Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
201. Hari H



Hari yang di tunggu tunggu Prince akhirnya tiba juga, Prince sudah lengkap memakai jas dan dia terlihat sangat gagah saat ini. Acara pernikahan akan diadakan di aula hotel milik keluarga bagaskara.


“wahh adik gue bisa juga ya terlihat tampan” suara King terdengar dari pintu depan, saat ini king sedang berdiri sambil melipat dada di tangannya.


“Jelas dong, gue harus pergi sekarang ke hotel, abang sama kakak gak papa datang telat” ujar Prince pada abang sulungnya itu. Mengingat ini masih jam 4 pagi, tapi keluarga besar bagaskara sudah bersiap-siap, bahkan Queen sampai bangun pagi untuk menyiapkan ke empat anaknya. Prince memang sengaja memesan beberapa kamar untuk mertua dan keluarganya, sebenarnya tidak perlu memesan karena hotel tempat mereka menikah adalah milik keluarga bagaskara dan disana ada 1 ruangan khusus untuk pemilik beristirahat tentu saja satu ruangan khusus itu akan dijadikan kamar sang pengantin baru, makanya prince memesan kamar tamu untuk keluarga dan mertuanya.


“Beres, sana siap-siap dulu, abang sama Rafa akan nyusul, payah kalau pergi sepagi ini kasian ibu hamil dan yang sedang menyusui itu” kekeh king.


“oke bang” jawab prince.


Prince berjalan menuruni tangga, senyumnya mengembang melihat papi dan mami sedang menunggu dia, kedua orang tuanya sudah bersiap mereka akan berangkat bersama Prince lebih dulu ketempat acara.


“Sudah siap?” tanya papi harry.


“Pastinya, tinggal make up dikit aja nanti sebelum acara mulai” ujar prince sambil menggandeng tangan kedua orang tuanya.


“udah mau nikah masih aja gantungan sama mami nya” ledek papi harry.


“boleh dong pi, ini masih anak mami loh” kekeh Prince.


...🌜🌧🌧🌧🌧🌛...


Juli sudah terlebih dulu ada diacara pesta karena dia dan keluarganya tidur di hotel itu, Juli terus meremas tangannya yang sudah memiliki corak seperti pengantin baru lainnya. “cemas banget ya neng” goda Devi yang memang sudah ada disana bersama Ellena dan Ami sahabat Ellena.


“Ya cemas lah, ini acara penting dalam hidup aku devi” gumam Juli.


Ellena tertawa kecil melihat wajah Juli yang terlihat pucat, mungkin akibat gugup.


“Jangan sampe pingsan ya kak, nanti bisa bahaya” ledek Ellena.


“apaan sih len, jangan ledekin gitu” gerutu Juli.


“habisnya muka kakak pucat banget, apa yang kakak cemaskan, acaranya gagal atau pengantin prianya lari?” kata ellena sambil menunjukkan dua jari pada Juli. “kalau acaranya gagal, aku yakin abang Prince punya berbagai macam cara untuk menjaga pesta ini tetap berlangsung, kalau pengantin pria lari gak akan mungkin karena sejak aku mengenal kalian aku tau abang prince sangat mencintai kakak, jadi kakak jangan cemas gitu nanti bisa-bisa salah melangkah dan jatuh, kan jadi malu” kekeh ellena.


“benar tu yang dibilang Ellena, tenang aja, semua persiapan sudah complete perfect, bahkan pernikahan ini masuk ke dalam majalah bisnis, karena kau akan menjadi menantu keluarga Bagaskara” tambah devi untuk membuat Juli menjadi tenang.


“Justru itu, gue takut banyak orang yang berpikir gue ngebet banget nikah sama prince karena ingin menjadi keluarga besar dari keluarga Bagaskara yang kaya 7 turunan itu” lirih Juli.


