
Dua hari sudah Gavin di rawat di rumah sakit, dia masih belum sadar dari komanya.
Mengenai kedua orang tuanya, Rafa sudah mengabari papa Ali, tapi kedua orang tua itu masih belum ada disana menemani gavin, papa ali terlalu kecewa dengan Gavin yang terlalu tamak dengan harta, dia juga masih marah dengan insiden Gavin yang menjual proyeknya pada orang lain, pria itu sudah terlalu banyak kecewa ditambah butik milik istrinya diambil juga oleh Gavin, padahal butik itu istrinya bangun sebelum mereka berdua menikah.
Papa ali tidak mau memberi tau istrinya karena dia tau kelembutan istrinya, wanita itu akan meminta untuk diperbolehkan merawat Gavin yang seperti mayat hidup, dia tidak mau masa tua istrinya hanya mengurus anak yang tidak tau rasa terima kasih.
Rafa datang ke kamar rawat gavin, dia menatap datar abangnya yang terbaring di ranjang dengan berbagai alat yang menancap pada tubuhnya. Dokter mengatakan gavin akan lumpu seratus persen dan dia tidak akan bisa berjalan atau menggerakkan kakinya, tapi dalam hal berbicara serta tangannya masih bisa diselamatkan, namun itu juga bukan hal yang mudah sangat sulit dan butuh waktu bertahun-tahun bahkan sangat kecil kesempatan untuk sembuh.
Sedang asik melamun mata gavin terbuka dan langsung bertatapan dengan mata Rafa.
Rafa masih diam melihat gavin yang menatapya dengan mata memancarkan kemarahan tapi sedetik kemudian mata itu menampilkan keterkejutan.
“terkejut tidak bisa mengeluarkan suaramu?” tanya Rafa. “bukan aku yang melakukannya, sebuah kaca memutuskan pita suaramu, hanya 40 persen kesempatan pita suaramu kembali” lanjt Rafa menjelaskan.
Rafa semakin mendekati gavin. “Seluruh tubuhmu mati rasa, kau tidak akan bisa melakukan apapun saat ini dan seterusnya, sudah aku bilang karma itu berlaku, pasti kau akan mendapat balasan, apa lagi kau menyakiti perasaan seorang ibu, walau dia tidak melahirkanmu, tapi separuh hidupnya didedikasikan untuk mengurusmu, dan saat perasaan seorang ibu hancur karma akan cepat kita dapatkan, aku minta maaf karena lahir di dunia ini, tapi bukan aku yang meminta di lahirkan” ucap rafa panjang lebar.
Dapat dia lihat mata Gavin yang memancarkan kemarahan padanya.
“Aku tau kau tidak menyukaiku, ini adalah salam perpisahan dariku, aku tidak akan menemuimu lagi, papa juga tidak mau, dan mama tidak mengetahuinya, nikmatilah waktumu tanpa kami keluarga yang kau buang” setelah berkata begitu Rafa keluar dari kamar gavin.
Meninggalkan gavin yang menagis pilu dalam hatinya, dia bahkan tidak bisa menggerakkan kaki dan tangannya.
...🌜⛈️⛈️⛈️⛈️🌛...
“kemping kita kita akan diadakan di puncak, harap kalian membentuk kelompok 10 orang, diharapkan kalian membentuk kelompok jangan hanya dari fakultas kedokteran tapi masukkan juga farmasi apoteker dan ahli gizi atau perawat, juga terdiri dari 5 cewek dan 5 cowok, jika tidak cukup segera laporkan pada kakak seniornya, biar kami yang membantu mengurus kelompok kalian” ucap salah satu senior fakultas Rafa.
Rafa diam mendengarkan dia menghela nafas panjang, dan melirik ke kiri dan kanan saat ini mereka semua berbaris pada jurusan yang sama.
“fa! Mau bareng sama kami tidak?” tawar mila bersama keempat teman perempuannya. Dan semua gadis-gadis itu cantik-cantik dan menawan, rafa yakin mereka akan menjadi kelompok anak-anak gaul di kampus.
