
"Fa lu kejam banget sama cewek" tegur salah satu teman cowok Rafa.
Rafa menoleh menatap pria itu, "kalau gue gak kejam, dia bakal terus berharap sama gue" balas Rafa ketus, pria itu kembali ke kursinya seolah-olah tidak terjadi apapun.
Revi yang merasa terhina dan sedih segera berlari meninggalkan ruang laboratorium itu.
Semua teman sekelas Rafa hanya diam tidak berani lagi menjawab ucapan Rafa atau mengkomentari apa yang baru saja terjadi.
.
"Cess, Rafa kalau marah mengerikan ya" bisik Devi pada Cessa.
"Hmm" Cessa hanya berdeham menjawab ucapan Devi gadis itu masih fokus menatap Rafa yang kembali dengan bahan praktek nya, ingin rasanya cessa menghampiri Rafa dan menenangkan suaminya itu, tapi cessa malas mendapat pandangan sinis dari teman sekelasnya.
yang membuat Revi menjadi lebih agresif kemungkinan besar adalah dirinya sendiri, Revi pasti juga ingin lebih dekat dengan Rafa seperti dirinya, gadis itu pasti berpikir Rafa ditaklukkan dengan menggunakan tubuh cessa.
.
"Jahat banget sih Rafa" gumam ana pelan.
"Dia lebih jahat jika membiarkan saja apa yang terjadi, mending gini di tolak dan jika Revi masih menerima, maka dia yang bodoh" ucap Prince, dia tidak terima adik iparnya telah di jelekkan.
"Tapi kan bisa tolak secara halus" ujar Ana.
"lo tidak liat Rafa beberapa kali menolak gadis itu secara halus, tapi dia tetap menyodorkan dadanya pada Rafa, dengan begini dia malu sendiri kan" bantah Prince lagi. "Emang dia pikir semua cowok suka apa di tempelkan dada mereka" lanjut prince lagi.
"Emang kamu juga gak suka ya?" tanya Ana penasaran.
"gue? hahaha gue suka, soalnya gue belum terikat hahahha" kekeh Prince.
"Emang Rafa terikat?" tanya Ana lagi.
"Terikat pernikahan dengan adik gue" tapi itu hanya mampu di ucapkan dalam hati prince.
"Dia kan udah punya pacar, tentu dia terikat" ucap prince berpura-pura acuh.
...🌜🌧🌧🌧🌧🌛...
Pelajaran Kimia telah selesai, semua murid kembali ke kelas mereka masing-masing, Revi sudah terlihat duduk di meja nya dengan menundukkan kepalanya di meja, sepertinya gadis itu masih menangis.
Para antek-antek Revi langsung mengerumuni nya berusaha menghibur Revi.
'prak prak prak' ketua kelas sedang mencari perhatian teman kelasnya dengan bertepuk tangan.
"Perhatian semuanya, guru matematika sedang sakit, jadi kita cuma di suruh mengerjakan soal dari halaman 102 sampai 103, dikumpulkan besok" Semuanya langsung bersorak riang saat mendengar ucapan itu. sudah lama mereka tidak ada jam kosong.
"Prince pindah lo ke kursi Ara" perintah Rafa dia berbicara sambil memegangi kepalanya.
"Daf, dempet kan kursi lo kesini" perintah Rafa lagi, tanpa bertanya apapun dafa segera melakukan perintah Rafa.
.
'plak' Prince menepuk bahu Cessa yang sedang membelakangi dia.
"aihh kenapa sih prince" gerutu cessa.
"Noh, Rafa manggil" tunjuk prince pada Rafa yang mengisyaratkan tangannya pada Cesaa untuk mendekat, sebelah tangannya lagi dia gunakan untuk memijak kepalanya sendiri.
Tanpa menunggu ucapan prince lagi, cessa langsung mendekati Rafa, "Kenapa sakit?" tanya cessa. tangannya sudah memegang kening Rafa yang sedikit terasa hangat.
"Duduk disana" perintah Rafa pada kursi paling pinggir dimana Dafa baru saja letakkan.
Cessa segera mengikuti perintah Rafa, untuk duduk di tempat yang Rafa mau.
Saat cessa sudah duduk, Rafa langsung membaringkan kepalanya pada paha cessa, pria itu langsung memejamkan matanya begitu sudah mendapatkan posisi yang enak.
"Gimana gue duduk sekarang, si Rafa tidur" oceh Dafa yang kursinya dipakai Rafa pada prince yang sedang asik berbicara dengan Devi dan July.
"Duduk aja di meja, ka guru gak ada" jawab Prince dengan santainya.
"Kalau gak mau duduk sebangku berdua dengan Devi hehehe" kekeh july.
