Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
219. Masker



“Sudah selesai” seru cessa dengan senyum cerahnya.


“cecai”seperti ibunya yang bertepuk tangan dan tertawa, Quin juga ikutan bertepuk tangan dan tertawa, saat cessa membersihkan wajahnya dari sisa sisa bubur yang dimakan Quin. Anak bungsu Rafa dan cessa ini memang sangat lama saat makan, tapi dia selalu habis jika diberi makanan.


“Papi sama mami pergi ya, abang sama adek main sama opa dan oma ya” Rafa menciumi satu persatu anaknya, tidak peduli wajah rafa menjadi terkena lepotan bubur mereka.


“Sus, bersihkan mereka semua ya, setelah itu biarkan mereka berjemur sebentar” ucap cessa pada 3 orang suster yang mengurus ketiga anaknya. Memang saat ada cessa dan Rafa, mereka lah yang mengurus ketiga anaknya, tapi saat cessa dan rafa sedang sibuk diluar atau membawa jalan-jalan anak-anaknya, ada tiga orang yang membantu mereka mengurus ketiga anaknya. Mami dona dan papi harry bertugas sebagai pengawas apabila ada salah satu suster yang bersikap kasar pada cucu mereka.


“dada pipi” sorak Quin dengan senyum menggemaskannya.


“dada Quin papi” Rafa berkali kali memberikan ciuman dari jauh pada putri bungsunya itu. Cessa sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya yang berbeda saat bersama orang lain.


“mami nya kapan di manjain juga?” gerutu cessa sambil mengambil helm miliknya, rafa dan cessa akan menggunakan Motor menuju kampus mereka.


Rafa meraih kedua pipi cessa dan memberikan ciuman panas hingga membuat bibir istrinya itu bengkak, “jangan cemburu, kamu juaranya di hatiku” goda rafa, pria itu mulai memakai masker baru Helm nya, berharap dengan masker yang menutupi wajahnya tidak akan ada yang sadar dengan ketampanan pria itu.


“hehehe saatnya kita kencan” seru cessa senang sambil memeluk rafa dengan Erat. Rafa sendiri tidak merasa risih sedikitpun dengan sikap manja istrinya.


...🌜🌥🌥🌥🌥🌛...


Kedatangan cessa dan rafa sedikit menarik perhatian karena pasalnya rafa mengenakan motor sport yang sangat keren. Cessa yang membuka helmnya juga mendapatkan beberapa perhatian dari para pria, karena wanita dari 3 anak kembar itu tidak mengenakan masker seperti rafa.


Dan di kampus itu tidak banyak orang yang mengenal Rafa dan cessa, kebanyakan teman sekolah mereka mengambil fakultas ekonomi, hanya ada satu atau dua orang yang memasuki fakultas kedokteran dan kesehatan, mereka yang mengenal rafa dan cessa pun bukanlah orang yang mengejar-ngejar keduanya, mereka adalah anak-anak pintar yang memilih kedokteran sebagai masa depan mereka.


“yang, pakai masker kamu” perintah rafa pada istrinya yang baru saja membuka Helm.


Dengan patuh cessa mengambil masker dan rafa membantu memasangkan masker pada cessa.


“Kak cessa!” panggil Ellena, ellena sama seperti cessa yang berhasil memasuki fakultas itu, dia dan cessa sama-sama mengambil jurusan Ahli gizi.


“Untung ada kamu Len” Cessa berseru senang bertemu dengan Ellena.


“cess, titip istri gue ya” Sapa Xelo dari dalam mobil, dia memang mengantar istrinya menuju kampus. “fa, habis dari kampus, langsung ke kantor ada masalah” ucap Xelo pada rafa.


Rafa hanya menjawab dengan anggukan, dia merangkul pinggang istrinya untuk memasuki kampus dan mereka berpisah berdasarkan Jurusan yang mereka ambil.


“jangan ngelirik Pria lain ya” bisik Rafa sambil mencium bibir cessa masih menggunakan masker.


“kamu juga” balas cessa tidak mau kalah.


.


“Perhatian semuanya, saya adalah senior yang akan meng ospek kalian selama MOS ini, nama saya Sinta” Seorang wanita cantik dengan rambut tergerai panjang memperkenalkan dirinya, setelah itu beberapa yang lain juga mulai memperkenalkan dirinya.


“kamu!” Seseorang menunjuk cessa yang mengenakan masker hingga menutupi sebagian wajahnya.


