Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
136. Emosi



Cessa masih menonton dengan cemas, sementara Rafa bukannya menonton televisi Rafa lebih memilih menonton ekspresi istri cantik nya.


"Tenang lah sayang, mereka pasti menang" ujar Rafa.


"udah tapi tetap gak bisa cemas ini" kata cessa.


"ya udah gini aja, kita taruhan yuk sayang" kata Rafa, dia menatap cessa dengan senyum jahil di wajahnya.


Cessa segera menolehkan kepalanya menatap Rafa, "taruhan apa?".


" Mereka akan menang dan Juli yang akan menjadi MVP di babak pertama ini dan prince akan menjadi MVP di babak kedua, kalau tebakan aku benar kamu harus mencium ku sayang" kata Rafa, senyum jahil pria itu masih belum hilang dari wajahnya.


"Huh" Cessa mendengus kesal, "itu sih cuma mau kamu aja, kalau tebakan mu salah gimana?" tantang cessa.


Rafa mendekatkan wajahnya pada cessa dengan jarak yang hanya sejengkal, "aku akan mengabulkan apapun permintaan mu sayang" ucap Rafa seduktif.


Cessa sedikit menimbang-nimbang ucapan Rafa, senyum manis merekah dari bibir cessa, "oke deal" seru cessa.


'Cup' Rafa memberikan ciuman singkat pada istrinya itu, "oke deal" kekeh Rafa.


"itu curang! masak cium duluan!" gerutu cessa kesal.


"itu bukan cium sayang cuma stempel tanda setuju" kata Rafa sambil tertawa pelan.


"kok aku seperti sedang bertransaksi dengan iblis ya? seperti nya ada hawa-hawa gak enak ini" lirih cessa.


Rafa hanya tertawa sambil mencubit gemas cessa, "perasaan kamu aja itu sayang"


...🌜🌥🌥🌥🌥🌛...


Juli terus merapal taktik dan kelemahan lawan membuat teman-temannya yang bertanding jadi mengulum senyum.


“Baiklah kita mulai pertandingan kali ini, para peserta akan memilih karakter mereka masing-masing” ujar si pembawa acara.


Juli mulai melihat teman-temannya memilih apa, baru dia memilih karakter akhir, dalan hitungan detik pertandingan pun dimulai.


Semua pemain tampak fokus, apa lagi juli, dia sangat sigap saat menjadi penyerang utama, sudah banyak lawan yang dia kalahkan dan gadis itu tampak fokus mendengar komando yang diberikan prince, hingga tidak terasa menara tim lawan berhasil hancur hanya dalam hitungan 10 menit pertandingan itu berakhir.


“Yeaahhh!” pekik senang Rendi saat mereka meraih kemenangan pertama. Pria gembul itu melakukan tos pada juli dan dafa yang berada disisi kiri dan kanannya.


“Hebat juli, kamu jadi MVP” puji alif.


“Wahhh pertandingan ternyata berjalan sangat cepat, kita tidak menyangka jika ‘The kings’ yang sedang menjadi topik hangat benar-benar sehebat ini, kepada pemain boleh beristirahat dan mengatur taktik sebelum pertandingan dimulai kembali, mari kita berikan tepukan tangan buat para pemain” seru pembawa acara.


Juli, prince dan yang lainnya mulai berjalan menuju belakang panggung menuju tempat rafa dan cessa. Mereka akan mengatur strategi baru dalam beberapa menit lalu kembali lagi ke posisi mereka untuk kembali memulai pertandingan.


.


“baiklah sekarang pertandingan kedua, apakah tim ‘The king’ akan menyabotase semua kemenangan atau tim ‘black Diamond’ akan melawan dibabak dua ini, kita saksikan saja semuanya, silahkan para pemain memilih karakter yang akan kalian pilih” ujar pembawa acara.


Juli sudah mulai bisa tenang, karena dia berhasil membuktikan dia bisa menang.


“Ayo cepat kita selesaikan” gumam prince dengan senyuman mempesonanya.


“oke boss” jawab mereka semua serentak.


Semua pemain tegak dan saling menjabat tangan, dan pemenang semuanya menundukkan kepalanya mengucapkan terima kasih atas dukungan pada mereka.


