Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
209. Memetik Buah



Saat makan malam Prince baru turun, rambut pria itu terlihat masih basah karena baru saja keramas.


“Ciee~ yang udah coblos berhasil nampaknya coblos” ledek king.


“Apaan sih bang, kayak gak pernah nikah aja” Prince menyindir king tapi masih dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


“gol berapa kali bang?” goda Rafa.


“Adik ipar, mending urusin istri kamu jangan ledekin abang” ujar prince.


“Juli mana bang? Kamu buat tepar?” papi harry ikutan bicara mengejek Prince.


“haaaahhh” Prince menghela nafas panjang, “Coblos di ledekin, tak coblos juga diledekin, emang payah terlahir di keluarga isinya orang sakit jiwa semua” keluh prince sambil memberi pijatan pada kepalanya.


“kan kami Cuma tanya bukan ngeledek ini loh” kekeh King.


“terserah apa namanya, prince mah pasrah” ujar prince lesu. “Bik, bisa tolong ambilkan makanan buat prince bawa ke kamar? Sama stroberry latte juga ya bik” pinta Prince pada ibu nita yang baru saja meletakkan stroberry latte untuk cessa.


“gak bisa jalan juli nya bang? Parah amat abang coblosnya, gara-gara ditahan terus ya bang” goda cessa kali ini.


“emang kamu bisa jalan habis coblos dek?” tanya balik Prince pada cessa.


Cessa langsung mengalihkan pandangannya dari Prince, “cessa no comment” tutup gadis itu.


Rafa tertawa melihat tingkah istrinya itu, dia mencubit gemas hidung istrinya, “kalau mau menggoda abang prince jangan soal itu sayang, jadi salting kan” goda rafa pada istrinya.


“Ihhh jangan di bahas” gerutu cessa.


“Bagus dek, kalau ucapan ibu hamil semua yang ada disini bakal diam dan tidak membahas lagi” puji Prince dengan tawa pelannya.


“Sudah sana bawa makanan buat juli biar dia tidak kelaparan” usir cessa, dia sudah malu karena salah mencari topik ledekan.


"ini lagi nunggu adikku yang cantik" ujar Prince.


Tidak lama setelah itu ibunya nita datang dengan nampan berisi makanan dan minuman penasanan prince.


"makasih bik" ucap Prince. "Bye bye gue mau menjelajah goa lagi" kekeh prince.


"Dasar gila kasian istri lo!" teriak king diikuti tawa.


...🌜🌧🌧🌧🌧🌛...


“baby, ini makanannya” panggil Prince pada Juli yang masih duduk di tempat tidur, wajah gadis itu sudah semerah tomat, akibat malu dengan keluarga barunya.


Prince meletakkan makanannya di sofa dan duduk di dekat istrinya yang ada di tempat tidur. “Kenapa? Kok diam?” tanya Prince.


“Apa kata mereka ?” cicit Juli, suaranya terdengar sangat kecil untung saja prince masih bisa mendengarnya.


Prince mengulum senyumnya, “jangan malu gitu, dan biasa aja dengan keluargaku, mereka semua tidak ada yang punya malu” kekeh Prince. Dia tau istrinya pasti malu ketahuan habis melakukan gulat di ranjang mereka. “kita makan dulu yuk, kita belum ada makan sejak tadi siang” ajak prince.


Juli mengangguk dan hendak menurunkan kakinya kebawah tapi gadis itu sedikit berteriak saat prince mengangkat dirinya dengan sangat mudahnya menuju sofa.


“emang sanggup jalan dengan kaki seperti itu?” ledek prince.


Juli hanya diam mengerucutkan bibirnya, dia memang tidak sanggup melakukan yang prince katakan.


...🌜⛈️⛈️⛈️⛈️🌛...


“yang~ sayang~” panggil cessa dengan lembut pada suami tampannya yang masih tertidur.


“sayang” pada panggilan ketiga baru Rafa membuka matanya.


“Iya lapar, tapi pengen makan buah yang baru di petik di kebun aja” rengek cessa.


Rafa segera duduk dan mengusap wajahnya agar bisa lebih sadar, “baby pengen metik sendiri atau aku yang petikkan?” tanya rafa sambil mengelus perut besar istrinya, kandungan cessa sudah hampir memasuki usia 8 bulan.


“pengen liat papi nya metik buahnya sekarang” rengek cessa.


Rafa memberikan senyuman hangatnya pada sang istri. “baiklah princess akan segera dilaksanakan” Rafa segera tegak dan berjalan mendekati lemari pakaian.


