Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
150. Ternyata dia Kaya



Ellena menatap heran layar ponselnya yang menampilkan nomor asing yang belum pernah dia lihat.


“Siapa?” tanya Xelo yang sedang menyetir mobil, sejak Ellena dan Xelo berniat untuk menikah Xelo selalu menyempatkan diri untuk mengantar dan menjemput calon istrinya itu dari sekolah, Ellena telah benar-benar pindah ke sekolah yang ditempi Rafa dan cessa, karena bagi xelo lebih mudah melindungi Ellena disana walau itu juga merupakan sekolah Ana, disana Ana tidak akan mampu untuk menjatuhkan Ellena, lagi pula Ellena masuk tidak dengan jalur beasiswa jadi tidak akan ada orang-orang yang menghina Ellena, karena jika sudah bisa masuk tanpa beasiswa berarti Ellena termasuk orang yang mampu.


“gak tau, angkat atau gak ya?” tanya Ellena pada Xelo, ellena sebenarnya telah mengganti nomor ponsel karena xelo baru membelikannya ponsel baru dan ponsel lama ellena telah di buang oleh pria itu, untuk menghindari orang tua tiri ellena melacak keberadaan putrinya itu, dan menghindari telepon dari mereka.


“angkat aja siapa tau penting” kata Xelo.


Ellena mengikuti perkataan Xelo, dan mengangkat ponsel yang masih berdering itu.


📲“Assalamualaikum” sapa Ellena.


📲“Waalaikum salam, ini benar dengan Ellen kan?” suara ami terdengar dari dalam ponsel itu.


📲“Iya, ini ami? Kok telepon pakai nomor yang gak aku kenal mi?” tanya Ellena heran, sebelumnya gadis itu memberikan nomor ponsel barunya pada ami saat bercerita apa yang terjadi pada dirinya kepada ami.


📲“Ponsel aku diambil oleh saudara tiri dan kedua orang tua angkatmu! Sialan banget !” kata Ami dengan suara yang terdengar kesal.


📲“Apa?! Kok bisa?!’ pekik Ellena terkejut.


“Ada apa Dek?” Xelo yang didekat Ellena juga tampak cemas, dengan teriakan Ellena, dia meminggirkan mobil yang sedang dia kendarai.


“bentar Mas” ucap Ellena pada calon suaminya itu, dia dan Xelo memang mengganti nama panggilan mereka sejak kemarin, karena xelo tidak ingin di panggil om terus oleh calon istrinya.


📲“Kok bisa mereka merampas ponsel kamu mi? Terus kamu menelponku dengan apa?” tanya Ellena.


📲“menggunakan ponsel adikku, mereka merampas ponselku untuk menghubungimu menggunakan ponselku, tapi mereka tidak tau bahwa aku belum menyimpan nomor yang kau berikan di kertas semalam, jadi mereka hanya mengambil ponsel dan menelpon setiap orang yang ada menggunakan ponsel ku, kau tau meraka datang kesekolah sepertinya untuk memaksamu pulang untuk menikah dengan pria tua itu” ujar Ami dengan bersungut kesal.


📲“maaf ya mi, gara-gara aku” lirih Ellena.


📲“udah gak apa, sekarang aku menelpon untuk memberitaumu, jangan pergi ke sekolahmu dulu, kamu bilang kamu dan dia satu sekolah bukan? Kalau dia tau kamu bersekolah disana aku yakin dia akan membawa papi tiri mu untuk menarikmu dan memaksamu pulang, mungkin karena dia tidak datang kesekolah jadi dia tidak tau” ujar Ami.


📲“baik, dua hari lagi aku akan menikah, kamu jangan lupa datang ya, hanya kamu satu-satunya keluargaku” ujar Ellena pelan.


📲“iya, sembunyi saja selama beberapa hari ini, udah dulu ya, assalamualaikum” setelah berkata begitu ami menutup teleponnya.


📲“walaikum salam” jawab ellena lemah, kepala gadis itu menunduk dan wajahnya tampak sangat sedih.


“Ada apa?” suara Xelo membuat Ellena mengangkat kepalanya melihat wajah Xelo, pria itu ternyata menunggu Ellena mengatakan pada dirinya.


“Gak apa mas, jalan aja lagi, ami Cuma telepon untuk memperingatiku, kalau kedua orang tua dan kakak tiriku mencari, hanya itu” ujar Ellena dengan nada sedih.


