
“Cess boleh gue duduk di sana gak?” tanya Dina pada cessa yang duduk disebelah Rafa.
“Lo siapanya Rafa? Sampai bisa duduk di sebelah rafa?” tanya cessa dengan nada lembut.
“Gue kan__”Dina tidak dapat melanjutkan ucapannya, dia memilih duduk didepan Rafa, menatap Rafa dengan senyuman hangatnya.
“Gue tiba-tiba males makan, kamu makan disini ya, ni uangnya” rafa mengeluarkan satu lembar uang seratus ribu pada cessa, pria itu tegak menatap sinis Dina, lalu menatap lembut cessa “habis makan langsung ke kelas” ujar rafa lagi, pria itu menunduk dan mencium kening Cessa, memang sengaja membuat wanita di depannya itu panas.
“woii fa, tau tempat dong mesra-mesraan disini” gerutu Dafa, malah pria itu yang panas melihat adegan mesra rafa mencium kening cessa.
Tanpa menjawab Dafa, rafa hanya berlalu pergi dengan senyuman nakalnya.
Setelah kepergian rafa, cessa mempercepat makan siangnya.
“Cess, gue boleh ngomong gak berdua aja sama lo?” tanya Dina dengan lembut dia menatap cessa yang sedang asik melahap makanannya.
“Di sini aja, gue males jalan ke belakang sekolah, atau atap, atau tempat sepi lainnya, sekedar informasi gue orangnya pengadu, kalau gak percaya tanya aja sama mereka, sudah berapa kali gue ngadu sama Rafa kalau ada yang gangguin gue, gue gak takut dikeluarkan dari sekolah atau gue gak takut ancaman bakal disakiti” jelas cessa dengan santai, gadis itu sama sekali tidak merasa takut harus berhadapan dengan orang gila seperti Dina.
Dina semakin mengepalkan tangannya dengan kuat, dia ingin berteriak bahwa Rafa dan dirinya sudah bepacaran, tapi dia tidak mau Rafa marah dan meninggalkannya, makanya dia masih merahasiakan hubungan mereka.
“Berapa lama lo kenal sama rafa?” Dina bertanya sambil memakan makanannya.
“hmm.. sekitar 2 bulan” jawab cessa asal, nada suaranya tak kalah santai dari Dina.
“dan lo, berani bersikap seperti seorang kekasih pada rafa, hanya dalam waktu 2 bulan?!” suara tinggi Dina mampu membuat suasana disana menjadi hening, beberapa orang juga penasaran hanya dalam 2 bulan cessa mampu menakhlukkan hati si beruang kutub.
“kami emang pasangan kekasih, hebat kan gue? Gak usah ucapkan selamat gitu malu gue jadinya, gue bahkan mampu membuat rafa jatuh dalam pelukan gue hanya dalam 1 hari” balas cessa lagi, dia sama sekali tidak terintimidasi dengan suara tinggi dan sikap mengintimidasi Dina padanya.
“Lo, apain si Rafa? Lo pasti ancam dia kan?” geram Dina, karena cessa sama sekali tidak takut padanya.
“Gue apain? Hmmm gue apain ya? Gak tau juga gue, tau-tau dia udah gak mau lepas dari gue, nih gara-gara abang gue yang tiap hari cerita tentang gue ke Rafa, mungkin gara-gara itu dia kesensem sama gue, apa lagi gue cantik, manis, imut, dan baik, apa gak tergila-gila cowok sama Princessa Aurelia Bagaskara” ungkap cessa.
“Terlalu percaya diri banget sih!” Revi ikut nimbrung dalam pembicaraan Cessa dan Dina.
“Memang fakta itu, makanya kalau kalian mau jadi gue, perbesar hati kalian, relakan apa yang tidak seharusnya jadi milik kalian, kasian anaknya takut liat kalian agresif seperti ini, kalau gue yang agresif si rafa bakal suka pasti” Cessa tersenyum membayangkan jika dia agresif pada rafa, itu si rafa pasti ngajak dia langsung ke hotel atau ke kamar tidur mereka.
“Dina, revi udah dong, kalian kan liat sendiri sikap rafa ke kalian itu bertolak belakang dengan sikap rafa ke cessa, ikhlas kan aja rafa memilih wanita yang dia sukai” July akhirnya ikut angkat bicara.
“Rafa itu__” lagi-lagi dina menghentikan ucapannya, “kamu tidak tau apa-apa dengan rafa, waktu dua bulan tidak cukup untuk kamu mengetahui rafa yang sebenarnya, gue lebih tau Rafa luar dan dalamnya” Ucap Dina ketus.
