Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
47. Sindiran



Pagi itu Rafa dan cessa kompak turun ke dapur sedikit kesiangan, semua orang di villa itu sudah turun ke dapur dan memakan sarapan mereka masing-masing.


Revi menatap sini cessa yang turun sambil bergandengan tangan dengan Rafa.


"apa lo liat-liat!" maki cessa ketika matanya bertatapan dengan Revi. "Cemburu ya, mau dapatin Rafa malah gue yang minum obatnya, kesal ya?" ledek cessa.


Revi semakin mengeram kesal, melihat tingkah cessa, dan saat ini Rafa terlihat sangat tampan, rambut pria itu sedikit berantakan dan itu membuat Rafa semakin tampan.


"Lama banget kalian turun, ngapain aja di kamar?" tanya july secara spontan.


"making love" jawab cessa asal dengan tawa kecil nya, dia sedikit mengedipkan mata pada Prince yang terus menatap nya.


"Apa? cess! lo udah_" july langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"yups berkat obat perangsang yang diberikan kepadaku, aku menjadi menggila di kamar" bohong cessa, dia memang menggila tetapi Rafa berhasil menahan hawa nafsunya untuk tidak meniduri istrinya sendiri.


"gue bisa sebarin gosip kalau lo adalah jablay disekolah" sindir Revi.


Cessa duduk di hadapannya, "silahkan Revi, gue bisa buat lo yang bakal di tuduh seperti itu, karena lo gak punya bukti, sementara gue punya bukti lo masuk ke kamar gavin" setelah cessa mengucapkan itu bunyi pesan masuk ke dalam ponsel Revi.


Dengan kesal Revi membuka pesan masuknya terlihat di sana dia dan gavin yang sedang berbicara lalu dia masuk ke dalam kamar gavin. Revi menatap cessa dengan sinis.


sementara yang ditatap malah tersenyum ceria, "mana lebih kuat, gosip dari mulut atau gosip dari sebuah video?" tantang cessa.


Revi tidak sanggup lagi untuk melanjutkan makannya dia meninggalkan ruangan makan dengan membanting sendok dan garpu nya ke arah piringnya sendiri.


ketika Revi pergi mereka semua tertawa senang, karena Revi tidak dapat berkutik dengan ucapan cessa.


"Dek kamu benaran__" ucapan prince terpotong ketika melihat cessa menggelengkan kepalanya.


"hanya memanas-manasi semuanya bohong, tapi ya ada adegan hot juga sih tadi malam" ucap cessa sengaja menggantung agar semua yang ada di sana penasaran.


"Apa saja yang kalian lakukan tadi malam? bukannya cessa minum obat perangsang ya" seru Dafa dengan suara sedikit di kecilkan.


Cessa mendekatkan wajahnya pada teman-temannya yang sangat pemasaran. "Ra-ha-si-a" eja gadis itu dengan tawa senangnya.


"udah kalau penasaran tanya aja suami cess, sekarang cessa mau masak untuk sarapan suami cess dulu" kekeh cessa dia langsung melesat ke dapur.


Semua mata kini menatap Rafa yang hanya diam memegang ponselnya.


"percuma tanya nih anak mau lebaran monyet juga gak bakal keluar suaranya kalau gak cessa yang minta" gumam Dafa.


"tuh tau" sambut cessa dari dapur.


"fa, jadi risotto atau yang lain?" tanya cessa.


Rafa langsung mengalihkan perhatiannya dari ponsel ke arah cessa, "terserah yang simple aja" jawab Rafa.


"baiklah risotto apel aja ya, kebetulan ada bahannya" ucap cessa.


"dek mau!" pekik prince.


"lo kan udah makan, kenapa masih makan lagi sih?" tanya cessa.


"kalau masakan kamu gak ada yang bisa tahan untuk tidak mau" ucap prince.


"emang cessa pintar masak?" tanya Dafa.


"sangat" jawab singkat prince dengan dua jempol yang di acungkan.


"gue juga mau ces kalau gitu" seru dafa.


Cessa hanya geleng-geleng kepala, dia kembali ke dalam dapur untuk membuatkan semua teman-temannya termasuk suaminya sarapan pagi.


...🌜🌦🌦🌦🌦🌛...


"Pagi bang" sapa Devi pada gavin yang baru saja turun dari kamarnya, ternyata pria itu juga bangun terlambat.


"Cessa lagi masak sarapan buat gue" ucap ketus Rafa.


