Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
51. Pertengkaran Pertama



“Lusa pertunangan kalian akan jadi pernikahan kalian berdua” putus papi Revi.


Bagai disambar petir di siang bolong Revi mendapatkan keputusan yang sangat tidak di ingankannya, padahal dia hanya berharap Rafa yang menikah dengannya, tapi yang ada kini malah dirinya yang harus menikah dengan Gavin.


“Tapi pi, Revi gak mau, revi gak mau pi” Revi berusaha menahan tangisnya, dan terus memohon.


“Sudah di putuskan kalian berdua akan menikah, bagaimana jika hubungan kalian itu mengahasilkan anak nantinya!” tegas papi Revi.


“Gak pi, Revi gak pernah melakukan itu dengan gavin, yang revi suka itu adalah Rafa, bukan Gavin!” isak revi, gadis itu terlihat sangat menyedihkan tapi Gavin sama sekali tidak mau meluruskan kesalahpahaman itu dia hanya berdiam diri dan menunduk, berharap semua itu segera berakhir, dia tidak peduli mau dinikahkan atau tidak, jika dinikahkan maka dia akan mendapatkan perawan baru lagi, tapi jika tidak ya tidak masalah. Bagi gavin yang sangat ingin dia miliki sekarang adalah Cessa, dia akan membuat cessa jatuh cinta padanya dengan menunjukkan betapa kaya dan hebatnya dia, dengan di hapuskan nya dia dari daftar warisan maka semuanya akan berakhir makanya gavin tidak mau meluruskan apapun.


“Pa, kalau pertunangan gavin berubah jadi pesta pernikahan maka semua tamu undangan bakal tau dong, Rev ikan masih sekolah”ujar Gavin santai.


“Ijab qobul pagi, dan pesta pertunangan akan menjadi pesta pernikahan, hanya saja para tamu Taunya kalian hanya bertunangan, yang pastinya kalian berdua harus segera dinikahkan, karena telah melakukan hubungan terlarang sebelum menikah” ucap tegas papa ali.


...🌜⛈️⛈️⛈️⛈️🌛...


Semua yang terjadi di tempat revi dan gavin terdengar dan dilihat oleh cessa dan semuanya, padahal tadi mereka berniat untuk pergi, meninggalkan tontonan tidak guna itu, tapi saat papi Revi mengatakan akan menikahkan Revi, mereka semua langsung terdiam.


“kasian Revi harus dapat barang bekas” komentar Cessa dengan tampang sedih.


“barang bekas ? barang bekas apa sayang?” tanya rafa.


“gavin kan udah pernah gituan, masak dia harus dapat revi yang masih suci, kasian dia kan” ujar cessa berkomentar.


“kamu lebih suka aku yang nikah dengan revi dibanding Gavin gitu?” tanya Rafa.


Semua diam ketika Rafa mengatakan hal itu, sepertinya ini akan menjadi pertengkaran pertama cessa dan Rafa begitu pemikiran keempat orang yang sekarang diam membisu.


“Gak gitu, fa, aku kasian aja liat gavin bisa mendapatkan Revi”


Rafa memilih diam, menarik nafas panjang, dia sedikit kecewa istrinya merasa kasihan dengan Revi mendapatkan gavin, padahal semua itu dia lakukan untuk cessa, dan dia tidak ingin Gavin dan revi mempunyai kesempatan untuk mengganggu dirinya dengan Cessa.


“Yuk katanya mau pergi” ucap Rafa, dia hanya sekilas melihat cessa, lalu melihat teman-temannya.


“Fa…” panggil cessa, gadis itu memegang tangan rafa.


“Apa” jawab Rafa pelan dengan senyum dipaksa.


“kalian pergi aja duluan ya, aku ada urusan bentar sama Rafa” ucap cessa, dia langsung menarik Rafa kedalam kamar, pertengkaran suami istri tidak perlu diperlihatkan bukan?


...🌜🌪🌪🌪🌪🌛...


Rafa dan cessa masuk ke dalam kamar milik mereka, Rafa dia masih diam menahan emosinya, sedangkan cessa masih terus menarik tangan Rafa untuk duduk di sofa lalu gadis itu duduk di depan Rafa.


“Fa, marah?” tanya lembut cessa, jika orang yang sedang marah dibalas dengan kemarahan maka akan terjadi pertengkaran hebat.


Rafa menggeleng pelan lalu membuang pandangannya ke samping, tidak mau menatap mata cessa.


Cessa memegang wajah Rafa yang di palingkan kesamping, agar dapat bertatapan dengannya. “Aku kasihan bukan karena tidak suka gavin mendapatkan Revi, aku hanya kasian sebagai sesama Wanita, aku kasian revi harus mendapatkan pria seperti gavin, hanya itu” ucap cessa, gadis itu berusaha menatap mata rafa.


“Jadi kamu mau aku yang menikah dengannya? Jika rencananya berhasil, yang menikah dengan Revi adalah aku” ungkap Rafa.