“cari apa?” tanya cessa bingung.


“mantel dan celana panjang, ini jam 4 subuh pasti dingin banget diluar” jawab rafa, tadi pria itu sempat melihat jam yang bertengger di samping nakas tempat tidur.


.


Setelah membalut istrinya dengan pakaian tebal rafa baru memapah istrinya menuju kebun yang memang berada di belakang villa. Terlihat sudah ada beberapa pekerja kebun yang sudah bersiap-siap untuk menuju ke kebun.


“pagi tuan muda, nyonya muda, kenapa pagi sekali bangunnya?” sapa ibunya Nita begitu melihat Rafa dan cessa yang datang.


“pagi tuan muda” nita terbengong melihat wajah tampan Rafa, sampai melupakan keberadaan ibu hamil yang di rangkul Rafa.


“pagi bik” jawab rafa dan cessa bersamaan.


“cessa pengen makan buah yang baru di petik bik, jadi pagi-pagi udah kesini” sambung rafa lagi, pria itu mengabaikan sapaan nita padanya. “oh iya bisa tolong ambilkan kursi ke sini, biar istri saya bisa duduk bik” pinta rafa dengan sopan.


“baik tuan muda” cepat-cepat ibunya nita berlari mengambil kursi kayu yang ada dan membawakannya pada cessa.


Pukul 4 pagi tapi sudah sedikit lebih terang dari malam, dan juga lampu di sana masih menyala terang benderang.


“Mau buah yang mana sayang” tanya rafa dengan lembut pada istrinya cessa.


Cessa menunjuk buah besar yang ada dibawah kakinya, ibu hamil itu kesulitan menunduk akibat perutnya yang sudah sangat besar. “dia juga sedang bad mood dengan kehadiran wanita yang terus menatap suaminya dengan pandangan memuja.


“Tuan muda ini sarung tangan untuk memetik” Nita tersenyum cerah sambil menyodorkan sarung tangan pada Rafa.


Rafa hanya menatap sarung tangan itu sekilas lalu mengacuhkan itu, tidak sedetikpun dia melihat wajah wanita yang tersenyum padanya.


“Bik saya bisa minta tolong lagi?” teriak Rafa pada ibunya nita yang sedang berada agak jauh dari mereka.


“iya tuan ada apa? Tanya ibu nita saat sudah berada di dekat rafa dan cessa.


Telunjuk rafa terarah pada Nita putrinya, tapi wajah rafa tidak sekalipun melihat wajah Nita. “Tolong suruh putri ibu menjauh dari saya, saya tidak mau membuat mood istri saya hancur, dan tolong sejauh mungkin” ucap Rafa dengan sopan, selama ini dia hanya diam bukan berarti pria itu mau menyuruh cessa saja yang bertindak, tapi dia sedang menahan diri untuk tidak mempermalukan anak pembantu itu.


“baik tuan muda maafkan saya dan anak saya, maaf kan saya nyonya” ibu nita segera menarik tangan putrinya yang saat ini sedang terlihat syok.


.


“kamu selalu saja mempermalukan ibu nit!” pekik ibu nita yang sudah berada jauh dari rafa dan cessa.


“nita gak melakukan apapun, nita Cuma memberikan sarung tangan pada pria tampan itu, kenapa dia menganggap nita pengganggu, istrinya terlalu berlebihan!” maki Nita merasa tidak bersalah dengan kelakuan yang dia lakukan tadi.


‘plak’ sebuah tamparan menghantap pipinya, dengan kuat dan itu berasal dari ibunya sendiri. “sudah ibu bilang jangan mempermalukan dirimu, keluarga ini bukan keluarga biasa, dan mereka tidak akan tertarik dengan anak pembantu nita!” pekik ibunya kesal.


“tapi ellena?! Dia hanya anak pembantu!” bantah Nita tidak terima.


“Bukan, sejak awal ibunya Ellena adalah juragan kaya disini, hanya saja dia salah memilih pria dan berakhir menjadi pembantu suaminya, begitu juga dengan ellena, dia menjadi pembantu di rumahnya sendiri, wajar jika penderitaan yang dialami ellena membuat dia diberikan seorang pangeran, kamu apa penderitaan yang kamu alami? Seharusnya kamu bersyukur ibu dan ayah masih ada, kamu tidak kelaparan, jangan membuat majikan kita emosi lagi” amuk ibunya dan langsung berlalu meninggalkan putrinya itu.


...🌜⛈️⛈️⛈️⛈️🌛...