Gavin tidak menanggapi, dia diam dan menatap bungkus roti dan selai di meja makan itu, tapi tidak bergerak sedikitpun, dia ingin menunggu sarapan pagi dari cessa, berhayal menjadi suami yang sedang dilayani oleh istri.


cessa muncul dari arah dapur, dengan dua buah piring di tangannya.


"nih" cessa meletakkan sepiring risotto di hadapan Rafa dan piring satunya dia letakkan disebelah Rafa lalu gadis itu duduk di sana.


"mana untuk kita dek?" tanya prince,


"ambil sendiri di belakang, udah dimasak kan, masih minta diambilkan, kalau suami cess wajar soalnya cessa harus melayani suami cess" balas cessa.


Prince dan yang lainnya langsung berdiri untuk mengambil piring mereka masing-masing.


"gue abang ipar lo ces, gak bisa tolong ambilkan" suara Gavin akhirnya keluar.


"Gue gak butuh restu dari lo Gavin, lagi pula gue cuma buat untuk teman-teman gue, gak tau kalau lo ada" balas cessa acuh.


Malu karena dia tidak dianggap oleh cessa, Gavin segera naik kembali ke kamarnya.


"Wuiiihhh enak!" pekik Dafa tiba-tiba membuat semuanya kaget.


"Apaan sih dafa! bikin kaget aja!" seru Devi marah.


"ini makanan buatan cessa betul-betul enak banget, iri gue sama Rafa, punya istri serba bisa, cess kalau cerai dari Rafa gue siap nampung lo" ujar Dafa dengan cengirannya.


Rafa menatap Dafa dengan pandangan menusuk, "Gue mati baru gue cerai" ucap Rafa singkat.


"hahaha, sabar bro, gue cuma bercanda tadi" kekeh Dafa, dia takut melihat Rafa yang langsung naik darah ketika ada yang mencoba melirik istrinya itu.


"wajar sih cessa di perebutkan" semua mata kini menatap july yang bergumam pelan. "iya sementara itu, dia cantik, pintar masak, penurut sama suami, terus pandai cari uang sendiri" tambah july dengan ucapannya barusan.


"benar juga lo gak salah" tambah Devi.


Rafa semakin menekuk wajahnya kesal, karena istrinya kembali di puji padahal yang memuji adalah July dan Devi.


"Ganteng, mukanya jangan di tekuk gitu dong, kita sama loh" goda cessa sambil mencolek muka Rafa pelan.


Rafa mengerutkan keningnya bingung, "sama apanya?"


"kamu juga banyak penggemar loh, tu si gila Dina dan tambahan orang gila baru si Revi, belum lagi dayang-dayang si Revi dan masih banyak lagi yang belum nongol, karena wajah tampan suamiku ini, aku sampai pusing mau sembunyikan kemana suami ganteng aku" ujar cessa berpura-pura seperti orang yang sedang sedih.


Rafa tertawa pelan, cessa selalu bisa membuatnya kembali tenang dan tersenyum jika dia sedang marah atau emosi.


Kedua orang itu saling tatap dan menyampaikan rasa sayang mereka lewat tatapan.


"untung ada makanan, jadi gue berasa sedang liat sinetron kejar tayang *pernikahan rahasia*, kalau gak bisa gue lempar kalian berdua bikin drama di depan gue" kekeh Dafa sambil terus menyuap makanannya ke dalam mulut.


Devi, july dan prince hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Dafa, mereka sendiri sudah bosan lihat drama romantis dari pasangan baru itu.


"mereka kan bulan madu, wajar kalau romantis gini, lo aja yang salah tempat" ledek prince membela adik ipar dan adiknya.


"lo gak kesal apa liat drama romantis mereka" gerutu Dafa.


"kesal sih, tapi wajar aja soalnya mereka pasutri baru" jawab prince.


"Daf, kalau mau kesal itu yang seperti ini" Rafa mencium bibir cessa didepan Dafa dan yang lainnya.


July dan Devi berteriak berdua sambil menutup mata mereka, sedangkan Dafa yang di panas-panasi langsung tegak hendak memberikan bogem mentah pada Rafa tapi tidak jadi, dia kembali lagi duduk dan membuang mukanya ke arah lain, tidak mau melihat adegan hot di depan mata lagi.


...🌜🌨🌨🌨🌨🌛...


Hayoo siapa yang kesal juga liat tingkah Rafa, atau malah senyum-senyum?