Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
218. Anak



Tidak terasa satu tahun berlalu, Rafa dan cessa mulai memasuki dunia perkuliahan, awalnya rafa dan cessa memang mau masuk ke dalam fakultas yang sama dengan prince dan yang lainnya, tapi keduanya berubah pikiran sejak Alquinsya lahir.


Rafa ingin menyembuhkan putrinya sendiri, tapi dia tidak akan boleh melakukan itu jika tidak mempunyai lisensi kedokteran, jadi Rafa memutuskan untuk memasuki dunia kedokteran, tujuan utamanya hanya untuk menciptakan obat yang tepat untuk putrinya setelah itu Rafa akan bekerja di perusahaan nya, tujuan dia kuliah kedokteran hanya untuk mendapatkan lisensi kedokteran.


Tidak jauh beda dengan Rafa, cessa juga masuk dalam dunia kesehatan tapi lebih pada ahli gizi, cessa ingin mengetahui lebih dalam tentang makanan yang akan di konsumsi keluarganya dia takut salah memberikan makanan buat putrinya yang harus makan, makanan sehat.


Untung saja cessa mampu masuk kedalam fakultas dan universitas yang sama dengan suaminya, walau cessa terkenal dengan otaknya yang bodoh, tapi Rafa suaminya membantu hingga dia mampu masuk ke Universitas terkenal yang sangat sulit untuk masuk, mau masuk ke sana harus mengikuti tes dulu.


"Wooahhh jadi Rafa memang benaran kuliah ke dokteran ni?" tanya papi harry, pria tua itu sedang asik menyuapi cucu pertamanya makan yaitu Amira.


"iya pi, demi si quin dalam hidup Rafa, Rafa akan membuat obat untuk putri Rafa" jawab rafa, pria itu juga tampak asik menyuapi kedua putra kembarnya Aryan dan Azmi sementara Quin disuapi oleh cessa, mereka selalu berganti menyuapi ketiga anak mereka, karena takut anak-anaknya mendapatkan perhatian yang berbeda, dan hari ini cessa mendapatkan bagian menyuapi quin.


"pi ndak au" Aryan menolak suapan sayuran yang Rafa berikan padanya, jangan tanya kenapa aryan bisa bicara otak aryan dan Azmi berasal dari otak papi nya yang luar biasa pintar, jadi dia sudah mulai bisa bicara saat umur 1 tahun.


"abang mau mami sedih? ini mami loh masak sampai tangan mami luka, abang gak kasian mami masak susah-susah tapi abang gak mau makan?" kata Rafa sambil mengulum senyumnya.


Aryan sudah merengut sambil menatap cessa, Rafa dan cessa selalu berusaha membujuk kedua anaknya tanpa membandingkan dengan anak lainnya, bisa saja Rafa bilang 'liat adek-adek masak abang kalah dengan adek adek nya' ucapan seperti itu akan membuat persaingan dalam hubungan keluarga, dan Rafa tidak mau anak-anaknya bermusuhan karena ulahnya.


"pi ndak enyak pi" keluh Aryan.


"gimana abang makan ini sekaligus habis itu minum susu yang banyak, rasanya kan bisa hilang setelah minum susu" usul Rafa.


"tangan mami sakit ya?" mami dona bertanya pada putrinya cessa.


cessa memulai actingnya, "hiks hiks sakit oma" cessa menunjukkan tangannya yang memang sedang di plester karena tadi salah memotong, jadi berakhir tangannya luka.


"Akit mi?" si bungsu nampak khawatir dengan cessa.


"hiks hiks iya" acting cessa.


Aryan yang melihat itu memejamkan matanya dan langsung memasukkan semua sayuran yang tadi dia tidak mau ke dalam mulut dan menelan sekaligus. "udah!" ucap aryan sambil menunjukkan gigi nya.


"wahhh pintarnya anak papi, ini minum susu nya" puji Rafa pada putra sulungnya itu.


"pi as uga intal" Azmi menunjukkan dirinya yang juga sedang memakan sayuran dengan lahap.


"iya abang azmi juga hebat, papi jadi bangga dengan dua kesatria papi" puji Rafa lagi.


