
Kelas hari itu sedikit heboh bukan karena ujian yang akan dilakukan sebentar lagi, tapi karena video Queen AR yang semalam booming berkat King AR yang ikut masuk dalam videonya.
“Gila, gue gak nyangka Queen dan King Bersatu”
“Iya, gue juga gak nyangka banget, gue jadi sedih Queen udah ada yang punya padahal selama ini gue kira mereka hanya kebetulan buat nama yang sama, taunya emang saling kenal”.
“Walau sebenarnya gue gak ikhlas, tapi gue harus ikhlas apalah gue, Cuma serpihan serpihan kerikiljika dibandingkan King AR pemilik AR Corporation”.
“Itu Game yang ditawarkan Queen emang keren seru banget, gara-gara itu gue gak bisa belajar, karena penasaran dan pengen naikkan level terus”
“Iya gue juga, padahal hari ini ujian, malamnya gue malah sibuk main, emang queen ter the best kalau memilihkan game untuk di mainkan.
Begitulah gossip-gosip yang membuat heboh dikelas.
Cessa tersenyum senang karena Game Rafa menjadi booming karena dirinya, dan dia cukup senang mendapat banyak respon positif tentang ke bersamaannya dengan Rafa.
“ciiee yang di dukung sama fans nya ni” bisik July menggoda Cessa.
“Apaan sih jul, jangan disini kalau mau ngomong tentang itu” balas cessa sedikit malu-malu, tanpa cessa sadari interaksi July dan Cessa terus diperhatikan oleh Dina, gadis itu mulai penasaran tentang hal yang sedang dibicarakan dengan Juli dan cessa.
...🌜🌪🌪🌪🌪🌛...
Jam istirahat baru saja berbunyi, cessa melirik Rafa dan Prince yang sudah bersiap-siap menuju kantin.
“Jul, bilangin Rafa dan prince kalau gue ma uke kamar kecil bentar, nanti gue nyusul kok” ujar cessa cepat.
“mau gue temani?” tawar July.
Cessa menggeleng singkat, “gak perlu gue bisa sendiri” ucap cessa, dia sudah berlari keluar dari kelas.
“mau kemana cessa?” tanya Rafa pada July.
“ke kamar kecil katanya” jawab July singkat.
“kok gak nemani Jul? biasanya cewek kan kalau ke kamar kecil selalu beramai-ramai, gak tau juga gue mau ngapain ke kamar kecil perlu beramai-ramai” tanya Prince ikutan dalam pembicaraan Rafa dan July.
“gossip, perbaiki bedak dan lipstick, atau yang lainnya” bukan July yang menjawab melainkan Dafa.
“kok lo tau banget?” tanya Prince curiga.
“Gue sering tanya sama orang-orang dan jawabannya selalu itu” jawab Dafa cepat.
“ya udah cepatan yuk gue lapar banget” ajak prince cepat, perutnya sudah berbunyi nyaring sehingga pria itu sudah tidak konsen dalam berpikir.
Diam-diam Dina, Revi dan antek-antek Revi pergi dari kelas itu karena mengetahui cessa yang pergi keluar kelas sendirian.
...🌜⚡⚡⚡⚡🌛...
‘Ceklek’ pintu kamar kecil di tutup oleh Revi, dia sengaja menyuruh beberapa orang untuk berjaga-jaga di depan kamar kecil agar tidak ada yang masuk dulu.
Jantung cessa berdetak cepat tidak dipungkiri dia masih takut mengalami pembullian Kembali, tapi dia berusaha tidak menunjukkan ketakutan itu.
Gadis itu sengaja bersenandung sambil mencuci tangannya di wastafel.
“Ada apa? Kalian mencari situasi di mana aku hanya sendirian, kalian pikir aku takut untuk mengadu pada Rafa” ucap Cessa, gadis itu berusaha terlihat tidak ketakutan walau sebenarnya jantungnya sudah berdetak kencang.
“Aku mau mengajukan pertandingan pada mu” ujar Dina.
“Pertandingan? Pertandingan apa? Jelas kalau pertandingan mendapatkan Raf ague sudah menang, ngapain gue terima pertandingan itu” ucap Cessa.
