
Gavin mengepalkan tangannya geram dengan pertanyaan yang diajukan oleh cessa, jika seperti ini akan nampak jelas jika dia yang salah di sana.
"Yang cessa katakan memang benar, Gavin, kamu gak boleh meminta uang adikmu seperti itu" ucap papa ali.
Gavin menatap sinis Rafa, "Seharusnya dia mau memberikan uang itu! dia anaknya papa, sudah enak dilahirkan dari keluarga ini, minta uang sedikit saja dia tidak mau!" geram Gavin.
"Gavin! hentikan!" kali ini papa alii sedikit membentak.
"ohh, uang kompensasi buat sudah lahir di keluarga ini toh" cessa mengangguk mengerti. "ngomong-ngomong abang Gavin udah bayar berapa?" tambah cessa.
Gavin kembali mengepalkan tangannya, semua pertanyaan cessa tidak ada yang mampu dia jawab.
"Sudah kita hentikan pembicaraan ini" putus papa ali, "Gavin, adik kamu selama ini sudah mengalah untuk tidak ikut campur dengan perusahaan, kenapa kamu masih saja membenci adikmu!" bentak papa ali.
"Perusahaan itu memang punya Gavin! itu milik mama kandung gavin! jadi Rafa gak berhak atas semuanya! dia seharusnya sadar diri dan bersyukur lahir dari keluarga ini! kalau bukan dari uang perusahaan dia tidak akan bisa seperti sekarang!" maki gavin dengan mata menyalang marah.
'brak' mama reta yang sejak tadi diam akhirnya menggebrak meja karena marah dengan apa yang telah Gavin katakan.
"Hentikan Gavin, putraku juga anak dari papa mu, dia berhak atas kasih sayang papa mu, dia berhak untuk mendapatkan pendidikan dari uang papa nya, mama selama ini diam karena menghargai papa mu, tapi mama gak bisa terus seperti ini, kenapa Rafa selalu yang kamu salahkan, putraku sudah terlalu banyak mengalah padamu!" mama reta akhirnya mengeluarkan semua yang dia pendam pada Gavin.
"Raf_"
"Diam Gavin! perusahaan ini sudah lama hancur kalau tidak aku yang mengurusnya, jadi ini bukan hanya perusahaan mama mu, aku juga ikut membantu dalam membuat perusahaan ini bersama mama mu, Rafa adalah putraku, seperti kamu, dia adalah putra yang lahir dari rahim istri kedua ku, jangan menghina adikmu lagi!" bentak papa ali.
.
sarapan pagi itu harus berakhir dengan pertengkaran, dimulai dari papa ali yang meninggalkan meja makan bersama mama reta, lalu diikuti oleh Rafa dan cessa.
Gavin menatap nyalang marah pada revi istrinya.
"kenapa kau diam saja! seharusnya kau membantuku seperti cessa yang membantu suaminya!" maki Gavin pada Revi.
Revi yang di maki hanya bergidik acuh, dia sama sekali tidak berniat membantu Gavin karena dia tidak mau membuat Rafa sedih, hati revi masih terpaut pada Rafa walau tubuhnya sudah dia berikan pada Gavin itu tidak menjamin dirinya akan lari dari Gavin.
"yang salah itu kakak! yang dikatakan mereka emang benar semua, jadi aku harus bela apa?" tanya Revi santai.
"Istri gak guna!" maki Gavin, dia segera tegak dan meninggal kan Revi.
...ππ€π€π€π€π...
'tok tok tok' Juli mengetuk pinta Prince berkali kali, tidak lama dia mengetuk prince akhirnya membuka pintu dan langsung kembali ke kasurnya.
"Prince sarapan sudah datang, gak mau sarapan?" Juli ikutan masuk ke dalam kamar prince dan duduk di kasur prince.
"nanti aja masih ngantuk" jawab prince dengan memejamkan matanya.
Juli menatap Prince yang sudah kembali ke alam mimpinya, berberapa hari ini calon suaminya itu terlihat sedikit berbeda, "prince~" panggil Juli untuk memastikan apakah memang benar prince sudah kembali tidur.
"hmm~?" prince hanya berdeham untuk menjawab Juli, matanya sama sekali tidak terbuka begitu pun badannya tidak bergerak sedikitpun.
Juli ingin membuka mulutnya mengajukan pertanyaan tapi dia urungkan. "lanjut lah lagi tidur, aku akan sarapan duluan di bawah ya" ucap Juli akhirnya dia tidak jadi menanyakan pertanyaan yang mengganjal di hatinya.