Xelo masih tidak mau menjalankan mobilnya, mata pria itu masih menatap Ellena dengan lekat, “lalu kenapa kamu sedih? Katakan semuanya aku sebentar lagi akan menjadi suamimu jadi aku berhak tau masalah yang membuat dirimu menjadi seperti ini” kata xelo.


“Ami kehilangan ponselnya karena keluargaku mengambil ponsel itu untuk mencari nomorku, gara-gara aku ami harus kehilangan ponsel yang dia dapatkan dengan susah payah” lirih ellena.


“itu aja?” tanya Xelo sekali lagi.


“baiklah” Xelo mulai kembali menjalankan mobilnya, bukan menuju tempat pertama yang dia tuju, tapi menuju mall dimana ada swalayan dan toko ponsel juga.


.


“loh mas, kok kita kesini?” tanya Ellena bingung, karena mobil Xelo memasuki parkiran mall.


“beli bahan masakan bukan?” tanya Xelo balik xelo dengan santai.


“Iya, tapi swalayan utama saja mas” ujar ellena.


“Sekalian mau beli ponsel untuk sahabatmu, pilihlah aku yang akan membayarnya” kata Xelo sambil menarik tangan Ellena untuk turun dari mobil.


Ellena menatap xelo dengan mata melotot, “ Mas! Ellen gak mau hutang lebih banyak pada mas! Pekerjaan mas kan Cuma itu, masak mas menghabiskan banyak tabungan untuk ellena” geram ellena pada calon suaminya itu.


Xelo sedikit tersenyum dan tertawa kecil, “maaf ya, selama ini aku bohong, aku memang Cuma pembantu lebih tepatnya asisten tuan Aliandra rafazan Tiandra, aku adalah asisten beliau, dia adalah pemilik AR corporation dan King corporation, jadi gaji per bulanku bisa membiayai sekolah bahkan kehidupan mewahmu” ungkap Xelo.


Mata Ellena melotot dan dia juga menutup mulutnya dengan kedua tangan, “benarkah itu? Mas gak bohong?”


Xelo mengambil ponselnya dan membuka akun bank yang ada di ponsel miliknya, “nah lihat berapa tabungan yang sudah aku kumpulkan untuk memanjakan kehidupan istriku kelak” Xelo memperlihatkan nominal uang yang sudah dia kumpulkan selama ini pada Ellena.


Mata ellena dengan cepat menghitung titik yang ada disana dia tidak percaya titik yang dia hitung lebih dari 3 titik, dan memang benar yang dikatakan Xelo, dia bahkan bisa menghidupi istrinya dengan mewah selama bertahun-tahun hanya dengan uang simpanan itu.


"Sekarang sudah percaya? jadi jangan bersedih lagi, kita belikan ponsel yang serupa dengan milikmu, biar sahabat mu senang" ujar Xelo sambil merangkul Ellena untuk mulai melanjutkan langkahnya.


Elena masih berjalan dengan wajah bengongnya, antara percaya dan tidak karena selama ini Xelo selalu mengatakan dia hanya seorang pembantu dan ellena tidak berharap banyak hanya berharap kehidupan bebas dari keluarganya, memang menikah adalah pilihannya.


.


Xelo membawa Ellena ke toko ponsel yang paling besar di dalam mall itu, “pilih lah, cari yang kebar denganmu jadi bisa couple sama sahabatmu” ujar Xelo.


Ellena mendekat kearah teliga Xelo, “ini mahal mas, cari yang model lain aja ya” ellena masih tidak percaya denga napa yang dilihatkan oleh Xelo, dan memilih untuk menganggap apa yang dia lihat tadi adalah mimpi.


Gantian xelo yang mendekati telinga Ellena, “jika tidak mau beli tidak apa aku akan beli semua yang ada di dalam toko ini, apa susahnya” setelah berkata begitu Xelo mengambil kartu Gold yang selalu dia bawa kemana pun.


Ellena menggeleng dengan cepat dengan patuh dia mencari model ponsel yang sama dengan merek yang dibelikan Xelo padanya dan mencari warna yang disukai sahabatnya.


Senyum gadis itu mulai mereka begitu ponsel dengan tipe apel digigit itu ada ditangannya, dia tidak sabar memberikan itu pada sahabatnya, “makasih ma, buat ini” ujar Ellena sambil merangkulkan tangannya pada lengan Xelo.


Xelo membalas senyuman Ellena dan mengangguk, “jangan sedih lagi ya” ucap Xelo.


Ellena dengan cepat mengangguk mengiyakan ucapan Xelo.


...🌜🌤🌤🌤🌤🌛...