Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
141. Orang-orang Baik



“Cieee yang sekarang kalau jalan bawa gandingan, kemana-mana harus selalu dibawa ya bang” ledek Rendi pada abang angkatnya Xelo.


“Ahh rendi kayak gak tau kalau orang udah kasmaran itu gak bisa lepas dari pacarnya, sana cari pacar sendiri, iri ya gak bisa pegang pacar sendiri” ledek Dafa sambil merangkul Devi kekasihnya.


Xelo hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan para anak remaja itu, dia sendirilah yang paling tua di sana, jadi dia tidak bisa membantah perkataan mereka bisa tambah di bully jika dia membantah.


“Ellen!” panggilan itu membuat semua orang menatap kearah suara yang memanggil, di sana ana dan teman-temannya sedang berdiri dengan angkuhnya.


Ellen tampak terkejut dan langsung bersembunyi di belakang Xelo.


“Ana, kamu kenal sama Ellen?” tanya Devi.


“tentu saja, kenapa kalian mau berteman dengan pembantu di rumah aku? dia gak sederajat dengan kalian!” ujar Ana dengan lantang.


Cessa tertawa pelan dan maju ke hadapan Ana, “pembantu? Derajat? Disini apakah masih ada system kasta rendah dan tidak? Kamu masih makan nasi bukan? Jika masih berarti derajat mu sama dengan Ellen!” ucap Cessa, wajah nya sudah berubah dingin.


“Ellen! Cepat kemari! Kamu tidak boleh ada disini!” pekik Ana, dia tidak bisa membantah atau menjawab ucapan cessa, jadi dia memilih memerintah Ellena.


“Dia tidak akan pergi kemanapun ana! Dia teman kami dan tidak akan kami biarkan dia kembali berkerja sebagai pembantu mu” ujar cessa lagi.


“Tapi dia tidak bisa membantahku! Dia harus ikut pulang bersamaku!” Ana menatap Ellen dengan pandangan membunuh. “papi akan marah padamu Ellen!” bentak Ana, karena ellena tidak bergerak sedikitpun.


“Wah wah tadi katanya dia pembantu, tapi kenapa dia memanggil papi mu dengan panggilan papi bukan tuan besar?” sindir Juli.


“Ahh itu dia anak angkat papi ku” jawab Ana sedikit gagu. “Ellen kau harus membalas budi pada papi yang sudah membesarkan mu!” ujar ana kini dengan lantang.


“Berapa harga nya nona? Kira-kira berapa harga yang diberikan papi anda untuk membesarkan Ellena? Aku akan membayar semuanya dengan kontan nona” sindir Xelo.


“Gak kredit bang?” ledek Dafa sambil terkikik geli.


“Daf, ini lagi serius loh” tegur devi pada kekasihnya itu.


“uppsss sorry” Dafa mengatupkan kedua tangannya didepan dada, meminta maaf pada orang-orang.


“Gak ada om, Ellen gak ada hutang pada mereka, justru mereka yang berhutang pada ellen, rumah yang mereka tempati itu rumah milik bunda ellen, dan usaha yang dijalankan papi adalah usaha milik bunda ellen, mereka mengambil semuanya dengan cara menipu bunda ellen untuk menikah dengan papi, jadi Ellen tidak memiliki hutang pada mereka” Ellen akhirnya angkat bicara.


“KAMU! AKU AKAN BILANG PADA PAPI!” Ana langsung pergi bersama teman-temannya meninggalkan ellen.


“Kamu! Aku akan bilang pada papi” Dafa mengulangi dan memparodikan apa yang baru saja di lakukan ana. “tu anak kayak jelangkung tau! Datang gak diundang pulang tak diantar” tambah dafa lagi, semuanya tertawa mendengar ucapan Dafa.


“Lo mau jadi pelawak Daf?” sindir Prince.


“Ya elah, jangan serius serius amat bro, ntar liat tu” dafa menunjuk muka datar Rafa yang sama sekali tidak ada senyuman pada wajahnya, “hidup lo akan datar seperti muka nya Rafa” ledek Dafa.


“Enak aja, justru ekspresi datar ini yang buat banyak wanita mengidolakannya” Cessa langsung memeluk tubuh Rafa dan membela suaminya itu, dan hal itu langsung membawa senyuman pada bibir Rafa.


“tu liat kalau sama pawangnya bang Rafa senyum” kata Alif sambil tertawa keras.


“ellen, kamu tenang aja, si ana gak bakal ganggu hidup kamu lagi” ujar Devi sambil menepuk bahu Ellena lembut.