Juli keluar dari kamar Prince dengan sejuta pertanyaan di dalam kepalanya.
.
"loh kok gak bawa prince?" tanya Devi di meja makan begitu melihat Juli datang sendirian.
"wajar kok, orang aku tidur jam 3 saja dia masih melek untuk main game" celetuk Dafa. "Beb tolong ambilkan cream Soup di sana" pinta Dafa pada Devi.
"Ciee yang udah beda panggilannya ni" ledek Juli.
"Apaan sih jul!" gerutu Devi gadis itu tidak ingin panggilannya berubah karena Juli meledek dafa, nanti takutnya pria itu malu lagi.
"udah berapa lama nih kalian pacaran? kan pakai batas waktu ya? jadi gimana batas waktunya?" tanya Juli beruntun.
"Gak ada lagi batas waktunya" jawab Dafa singkat. Devi langsung melihat Dafa dan berbalik menatap Juli dengan senyum yang disembunyikan.
"cieee jadi udah resmi nih?" ledek Juli lagi.
"Kita udah resmi, tapi lo sama prince gak ada masalahkan?" tanya Dafa tiba-tiba.
Juli mengernyit kan keningnya bingung, "gue sama prince gak kenapa-kenapa kok" elak Juli cepat.
"benaran? gak lagi bertengkar kan? soalnya aneh aja gitu gak liat kamu sama Prince mesra lagi, biasanya tu anak gak tau tempat suka nyosor cium-cium gitu, sekarang udah gak pernah lagi gue liat" Devi mulai mengajukan pertanyaan.
Juli terdiam, dia memang merasa aneh, Prince tidak pernah menciumnya lagi, mau dia hanya berduaan dengan prince atau dia bersama teman-temannya.
"benaran gak ada masalah kok" elak Juli sekali lagi. Sebenarnya hanya itu perbedaan yang terjadi dan tidak ada masalah lainnya, memang prince masih bersikap biasa tapi setidaknya Juli ingin diberi penjelasan kenapa pria itu mengubah kebiasaan nya.
"Bosan gak? siapa tau ada cewek baru yang jadi tempat pelampiasan prince" celetuk Dafa.
'plak' dengan cepat tangan Devi memukul kepala Dafa.
"Daf! apaan sih!" gerutu Devi dengan cepat, dia memberi kode untuk segera melihat wajah Juli yang berubah murung.
"hehehe vis!" Dafa membentuk tangannya seperti tanda huruf V, "maaf jul, gue cuma bercanda, jangan di pikirkan seperti itu" lanjut Dafa lagi.
"Bercanda apa?" suara prince membuat mereka semua terdiam dan melihat kearah datangnya prince.
"kok turun? katanya masih ngantuk" tanya Juli berusaha mengalihkan pembicaraan.
"lapar" Prince mencomot burger ditangan Juli padahal jelas-jelas itu sudah Juli gigit. "tadi bicarakan apa? lo gangguin cewek gue daf?" tanya prince setelah segigit burger masuk kedalam mulutnya.
"gue gak gangguin cewek lo, hanya aja cewek lo lagi menggalau" celetuk Dafa.
Juli langsung melotot pada Dafa karena membongkar masalahnya.
Sementara Prince menatap Juli dengan wajah sedikit dimiringkan, "galau kenapa?" tanya prince.
"Gak kenapa kenapa" elak Juli.
"lo berubah dengan dia, gak pernah mau cium dia lagi, lo udah bosan sama Juli ya?" celetuk Dafa.
Prince tertawa pelan dan mencubit gemas pipi Juli. "tunggu kita ijab qobul baru nanti aku ciumin kamu sampai puas, sekarang aku udah janji sama papi buat menghargai kamu sebagai calon istri aku, tunggu beberapa bulan lagi ya" ucapan prince langsung membuat wajah Juli berubah memerah dia tidak tau kalau prince mendapatkan teguran dari papinya.
...ππ¨π¨π¨π¨π...
Sebelumnya author minta maaf sering lama upload dan sedikit, author sibuk banget dan tidak ada waktu istirahat, jadi sakit untung pas di cek gak covid, tunggu kondisi author baik, baru author bakal bisa upload banyak, mohon maaf ya semuanya. dan Terima kasih buat yang tetap menunggu author janji kalau udah fit bakal up lebih banyak, love you allππππ