Rafa diam tidak menjawab, dia memilih memutar kepalanya, dia sangat tidak suka keramaian, jadi dia sedikit pusing jika berada di dekat orang banyak.
“hei bro, mau gabung dnegan kami?” tawar seorang pria dengan style yang bisa dikatakan pria keren.
“kalian mau gabung dengan kami gak?” tawar mila pada pria keren itu.
“Bo_” ucapan pria itu terhenti saat seorang gadis cantik melintas didepannya, melewati dirinya begitu saja dan langsung memeluk tubuh rafa didepan orang orang.
“Payah banget sih nyariin kamu yang~” gerutu wanita cantik itu.
“Hei, mau ikut kelompok kami?” tanya pria keren itu, dia tidak terlalu mendengar ucapan ‘yang’ yang keluar dari mulut wanita cantik itu. Mata pria keren itu sudah dibutakan dengan kecantikan wanita yang sedang berada dalam pelukan Rafa. “ahhh aku belum perkenalkan diri, namaku Gary jurusan kedokteran”.
“Wahh kamu dan abang kamu bisa masuk kelompok kami, aku Cuma butuh satu cowok dan cesek belum ada satupun” jawab Gary.
“hah? Abang?” cessa menatap suaminya yang sudah muncul tanduk di kepala, wanita itu tertawa keras sambil memegangi perutnya, “maaf ya gary, aku sudah menikah dan sudah punya anak, ini suami aku” jawab cessa di sela tawanya.
“A-APA?!” pekik gary tidak percaya.
Cessa mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan foto keluarga yang baru-baru ini diambil oleh mereka, disana ada rafa, cessa dan ketiga anak mereka, “nah ini foto keluarga kami” tunjuk cessa.
“Aku permisi” gary cepat-cepat pergi dan meninggalkan rafa serta cessa yang masih tertawa keras.
“senang! Di godain cowok ganteng” gerutu rafa.
Cessa menghentikan tawanya, menatap rafa lalu menatap wanita yang sejak tadi melihat kearah dia dan rafa. Dia adalah Mila CS, Cessa sedikit menjinjitkan kakinya agar mendekati pipi rafa.
‘Cup’ wanita itu mengecup pipi rafa dan mengedipkan mata kearah mila dan teman-temannya.
“kamu yang paling tampan dihati aku, jangan cemburu gitu ahh, kita harus cari anggita nih, papi kan paling hebat menjadi pemimpin dan memilih orang-orang berbakat jadi papi yang carikan orang ya, kalau masalah cewek mami udah dapat 5 orang” goda cessa.
“Awas aja sampai rumah kamu kena hukuman mami” ancam rafa sambil mencubit gemas pipi istri cantiknya.
Rafa berjalan menggandeng istrinya melewati mila CS, “bye bye bu dokter, cari orang lain aja ya, jangan jilat ludah sendiri” ledek cessa sambil berlalu melewati mila CS.
Mila meremas tangannya geram, memang benar tidak akan ada kesempatannya mendekati rafa kecuali dia mengulang waktu, rafa pasti sudah mendengar rekaman tentang dia yang menghina habis-habisan rafa, sebelum melihat rafa secara langsung.
“Mil gimana dong, kita gak mungkin mendekati Rafa, selamanya kita tidak akan dipandang oleh pria itu” tanya salah satu teman mila.
“diam!” amuk Mila.
.
“kenapa kelompok kalian ada 12 orang?” tanya senior itu pada Rafa.
“saya dan istri saya tidak bisa datang kak” jawab Rafa.
“apa maksud kamu?! Kamu taukan acara kemping ini penting?!”
“lebih penting kesehatan mental ketiga anak saya, mereka masih minum ASI, dan masih 1 tahun, jika perginya hanya sebentar tidak pakai menginap mungkin saya dan istri saya bisa, tapi ini 4 hari termasuk jalan pulang pergi nya, kami tidak bisa meninggalkan anak kami selama itu” jawab rafa tanpa rasa takut sedikitpun.
...🌜🌥🌥🌥🌥🌛...