
Ellena membawa tas yang lumayan besar, untung saja saat dia keluar dari rumah itu tidak ditanya-tanya kenapa membawa dua buah tas, karena keluarganya terlalu sibuk dengan urusan pribadi mereka masing-masing, hanya teman teman sekolah Ellena yang bertanya mengapa gadis itu datang kesekolah dengan membawa banyak barang.
“Lo mau kabur Len?” tanya sahabat ellena yang Bernama Ami.
Ellen tertawa sambil memperlihatkan gigi putihnya, “hehehe, tau aja neng” kekeh Ellen.
“Ngapain lo kabur sih? Emang lo punya duit? Hidup dimana nanti?” tanya ami lagi, wajah gadis itu terlihat khawatir.
“Tenang aja neng, gue gak balakan hidup dijalanan” Ellen menepuk bahu sahabatnya itu dengan pelan.
“jadi lo mau kabur kemana?” Ami tampak cemas melihat Ellen yang membawa banyak barang sambil celingak celinguk melihat kiri dan kanan.
“hmm, bentar, gue masih nungguin jemputan gue” jawab Ellen, matanya masih mencari keberadaan mobil Xelo.
Tidak lama sebuah mobil mewah berhenti tepat didepan Ellena, kedatangan mobil itu sempat menjadi perhatian para siswa dan siswi disana, pasalnya itu adalah sekolah negri yang biasa sekali tidak ada orang kaya yang bersekolah disana, dan sekarang ada mobil mewah dan luar biasa keren sedang berhenti didepan sekolah itu lebih tepatnya di depan ellena.
Ellena tersenyum senang, Xelo menepati janjinya, “gue pergi dulu ya sayangku” ujar Ellen dengan senyum Bahagia.
Baru saja Ellen hendak membuka pintu mobil itu, tangannya langsung ditahan ami, “len” panggil ami, dia mulai mendekatkan wajahnya pada telinga Ellena. “Lo gak jual diri kan?” bisik gadis itu dengan wajah khawatir.
Ellena tertawa pelan sambil geleng-geleng kepala, “nanti gue ceritakan semuanya, tapi saat ini gue harus pergi dari sini, bahaya jika keluarga gue tau” ujar Ellena
Ami menghembuskan nafas panjang, “ya udah, tapi nanti jelasin semuanya sama gue ya” pina gadis itu sekali lagi.
“iya sayangku, aku pergi dulu ya” setelah berkata begitu Ellena segera membuka pintu dan mobil itu langsung melaju pergi.
“mi, itu ellena dibawa kemana?” salah seorang murid yang penasaran akhirnya mendekati ami untuk bertanya pada gadis itu.
Ami menggeleng dan tersenyum ramah, “gak tau, hehehe” jawabnya cepat.
...🌜⛈️⛈️⛈️⛈️🌛...
“Tadi temanmu?” tanya Xelo.
“Ahh, i-iya” jawab Ellena gagu, gadis itu saat ini terpesona melihat Xelo yang menggunakan pakaian santai biasanya Xelo selalu menggunakan jas atau kemeja dan saat pria itu mengenakan kaos dan kaca mata hitam dia terlihat seperti bos muda.
“Semua barang itu aja?” Xelo sedikit melirik apa saja yang dibawa Ellena, lalu kembali fokus menatap depan.
“hmm iya ini aja, tapi__” Ellena menggantung ucapannya dan menggigit bibirnya, dia sulit sekali untuk mengatakan ********** tidak dia bawa, karena Xelo hanya menyuruh bawa baju sekolah dan buku-buku jadi Ellena kelupaan membawa dalaman.
“Tapi apa?” Xelo menoleh sebentar melihat wajah calon istrinya.
“I-itu aku tidak membawa dalaman” Ellena langsung menutup matanya, dia malu telah mengatakan tentang itu.
Sedangkan Xelo dia terlihat biasa saja, “Ohh nanti kita belanja, tapi hari ini kita ke pertandingan lagi, soalnya ini masih babak penyisihan” ujar Xelo. “kamu tidak risih pakai baju itu?” tambah Xelo.
“Ahh? Risih sih, tapi aku tidak punya baju selain baju ini” jawab Ellena lagi.