“Iya emang kenapa itu pikiran mereka, kita tidak bisa merubah pemikiran setiap orang agar seperti pemikiran kita, bagi orang lain semua yang ada pada kita pasti ada aja salahnya, liat adik iparmu, yang sedang hamil, masih banyakkan yang menuduh dia hamil di luar nikah dan menjelek-jelekkan dia, untung aja suaminya pandai dalam mengontrol setiap gosip yang ada sehingga cessa tidak mendengar itu secara langsung” Devi menjeda ucapannya sebentar lalu menepuk bahu sahabatnya itu.


“masa bodoh dengan pemikiran orang lain, cukup kita saja yang tau bagaimana diri kita, seperti angin lalu biarkan saja dia berhembus, tidak perlu sakit karena ucapan mereka, ketakutan karena pilihan kita, ini hidup kita, jangan biarkan orang lain menentukan jalan hidup kita” lanjut Devi lagi.


“benar banget itu sayang” suara lembut mami dona muncul, wanita paruh baya itu masih terlihat cantik dan terlihat muda saat ini, mami dona sudah sampai saat Juli menyampaikan keresahan hatinya, dan tidak sengaja wanita itu mendengarkan pembicaraan para gadis muda tentang pernikahan dan omongan orang lain.


“orang yang menjelekkan dan mengatai tentang pernikahan ini adalah orang yang iri, karena mereka tidak mampu masuk ke dalam keluarga bangsawan Bagaskara, siapa yang tidak tau nama papi harry di dunia bisnis, banyak orang yang menyodorkan anaknya untuk menjadi menantu dalam keluarga ini, tapi sayang anak pertama sudah sold out, tinggal anak kedua dan ketiga, tapi sayangnya lagi anak ketiga juga sudah Sold out, orang berebut untuk mengambil anak kedua, dan sekarang anak kedua juga akan Sold Out, mereka sudah kehabisan akal untuk masuk kedalam keluarga kami dan melancarkan aksi protes dan iri dengan mengejek dan mengata-ngatai pernikahan ini dan pengantinnya, jangan minder, kamu harus percaya diri bisa menjadi keluarga ini” ungkap mami dona sambil mengelus pipi menantunya itu dengan sayang.


“makasih mam, udah menerima Juli” ucap juli tulus dari hatinya.


“mami yang berterima kasih, kamu sudah mau menikah secepat ini dengan anak nakal mami itu, mungkin ke depannya akan banyak rintangan yang muncul di pernikahan kalian, nasehat mami jangan pernah mendua kan hatimu, dan harus saling percaya, jika ada masalah kecil sedikit saja, bicarakan dengan suami kamu, karena dari hal-hal kecil bisa menjadi besar dan membuat pernikahan kita goyang, jadi jangan menanggung semuanya sendiri, gunanya suami kamu ada disisimu untuk mendengarkan dan memberi arahan bagi kita sang istri, mereka mampu memberikan kita kebahagiaan dan arahan menuju surga, karena setelah menikah surgamu berada pada suamimu, ikuti apa katanya karena dialah imammu” nasehat mami dona.


“iya mi, makasih” ulang Juli lagi.


“Oh iya mami minta maaf ya, Cessa, Rafa sama King dan Queen akan telat datangnya, kamu taukan kehamilan cessa membuat dia agak sulit bergerak dan mudah kelelahan, kalau Queen dia baru saja beberapa bulan lalu melahirkan, anak-anaknya masih terlalu rewel” ujar mami dona.


Juli mengangguk, “iya mi tidak apa” balas Juli.


“kalian semua udah pada sarapankan?” tanya mami pada wanita yang ada di sana.


“Udah mi” jawab mereka semua serentak.


“ellen, suami kamu mana?” tanya mami dona, karena ellena sudah ada pagi-pagi buta di kamar rias Juli.


“Dikamar mam, masih tidur” jawab Ellena dengan pipi yang sudah bersemu merah.


“ohhh gimana enak kan jadi pengantin” goda mami dona.


“ada enak dan tidak juga mam” kekeh Ellena.


“Kalau ada masalah ceritakan sama suami kamu, jangan di pendam sendiri, itu gunanya suami” nasehat mami dona.


“Iya mam” jawab Ellena.


...🌜🌥🌥🌥🌥🌛...