Setitik air mata jatuh dari mata bening cessa, “Bukan begitu, aku tidak mau terjadi apapun, aku hanya kasian dia memang jahat, tapi bukannya rencananya gagal, hanya itu, aku tidak akan membuat rencana pernikahan itu hancur, hanya sekedar ucapan semata, tapi aku tidak berniat melakukan apapun, tapi kamu malah marah padaku” isak cessa panjang lebar.


Kali ini Rafa yang memegang kedua pipi cessa untuk menatapnya, “kok kamu yang jadi marah sekarang? Jangan nangis ya” ucap rafa lembut.


“habisnya kamu marah” isak cessa.


“Aku gak marah, hanya sedikit kesal, karena kamu malah jadi kasian, bukannya memuji usahaku” ujar Rafa, “aku melakukan ini semua untuk hubungan kita agar Revi tidak berniat menjebak ku lagi, dan Gavin tidak berniat untuk merebut mu dariku” lanjut Rafa.


“iya-iya gak marah lagi” ucap rafa.


“Bohong mukanya masih marah” isak cessa.


‘cup’ ‘cup’ ‘cup’ ‘cup’ Rafa mencium kening, kedua pipi, dan hidung cessa, “gak marah lagi hanya cemburu sedikit” akhirnya rafa mengatakan apa yang membuat dia menjadi seperti itu.


“cemburu kenapa?” tanya cessa.


“cemburu kamu tidak ingin gavin mendapatkan Revi” ucap rafa.


Cessa mengulum senyumnya, “sekarang di hati aku hanya ada kamu, gimana dong? Cowok lain udah gak muat masuk ke dalam hati aku” ucap cessa.


Rafa akhirnya tersenyum begitu mendengar ucapan cessa, “jangan membuat aku cemburu lagi ya” ucap Rafa.


Cessa mengangguk, “makasih ya my king, udah ngelindungi cessa seperti ini, dan memperhitungkan semuanya untuk cessa, jangan cemburuan, nanti diledekin Dafa bucin akut” kekeh Cessa.


Rafa tertawa pelan, “gak apa lah, emang kenyataannya bucin aku sama kamu cess, hmmm boleh?” ucap Rafa.


“Kenapa tanya lagi? Biasanya gak tanya lagi, langsung aja” balas Cessa.


Rafa tersenyum sambil mendekatkan wajahnya ke arah cessa, sepasang suami istri itu lalu berciuman mesra, bukan hanya berciuman, Rafa juga ******* bibir cessa seperti saat cessa sedang dalam pengaruh obat tapi kini, cessa sadar, 100 persen sadar.


Cukup lama keduanya berciuman hingga rafa yang menghentikan ciuman itu, dia tidak ingin melakukan lebih takutnya dia tidak bisa menahan diri. “makasih ya sayang” ucap Rafa. Cessa tidak menjawab, gadis itu hanya menunduk malu dengan apa yang baru saja terjadi, dia ingat ciuman yang dia lakukan dengan rafa saat dalam pengaruh obat, tapi rasa ciuman itu berbeda dengan dia yang 100 persen sadar.


...🌜🌥🌥🌥🌥🌛...


Diluar pintu kamar prince, July, dafa dan devi sibuk saling dorong untuk menggedor pintu kamar rafa dan cessa.


“Lo aja yang ketuk” ucap devi pada dafa.


“gak mau lo aja sana” ucap Dafa pada devi. “gak lo aja itukan adik lo prince” Dafa menatap prince yang masih diam.


“Benar juga” Prince maju satu Langkah menghirup nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan.


Baru saja tangan Prince hendak terangkat ke arah pintu kamar itu sudah terbuka.


‘Ceklek’ dari pintu keluar cessa dan rafa yang saling merangkul dan tersenyum manis.


“Ngapain kalian disini?” tanya cessa heran.


“Apa gue bilang! Mereka gak bertengkar! Liat tu makin lengket aja kayak perangko” geram dafa.


“Lo gak apa kan dek?” tanya prince yang khawatir dengan cessa, dia takut Rafa akan melakukan kekerasan dalam rumah tangganya, dia tau dia tidak berhak mengganggu hubungan rumah tangga orang, tapi ini adik kembarnya sendiri jadi dia khawatir.


“Gue?” cessa menunjuk dirinya sendiri. “emang gue kenapa?” tanya balik cessa.


“Kalian kan bertengkar, jadi kami khawatir kamu kenapa-napa cess” July membantu prince dalam penyampaian kata-kata.


Cessa tertawa kecil, “soo sweet banget abang kembar gue, gak apa bang, Cuma cemburu sedikit” sindir cessa. Rafa sendiri hanya diam tidak membantah sedikitpun.


“Udah kita pergi lagi, males gue lama-lama disini, tujuan kita kan bersenang-senang, jadi sekarang kita have fun lagi” ajak daffa.


“Setuju ayo!” sambut Devi.


...🌜🌤🌤🌤🌤🌛...