pria itu mulai tertawa keras mengejek Rafa.


"Si dina orang gilanya!" ketus Rafa, pria itu sudah beranjak mengambil barang-barang yang dibutuhkan cessa.


"fa, bentar ini air jahe untuk meredakan sakit cessa, kalau ini aku yakin cessa mau minum" ucap Juli.


"apa?!! orang gila itu lepas dari rumah sakit jiwa?!" pekik prince tidak percaya.


"nanti gue lanjutin lagi, istri gue yang sekarang paling utama" ucap rafa, setelah itu dia membawa semua yang diberikan Juli menuju kamar nya.


.


Begitu membuka pintu Rafa melihat cessa istrinya masih berbaring di tempat tidur sambil meringkuk. perlahan Rafa mendekat dan pengelus puncak kepala cessa.


Ketika tangan Rafa menyentuh kulit kepala cessa, wanita itu langsung membuka matanya dan mata itu terlihat sangat sayu, gadis itu tidak tidur, rasa sakit di perut bagian bawahnya sangat membuat gadis itu tersiksa, dia tidak dapat tertidur karena sakit itu tidak mau hilang walau dia sudah berbaring.


"gak bisa tidur?" tanya Rafa pelan.


cessa tidak mengeluarkan suara untuk menjawab, dia hanya mengangguk pelan.


"Duduk bentar ya, ini minum air jahe buatan Juli, katanya bisa mengurangi sakit di perut kamu" ujar Rafa, sambil membantu menegakkan tubuh cessa yang masih berbaring.


Rafa dengan telaten membantu cessa minum air jahe itu, dengan perlahan cessa meminum air itu sesekali menjauhkan gelasnya dari mulut karena merasakan rasa panas dari air jahe itu.


"habis kan sayang" ucap Rafa lembut.


Cessa mengangguk pelan dan kembali meminum air jahe itu lagi. Setelah habis gadis itu kembali membaringkan kepalanya di bantal yang ada di tempat tidur mereka.


"bagus" puji Rafa pada cessa, dia membersihkan bibir cessa dari sisa air jahe yang ada. "ini letakkan di perut kamu" Rafa memberikan penghangat perut pada cessa.


Cessa mengambil itu dan meletakkan di pinggul dekat bagian perutnya. "makasih fa" ucap gadis itu, sepertinya dia sudah mulai bertenaga untuk berbicara.


"iya sama-sama sayang, sekarang pejamkan mata kamu ya" Rafa mengelus perut cessa dengan lembut, dia berharap jika seperti ini cessa akan merasa sedikit baikkan.


setelah beberapa waktu terdengar nafas cessa yang sudah teratur, gadis itu sudah bisa tertidur setelah sakitnya mulai mereda. Rafa mencium kening istrinya dan merapikan selimut untuk menutupi cessa, pria itu perlahan menuju sofa untuk membuka laptopnya, dia ingat masih menyadap ponsel milik dina dan dia ingin mengetahui dimana keberadaan gadis gila itu sekarang, dia perlu mempersiapkan semuanya kembali.


.


Mata Rafa melotot saat tau posisi dina tidak jauh darinya, gadis gila itu ada disebelah vila nya.


.


Rafa mencari nomor telepon milik xelo di ponselnya, lalu menelpon pria itu.


"assalamu'alaikum bang" sapa Rafa.


"Waalaikumsalam, kenapa fa?" Tanya xelo.


"Bang bisa tolong carikan nomor telepon dokter patrik? gue butuh" ucap Rafa.


"ngapain kamu cari nomor dokter itu?" pekik xelo, bagaimana tidak terkejut dokter patrik itu adalah dokter yang sangat terkenal hebat dalam hal sistem reproduksi, makanya xelo terkejut.


"bukan untuk gue, tapi untuk orang lain" ucap Rafa.


"baiklah tunggu sebentar, tapi kamu belum berniat punya anak sekarang kan?" tanya xelo lagi, dia khawatir Rafa menginginkan anak saat itu juga.


"gue sama istri gue masih sekolah, nanti aja pas kami sudah selesai sekolah, ini benaran bukan untuk gue bang, carikan aja sana" perintah Rafa sekali lagi.


"baiklah aku akan menghubungi bagian kedokteran di Amerika, tunggu sebentar ya" ucap xelo.


Rafa mematikan teleponnya dan duduk didekat bangku yang ada di balkon.


Sebenarnya kecerdasan pria itu sangat luar biasa, dia memiliki program rancangan dengan dokter hebat di Amerika sana, makanya xelo bisa dengan mudah menghubungi dokter-dokter hebat yang ada di Amerika, Rafa sudah beberapa kali memberikan program hebat mengenai kedokteran kepada pihak kedokteran Amerika, sangking pintarnya pria itu, banyak negara yang ingin menjadikan dia sebagai aset pemerintahan, tapi Rafa tidak menginginkan hal itu, dia tetap dalam keinginannya low profile, hanya xelo yang tampil menunjukkan ide darinya, tapi dia bersembunyi di belakang xelo.


'ting' satu pesan masuk kedalam ponsel Rafa. Tidak susah bagi Xelo untuk mencari nomor ponsel dokter yang terkenal seperti dokter patrik, pihak Amerika akan melakukan apapun karena jasa Rafa yang sangat banyak dalam perkembangan ilmu kedokteran di sana.


Setelah melihat pesan itu kembali Rafa kembali menelpon seseorang dengan ponselnya.


"Halo siapa ya ini?" suara pria paruh baya terdengar dari ponsel Rafa.


"Halo tuan jo, saya Rafa, anda pasti sangat mengenal saya bukan?" sapa Rafa, pria itu bersikap sopan karena Pria yang di telepon nya adalah ayah dari Dina.


"Ahh, Rafa! maaf apa kamu marah padaku, aku benar-benar minta maaf padamu nak Rafa" ucap ayah Dina.


"Ya aku marah pada kalian yang melepaskan orang gila itu lagi, aku tau kalian melakukan itu karena dialah satu-satunya anak kalian yang miliki, tapi apakah kalian tidak berniat memiliki anak yang sehat tanpa keturunan gila?" tanya Rafa.


"Istriku sudah berumur 39 tahun tidak mungkin bagi kami untuk memiliki anak lagi nak rafa, hanya Dina lah penerus dari perusahaan ku" ucap ayah Dina lemah.


"Aku akan mengenalkan anda dengan dokter patrik, anda taukan betapa susah mendapatkan jadwal untuk bertemu dengan dokter itu, tapi syaratnya ikat anak gila kalian di rumah sakit jiwa dan jangan pernah lepaskan!" umpat Rafa di akhir kalimatnya.


"apa benar itu dokter patrik yang terkenal itu? bagaimana bisa anda mengenal dokter itu?" tanya ayah Dina tidak percaya, dia tidak bisa percaya dengan ucapan Rafa, dia saja yang sangat kaya tidak bisa mendapat kesempatan untuk bertemu dokter patrik, tapi kenapa Rafa bisa? sehebat apa pria itu, padahal dia hanya seorang anak SMA biasa.


"tenanglah ini memang dokter patrik yang terkenal itu, tapi jika tuan tidak menerima penawaran saya, saya sendiri yang akan memenjarakan Dina, dan mungkin kalian akan menyesali keputusan kalian, jadi bagaimana tuan? " ancam rafa.


...🌜🌦🌦🌦🌦🌛...