“Bukan itu, gue sama Revi sudah sepakat, kami menantangmu dalam ujian kali ini, kalau kamu menang kami tidak akan pernah mengganggu hubungan kalian, tapi kalau kamu kalah kamu harus menjauhi Rafa” Jelas Dina.
“hahahha” Cessa tertawa keras dan memegang perutnya, “kalian sudah tidak tau cara apa lagi untuk membuat aku menjauh dari Rafa dan membuat cara ini?” cessa geleng geleng kepala. “Kalian pikir aku mau terima?” lanjut cessa lagi.
“Kau pasti tidak mau hubunganmu di ganggu terus kan?! Jadi kau harus menerimanya!” teriak Revi dia sudah cukup kesal dengan hanya melihat wajah Cessa yang tertawa.
“males gue terima, udah jelas gue gak akan bisa bersaing pakai otak gue yang kemampuannya kurang, terus gue gak masalah ada pengganggu seperti kalian, gue malah menikmati bagaimana cara kalian berusaha mendekati cowok gue dan selalu mendapat penolakan darinya” kekeh cessa.
“Lo kan bisa minta ajarkan dari rafa, dia cowok pintar disekolah ini, dia selalu mendapat juara pertama” bentak Revi, dia berusaha memaksa Cessa menerima tantangan darinya dan Dina.
“Ogah gue! Kalian pasti pakai cara apapun agar gue kalah, sudah pasti kalian mengajukan tantangan yang gue gak bakal bisa menang di dalamnya” ucap cessa.
‘plak’
‘bugh’
Revi dan dina sudah tidak tahan lagi dengan sikap cessa yang terkesan berani dan tidak kenal takut sedikitpun. Revi menampar Cessa dan dina mendorong tubuh cessa hingga gadis itu tersungkur ke arah dinding.
“Awww” ringis cessa, dia melihat kakinya yang salah berpijak sehingga sedikit keseleo.
Cessa masih duduk dilantai menatap orang-orang didepannya dengan sinis, dia berusaha menahan air matanya yang keluar, tiba-tiba ingatannya tentang pembulian saat dia kecil Kembali muncul. Sebenarnya tadi bisa saja cessa menahan kedua orang itu, tapi saat itu cessa sedang tidak fokus sehingga, dia lengah dan kedua orang itu dapat melakukan aksi jahatnya.
Tangan cessa sedikit gemetar, dia diam diam mengambil ponsel di dalam saku roknya dan menekan tombol daruratnya.
“Mau apa kau!” pekik Revi saat melihat cessa menekan tombol darurat nomor satu.
Cessa masih diam menatap sinis Revi dan dina. Dia tidak bisa mengucapkan sepatah katapun dia takut ketika dia mengeluarkan suara maka air mata yang dia tahan langsung terjatuh.
‘plak’ Dina dengan kejamnya menarik ponsel ditangan cessa dan melemparkannya secara sembarangan ke arah dinding hingga ponsel itu jatuh pecah berkeping-keping.
“Jauhi Rafa! Atau kami akan melakukan hal lebih kejam dari ini!” ucap Dina dengan wajah horror nya.
“Hahahha kau mulai takut sekarang kan?” ucap revi Bahagia, karena dia melihat cessa yang menggigit bibirnya menahan tangis. “Kalau kau tidak mau aku melakukan hal lebih kejam dari ini, maka jauhi Rafa!” lanjut Revi sambil menjabak rambut cessa.
‘BRAKK’ pintu kamar kecil yang tadinya tertutup tiba-tiba terbuka, dari sana masuk Rafa dengan tergesa-gesa, dia tidak peduli itu kamar mandi cewek, karena tadi dia mendapatkan panggilan dari cessa, tapi tiba-tiba panggilan itu mati dan Rafa tidak dapat menghubungi lagi, pria itu langsung sadar jika gadisnya dalam bahaya, dia langsung membawa Prince dan Dafa untuk mengikutinya menuju kamar kecil tempat Cessa berada.
...🌜🌦🌦🌦🌦🌛...