“Liat dibelakang ada paper bag, Cessa yang belikan, aku gak tau kesukaan cewek apaan, jadi aku minta tolong dia untuk membelikan, ganti saja nanti di kamar mandi” Xelo menunjuk kursi belakang yang memang ada paper bag besar terletak disana, “dan tinggalkan saja semua barangmu disini dulu, aku hari ini sangat sibuk karena mengurus anak-anak” sambung Xelo.
Ellen cepat-cepat mengambil paper bag itu dna mengucapkan terima kasih.
‘RP. 1.699.000,00’
Tidak sengaja tangan Ellen melihat harga yang tertera di dress yang ada didalam paper bag itu. Mata gadis itu langsung membulat sempurna, dia memang kaya tapi tidak pernah menikmati kekayaannya itu, dia saja disekolah kan disekolah yang sangat biasa karena dia anak tiri, padahal itu semua adalah miliknya.
Xelo mengambil tag harga yang tertera, kebetulan saat ini sedang lampu merah jadi dia bisa sedikit santai.
“gak tau juga, kayaknya memang segini harganya, kenapa?” kata xelo kebingungan.
“Ini mahal banget om, uang segini bisa buat makan 1 bulan dengan menu yang berlimpah” omel Ellena.
Sebuah senyuman muncul dari bibir Xelo, kalau dia dulu memang sangat memperhitungkan harga, karena dia berasal dari panti asuhan dan sangat miskin, tapi sekarang dia sudah tidak pernah lagi memperhitungkan uang yang dia keluarkan untuk kekasihnya.
“bukan aku yang beli, itu si cessa yang beli, nanti protes ke dia aja” kekeh Xelo.
“Dia anak orang kaya ya om?” tanya Ellena lagi.
“Iya” jawab Xelo singkat.
“pantas dia beli baju tanpa liat harga,baju seperti ini terlalu mewah buat aku, om” lirih Ellena.
Tangan Xelo terangkat dan mengelus puncak kepala Ellena, “pakai aja, itu hadiah dari cessa unuk kamu katanya salam perkenalan”.
Muka ellena semakin berubah masam, “hadiah perkenalannya aja seperti ini, apa yang akan aku kasih ke dia om” lirih ellena.
“gak ada, dan gak usah dipikirkan, cessa bukanlah anak yang melihat hadiah dari harganya tapi dari ketulusannya” kata Xelo.
...🌜🌤🌤🌤🌤...
Ana hari ini datang bersama teman-temannya untuk menonton pertandingan Prince dan kawan-kawan, gadis itu sangat mengidolakan Prince, apa lagi prince adalah teman sekelasnya, dia memiliki kesempatan yang sangat bagus dalam mendekati prince. Ana sama sekali tidak percaya dengan rumor yang mengatakan jika prince punya tunangan, karena dia yakin itu hanya akal-akalan Prince agar tidak ada cewek yang mendekat.
“Ana, coba liat, itu prince!” teriak teman ana, sambil menunjuk prince yang terlihat bersama teman-temannya.
Mata ana menyipit untuk melihat dengan jelas prince yang ada beberapa meter darinya.
“Enak banget yang jadi sahabatnya Cessa ya, bisa dekat prince kapanpun dia mau” mereka adalah salah satu mantan fans Rafa yang telah beralih pada prince. “gue iri dengan hidup cessa punya tunangan yang ganteng, punya abang yang ganteng juga”
“Tenang aja, bentar lagi kitab isa masuk ke circle mereka, karena gue akan jadi pacarnya prince” ujar ana penuh percaya diri.
“ehh an, itu siapa, ganteng juga, tapi udah punya gandingan” kata teman ana dengan lesu.
Ana melotot melihat siapa yang datang mendekati prince dan teman-temannya, itu adalah adik tirinya Ellena, dan saat ini ellena sedang di gandeng oleh pria tampan.
“Siapa pria itu?” batin Ana.
“Iya ganteng, tapi kalau udah punya gandingan gak seru, tapi kayaknya gue pernah liat mukanya” ujar sahabat ana.
‘puk’ sahabat ana itu menepuk bahu ana dengan pelan, “itu bukannya pembantu rumah lo?” serunya tidak percaya.
Ya Ellena dikenal sebagai pembantu oleh orang-orang padahal ellena adalah anak yang tinggal dirumah itu.
“Ayo” Ana mulai melangkah mendekati prince dan teman-temannya.
“mau kemana?” tanya teman-teman Ana.
“bertanya pada ****** itu kenapa dia ada disini” ujar ana dengan dingin.
... 🌜🌧🌧🌧🌧🌛...