Setelah menunggu prince dan Juli yang mendapat wawancara karena menjadi MVP, mereka semua kembali keruangan tunggu mereka.


‘ceklek’ pintu dibuka Prince tanpa mengetuk dahulu.


“Astaghfirullah !” pekik prince begitu membuka pintu yang mereka lihat adalah rafa yang sedang melahap bibir istrinya dengan rakus.


“kyyaa” pekik juli terkejut sambil menutup matanya, ini pertama kalinya dia melihat adegan ciuman seperti tadi, memang biasa rafa mencium cessa, tapi kali ini ciuman itu sangat intens dan dan sedikit lebih sensual.


Rafa menghentikan ciumannya mengelap bibir cessa yang sudah dia makan dengan menggunakan tangan, dan berbalik dengan wajah datarnya.


“selamat buat kalian” ucap rafa datar.


“lo emang adik ipar paling kampret!” gerutu Prince. “cess, sana beliin gue minum sama devi dan Juli” tambah prince dengan nada sinis.


“noh di depan lo ada minuman, jangan suruh-suruh cessa” rafa menunjuk minuman yang memang disediakan panitia untuk para pemain dan pelatih.


“gak mau gue! Lo itu adik ipar jadi diam aja, Cessa! Cepat sana pergi” ujar prince lagi, kali ini nada suaranya lebih tinggi.


Rafa hendak membantah ucapan prince, tapi dengan lembut cessa mengelus lengan suaminya itu, dia menggeleng pelan dan tersenyum manis pada Rafa, “Iya bentar, mau apa?” tanya cessa.


“Apa aja yang penting dingin” ketus prince.


Rafa sedikit mengernyitkan kening, prince tidak biasanya marah-marah dan berkata kasar, apa karena tadi melihat rafa dan cessa ciuman, dia tidak bisa mencium juli lagi, papi harri bisa marah besar kalau rafa melakukan itu.


“iya-iya, awas kalau sering marah-marah nanti cepat tua” ledek cessa, “yuk dev, juli” ajak cessa pada kedua teman wanitanya itu.


“Prince, aku tau cessa adikmu, tapi jangan berkata kasar padanya seperti itu, aku tidak suka” sindir Rafa begitu cessa sudah keluar.


"Sebelum jadi istri kamu dia adik aku, lagian kenapa mesra-mesraan di ruangan umum bikin orang kesal aja!" gerutu Prince.


"Jadi kamu kesal karena tadi, sorry Prince tadi aku pikir kalian akan lama di luar jadi aku mencium cessa" ujar Rafa.


"udahlah prince, jangan marah-marah terus, rafa kan udah minta maaf" dafa berusaha melerai pertengkaran dua sahabat itu.


"iya bang, udah jangan marah-marah lagi" rendi juga ikut menambahkan.


"kalian membela dia? Jadi kalian suka liat tontonan seperti itu?! kalian malah menyalahkan ku!" bentak prince dengan nada yang lumayan tinggi.


"iya aku tau aku salah jadi maaf, aku tadi cuma minta bayaran atas pertaruhan aku dan cessa, lain kali aku tidak akan begitu" ucap rafa lagi meminta maaf.


'Brak' prince memukul meja didekatnya, "enak ya cuma bilang maaf, dan aku sekarang yang jadi seperti penjahatnya! Jangan mentang-mentang kamu udah niah sama cessa seenaknya melakukan itu dimana saja!" bentak Prince lagi.


"udah-udah jangan bertengkar gini, nanti cewek-cewek datang mereka akan marah" lerai dafa.


"jadi kamu maunya apa? Aku minta maaf kamu marah, aku diam aja kamu juga marah, jadi maunya apa? Mau pukul aku silahkan! Kalau itu memang bisa membuat emosimu reda" Rafa mulai emosi.


"Oke!" prince menaikkan lengan bajunya bersiap-siap ingin memukul rafa.


Dan saat prince hendak melayangkan tangannya menuju wajah tampan rafa pintu ruangan itu terbuka.


...🌜🌤🌤🌤🌤🌛...