"dedek pi?" si bungsu tidak kalah mau mendapatkan pujian pada papinya, selalu tuan putri selalu tidak mau kalah dalam mendapatkan perhatian Rafa, untung saja Rafa dan cessa pandai dalam memberikan pengarahan pada ke tiga anak-anaknya, papi harry dan mami dona juga berperan banyak dalam membantu keduanya dalam mendidik anak.


"Dedek mau makan sayur juga?"


"ia!" cengir Alquinsya.


"wahh putri papi memang hebat! para kesatria papi juga hebat" puji Rafa lagi.


"kalian gak buru-buru ke kampus?" tanya prince pada adik kembar dan adik iparnya.


"belum bang, ini masih ngurus ketiganya dulu, setelah itu baru kami pergi" jawab Rafa, dia memang membiasakan dirinya untuk mengurus ketiga anak kembarnya sebelum berangkat beraktivitas di luar.


"ini hari pertama kalian kuliah loh" tegur Juli.


"kalau gitu kami pergi duluan ya, abang darel abang Farel, pamit dulu" king memotong pembicaraan kedua adiknya.


darel dan Farel menyalami satu persatu orang tua yang ada di sana.


king memang sengaja tidak pindah ke rumah yang sudah dia beli, karena Queen masih membutuhkan kasih sayang orang tua, bukan queen yang meminta melainkan king yang melihat istrinya lebih senang tinggal di rumah kedua orang tuanya.


sementara prince dan Juli sudah pindah ke apartemen yang prince beli, tapi hari ini mereka memang menginap di rumah besar karena rindu dengan canda tawa keluarga Bagaskara.


prince dan Juli belum juga memiliki anak, entah apa yang terjadi keduanya belum memeriksa kan diri ke rumah sakit, lagipula papi harry dan mami dona tidak pernah menyindir pasangan itu tentang anak, pasangan opa dan oma itu terlalu sibuk mengurus ke tujuh cucu mereka, apa lagi 5 masih bayi.


prince juga tidak masalah karena belum di berikan momongan, dia merasa dirinya juga masih belum bisa menjadi sosok daddy, dia tidak mau kejadian koma cessa terjadi pada istrinya.


"kuliah kalian berdua gimana? lancar-lancar aja kan?" tanya mami dona.


"lancar mi, semua aman terkendali" jawab prince.


"lalu kalau aman terkendali kenapa Juli tampangnya sedih gitu?" tanya papi harry.


Mata prince segera beralih menatap istrinya yang melamun menatap Quinsya yang sedang disuapi Cessa.


Prince tau istrinya itu sedang tertekan dengan omongan orang-orang di kampus tentang masalah anak.


"Beb! baby!" panggil prince dua kali karena Juli tidak menyahut pada panggilan pertama.


"hmm?" deham Juli setelah sadar dengan panggilan Prince.


"papi dan mami gak minta cucu dari kita sayang" ujar prince.


mami dona tersenyum pada menantu keduanya itu, "jangan terlalu di pikirkan kenapa kalian belum diberikan momongan, papi dan mami tidak akan memaksa kalian untuk memberikan papi dan mami cucu, orang tua kamu juga baru diberikan momongan setelah 5 tahun menikah bukan?" ujar mami dona.


memang benar orang tua Juli baru bisa hamil setelah 5 tahun lamanya menikah.


"anak itu anugrah hadiah dari Allah, jika belum diberikan artinya kalian masih bisa bersantai berduaan saja, tanya Rafa dan cessa, waktu mereka terbagi dan jarang ada kesempatan berdua" ujar mami dona.


"iya mi" balas Juli.


Prince meraih tangan istrinya dan memberi kecupan di tangannya, "aku masih belum mau berbagi hati dengan anak-anak kita sayang" bisik prince.


...🌜🌤🌤🌤🌤🌛...


Maaf jika konfliknya kalian kurang suka ya, Terima kasih sudah mendukung novel ini dan tetap menunggu kelanjutan nya


love you all


😘😘😘


jangan lupa like, vote, hadiahnya serta bintang ⭐ 5 ya 😄😄😄 😘😘😘😘