“Waww berarti lo tau ukuran dalaman Rafa?” ledek cessa. “gue aja belum berani liat yang lebih dalam” gumam cessa dengan pelan.
Bagi yang tidak mengetahui pernikahan cessa, mereka akan menganggap omongan cessa adalah candaan, tapi bagi yang tau tentang fakta bahwa Rafa dan cessa sudah menikah, mereka tau apa yang dikatakan cessa adalah kebenarannya, mereka yang tau hanya berusaha menyembunyikan tawa mereka. Dan beberapa hanya bisa mengulum senyum mereka.
“cessa!” pekik Dina kesal karena gadis itu sejak tadi menjawab perkataan Dina dengan candaan.
“apa sih? Liat ya gue kaduin kalian, gue orangnya emang pengadu, siap-siap aja dapat pertunjukkan yang menyayat hati” Cessa tegak dari kursinya karena makanannya telah habis, “bang bayarin ya” kekeh cessa dia berlari kekantin dan mengambil 2 buah sandwich serta sebotol jus jerus kemasan.
“kampret emang tu anak, tadi di kasih uang sama Rafa buat apa? Jadi gue yang harus bayar” gerutu Prince.
“hahahha sabar prince nanti minta ganti aja sama Rafa” ucap dafa menenangkan prince yang murka. “kalian berdua udah deh berebut rafa, anaknya gak bakal bisa menatap kalian, udah kepincut tu sama Cessa, gak bisa lepas” lanjut Dafa pada dua orang yang masih menatap kepergian cessa dengan muka masam.
...🌜☀☀☀☀🌛...
“Nih makan, nanti sakit” Cessa memberikan dua buah sandwich yang tadi dia beli pada Rafa dan sebotol jus. Sebagai istri cessa juga harus memberikan perhatian pada suaminya sendiri, ntar lari bisa berabe dunia.
“makasih ya” rafa mengelus kepala cessa sambil mengambil makanan yang di berikan cessa.
Beberapa teman sekelas cessa mulai bergosip dan menatap sinis cessa yang sedang bersandar pada bahu Rafa.
“kalian sirik aja liat orang pacaran” sindir cessa. “cari pasangan sana biar bisa mesra-mesraan kayak gue” lanjut gadis itu lagi.
Rafa hanya tersenyum melihat kemarahan cessa.
“Apa saja tadi yang wanita itu katakan?” tanya rafa sambil menggigit rot sandwich nya.
“Dina tau luar dalam kamu, emang dia pernah liat kamu tanpa baju ya? Atau dia curi dalaman kamu? Kan dia gila bisa melakukan apa aja seperti stalker” tanya cessa spontan.
“huk huk huk” Rafa sampai terbatuk karena cessa bertanya seperti itu. “gak pernah!” jawab rafa cepat.
“tu kan benar, gue aja belum liat dalamnya gimana cewek lain coba” ceplos cessa.
Rafa kembali tersenyum mendengar ucapan Cessa, “emang udah siap liat ukuran dalaman aku?” bisik Rafa.
Muka cessa saat itu juga langsung berubah merah seperti tomat. Dan itu membuat rafa semakin tertawa keras, dan mereka sempat menjadi pusat perhatian karena suara tawa Rafa, pria itu tidak pernah tertawa apa lagi tersenyum, rafa yang dibilang beruang kutub itu saat ini tertawa keras sambil mengusap kepala cessa yang sedang menunduk.
“jangan godain terus” kesal cessa dia sudah mengangkat wajahnya menatap rafa, tapi wajah gadis itu masih bersemu merah.
“iya kan, tadi siapa yang mancing?” balas rafa.
“kan pikiran cess gak sampai kesana, kamu tu otak nya mesum terus” gerutu cessa lagi.
“makanya kalau belum siap belah duren jangan mincing-mancing kalau tegang kamu yang bahaya loh” kekeh pelan Rafa.
“maksudnya tegang apaan?!” tanya spontan cessa.
“Tu mulai mancing lagi” ledek Rafa.
“Rafa duluan yang mulai!” geram cessa.
“aduh aduh, yang lagi pacaran dunia berasa milik berdua aja ya, yang lain pada ngontrak” sindir Dafa dan prince yang baru kembali ke kelas.
“hayoo ngomongin apa?” tambah devi yang ikutan meledek pasutri itu.
“Biasa tanya dalaman aku, mau belikan katanya” kekeh rafa.
“RAFA!!” pekik cessa disambut dengan tawa dari prince, dafa dan kedua teman cessa, sementara Dina dia mentap marah rafa yang tertawa dan mencubit gemas pipi cessa.
...🌜💫💫💫💫🌛...
Bonus pict