“hmm, kenapa Ellen gak pindah ke sekolah kita bang?” usul dafa.


Xelo menatap Ellena yang menggelengkan kepala pelan memohon agar Xelo tidak mengabulkan permintaan Ellena. “Benar juga, dengan begitu kalian bisa menjaganya bukan”.


“Emang mahal ya?” bisik Cessa pada Rafa.


Rafa terkekeh dan mengangguk pelan, tangan pria itu terangkat untuk mencubit pipi Cessa dengan gemas, istrinya itu tidak pernah memilih dalam berteman, itu memang hal bagus tapi juga hal jelek karena orang bisa memanfaatkannya, tapi selama ada rafa di sisi nya rafa tidak akan membiarkan ada orang yang memanfaatkan cessa.


“Gimana kalau kak Ellen bekerja seperti kami?” usul Rendi. “kami hidup juga dengan bekerja, kami juga sekolah dengan bantuan dari perusahaan karena perusahaan memberikan beasiswa” sambung rendi.


Semua mata kini tertuju pada Rafa yang saik memainkan rambut istrinya, pria itu tampak tidak ingin ikut campur dalam urusan apapun.


“Terserah, itu tugas bang xelo untuk mencari apa keahlian Ellen, dan perusahaan akan membiayai semuanya” jawab rafa santai.


Ellena menatap xelo dan orang-orang disekitarnya dengan heran, kenapa mereka semua menunggu ucapan rafa yang hanya anak sekolahan, seolah-olah Rafa adalah atasan mereka semua, dia kembali ingat saat xelo bersikap sopan dan hormat pada pria itu tapi juga bersikap seperti seorang abang, apa hubungan xelo dengan Rafa, dan siapa rafa sebenarnya masih menjadi tanda tanya oleh Ellena.


“nanti saat menikah akan aku ceritakan semua pertanyaan di dalam otakmu” Bisik Xelo.


“Pertandingan akan dimulai, kalian siap-siap lagi” ujar Devi tiba-tiba, semua pada melihat jam yang tertera dan berjalan memasuki ruang tunggu player.


...🌜🌥🌥🌥🌥🌛...


“Ellen kamu bisa masak?” tanya Cessa saat berada diruang tunggu, saat ini ada Devi, dan rafa juga di sana, mereka sedang menonton pertandingan prince dan yang lainnya, sedangkan Xelo di sana sebagai pemberi arahan pada player.


Ellen mengangguk pelan, bagaimana tidak bisa dia setiap hari harus membuat makanan untuk orang tua tirinya sejak berumur 10 tahun.


“nanti kita beli bahan makanan di swalayan ya sayang” panggil cessa pada rafa dan hal itu membuat Rafa menjadi kaku, ini pertama kalinya cessa memanggil dia dengan panggilan itu.


“Cess, lo udah buat si beruang kutub menjadi patung” kekeh Devi.


“Apaan sih, emang gak boleh aku panggil sayang sama Rafa, bolehkan sayang?” tanya cessa lagi.


Rafa hanya mengangguk kaku untuk menjawab ucapan cessa.


“nanti kamu masak untuk kita semua boleh gak? Di basecamp anak-anak selalu makan yang dipesan dari luar, kalau masakan mu enak, aku ingin kamu menjadi koki di basecamp untuk mereka semua, selama menunggu bang xelo merenovasi apartemennya” cessa memang sudah mendengar apa yang di minta xelo dari Rafa, pria itu menceritakan semuanya pada cessa tanpa ada satupun yang ditutup-tutupi. “ahhh bukan maksud aku menjadi pembantu di sana, gimana yang bilangnya hanya masak saja kok, tapi kalau kamu gak mau gak apa” tambah cessa dengan cepat, dia takut Ellena salah paham dengan maksud nya.


Ellena tersenyum pada Cessa, gadis didepannya ini punya hati yang cantik, pantas dia mampu meluluhkan pria setampan Rafa, “gak apa aku gak tersinggung kok, aku akan mencobanya, jika kalian suka masakan ku aku akan menjadi koki di sana” jawab Ellena.


“benaran? Gak tersinggungkan? Aku juga akan membantu kok, rafa agak sedikit pemilih sekarang, dia gak mau makan kalau bukan aku yang masak” bisik cessa pada Ellena.


“sayang aku dengar loh” sindir Rafa.


“ehh kok bisa?”


“Orang kamu bisik nya dengan suara kuat cessa” Bukan Rafa yang menjawab melainkan Devi yang tertawa keras sekarang.


...🌜⛈️⛈️⛈️⛈️🌛...


bonus pict


si dingin dan datar Rafa