“Iya kamu, kenapa pakai masker?” tanya kakak senior itu pada cessa.


“Perintah suami kak” jawab cessa jujur. Memang tadi suaminya yang menyuruh untuk memakai masker.


“jangan ngaco kamu, emang umur kamu berapa hingga sudah menikah?” ucap senior itu lagi.


Cessa mengangkat tangannya yang bertengger sebuah cicin berlian yang sangat indah, “umur saya hampir memasuki 19 tahun, tua setahun dari pada mahasiswa dan mahasiswi di sini karena saya harus melahirkan dan mengurus anak saya” jawab cessa lagi, gadis itu tidak pernah mau menutupi tentang pernikahannya, masa bodoh orang bilang MBA orang bilang anak nakal atau perusak moral bangsa, itu adalah hidupnya, yang tau dirinya ialah dia dan orang-orang terdekatnya, tidak peduli dengan pemikiran orang lain, cukup dia dan keluarganya yang mengetahui semua rumor yang beredar itu tidak benar.


“Buka saja masker kamu, suami kamu tidak ada disini” ujar senior itu pasrah, karena ada mahasiswi yang berani menjawab setiap ucapannya.


“Dosa saya kakak mau tanggung? Saya belum izin untuk melepas masker loh” balas cessa lagi.


“Hah” senior itu mengusap wajahnya kesal, “ya sudah terserah kamu” ujarnya pasrah lagi.


...🌜🌥🌥🌥🌥🌛...


Tidak jauh beda dengan cessa, Rafa juga di tanyai oleh kakak seniornya tentang mengapa dia memakai masker.


“Saya sedang Flu dan batuk, apa boleh saya menyebarkan virus saya pada teman teman di sini?” ujar Rafa dengan dingin.


“dasar belagu banget ya gayanya” bisik salah satu mahasiswi ke mahasiswi lainnya, kali ini karena mereka tidak tau wajah Rafa, mereka tampak cuek dan tidak tergila-gila, karena wajah Rafa betul-betul bisa menggetarkan dunia, apa lagi tau dia adalah calon dokter hebat maka akan banyak wanita yang kembali membuat jajaran fans Klub nya. Hidup pria itu memang akan semakin susah jika ada mengetahui wajahnya.


“hai namaku Mila” seorang wanita berusaha berkenalan dengan Rafa karena penasaran dengan sosok Rafa yang terlihat acuh pada dia yang sangat cantik, sejak tadi gadis itu terus di goda oleh pria yang ada disana, sedangkan rafa yang berdiri disebelahnya hanya acuh tidak melirik dia sedikitpun.


“ . . .” tidak ada jawaban sedikitpun dari rafa, pria itu juga tidak menoleh mendengar sapaan padanya.


“namamu Rafa ya?” ulang Mila.


“. . .” kembali hanya keheningan yang Mila dapatkan.


“dasar sombong! Aku juga gak tertarik untuk berbicara padamu, aku tidak akan tertarik dengan pria sepertimu! Mau seganteng apapun! Mana ada wanita yang mau dengan pria sombong dan dingin sepertimu” maki Mila pada Rafa.


Rafa tidak berkutik sedikitpun, terganggu ataupun marah pun tidak, bagi rafa jika dia membalas ucapan wanita yang berusaha mendekatinya, akan memberikan kesempatan pada mereka untuk maju, dia tidak mau memberikan 1 kesempatanpun pada wanita mana saja, tujuan dia hanya lulus dan mendapatkan lisensi kedokteran.


“dasar sial!” Mila hendak menendang kaki rafa, tapi rafa reflek menghindar, rafa hanya menoleh melihat Mila yang terjatuh karena dia menghindar, tapi mulut pria itu tidak mengeluarkan kata maaf atau ucapan apapun.


Orang-orang yang ada di sana menatap sinis kearah rafa dan kasihan pada wanita cantik yang sedang terduduk di tanah, akibat perbuatannya.


“mau dia seganteng apapun dibalik masker, tidak seharusnya dia dingin seperti itu pada wanita” bisik bisik orang dibelakang rafa.


Membalas? Seharusnya rafa marah dan membalas ucapan orang-orang yang menghinanya bukan? Tapi rafa terlalu malas menjawab dan membela diri, masa bodoh orang mengatakan apa, dia juga tidak masalah hanya seorang diri di sana.


...🌜⛈️⛈️⛈️⛈️🌛...