Devi yang di ikut sertakan langsung marah-marah tidak terima, "enak aja, tu duduk sama prince sebangku berdua" tolak Devi.
"Kalian bisa diam tidak!" gerutu Rafa masih dengan mata terpejam nya
"Sakit sayan__" mulut Rafa langsung dibekap cessa, Rafa memang sengaja mau memanggil cessa dengan sebutan sayang, tapi sepertinya gadis itu masih belum siap.
"Aku urutkan kepalanya, udah tidur aja" potong cessa cepat, tangannya segera beralih memijat kepala suaminya sendiri.
"Wahh si Rafa asik banget serasa dunia milik berdua yang lain ngontrak" ledek Dafa.
"hahaha biar kan saja kasian dia, dari tadi banyak lalat yang mendekat" balas prince.
Revi menatap nanar Cessa yang duduk didekat Rafa dan Rafa yang berbaring di paha cessa. Gadis itu semakin geram dengan cessa. dia ingin segera menghabisi Cessa, hingga cessa tidak ada di dunia ini lagi.
Bagi revi selama ini dia dan Rafa bersikap biasa saja, Rafa tidak pernah mempermalukan dirinya di depan teman-teman, tapi sejak ada cessa Rafa mulai berubah.
...🌜🌤🌤🌤🌤🌛...
"Fa" panggil revi saat jam pulang sekolah sudah berbunyi.
Rafa menghela nafas panjang, menatap malas pada Revi, sebelah tangannya langsung menarik cessa untuk masuk kedalam dekapannya "Apa lagi?" balas ketus Rafa.
"Gue minta maaf, udah membuat lo marah, gue cuma gak terima aja, lo udah kenal gue dengan sangat lama, tapi lo lebih memilih orang baru itu sebagai kekasih lo, jadi maaf gue tadi bersikap egois" ucap Revi.
"Jangan pernah mencari pembenaran untuk kesalahan yang lo lakuin, jika lo minta maaf ya minta maaf aja, jangan mencari-cari alasan karena apa, jika lo cari-cari alasan itu tandanya lo gak ikhlas meminta maaf" ketus Rafa, pria itu langsung berlalu sambil merangkul istrinya.
"Apa yang Dia punya hingga membuat lo jadi berubah?" Revi sudah menghilangkan segala jenis malu nya, dia ingin bertanya hal apa yang membuat Rafa begitu menyukai Cessa.
"Dia tidak perlu berusaha menunjukkan dirinya berarti di depan gue, karena tanpa sadar gue merasa membutuhkannya tanpa alasan apapun" jawab Rafa dengan lantang.
"Sabar ya Rev, cowok masih banyak di dunia ini jangan hanya mengejar Rafa" kata prince berusaha menghibur Revi.
"Ini gara-gara lo, adik lo gue benci dengan kalian berdua!" maki Revi.
"Waahh jangan salahkan gue dong, hati siapa yang bisa menentukan, gue cuma menjodohkan Rafa sendiri yang memilih hatinya untuk memilih adik gue, jangan salahkan gue dong" gerutu Prince dia segera mengejar Prince.
"Daf, Dev, jul kalian mau ikut gak?" tanya prince sebelum keluar dari kelas.
"Kemana?" tanya ketiga orang itu serempak.
"Belah duren" Prince tertawa lebar saat mengatakan nama buah berduri itu.
"Haaa?" bengong ke tiga orang yang ada sementara itu Rafa hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan abang iparnya itu.
🎼 Ponsel Rafa tiba-tiba berbunyi, pria itu segera mengangkat nya karena melihat nama papanya di layar ponsel.
📲 "ada apa pa?"
📲 "Fa, bisa ke kantor papa sebentar?" tanya papa nya.
📲 "Pa, kalau masalah kemarin Raf_"
Rafa tidak jadi melanjutkan ucapannya karena istrinya menempelkan telunjuknya di bibir Rafa.
"Pergi aja, gue temani, kalau di undur terus, masalah tidak akan selesai fa" bisik Cessa.
Raga akhirnya mengangguk, pria itu mengambil sebelah tangan Cessa dan mencium tangan gadis itu secara spontan.
'Deg deg' lagi-lagi hal spontan yang dilakukan Rafa berefek negatif pada jantung cessa gadis itu sudah spot jantung, bukan hanya karena perilaku Rafa, tapi juga dia di tonton oleh teman sekolah yang melewati mereka, pasalnya saat ini mereka sedang berdiri didepak kelas banyak siswa siswi yang berlaku lalang hendak pergi pulang.
📲 "Baiklah Rafa akan ke kantor papa, tak apakan Rafa bawa Cessa?"
📲 "Tak apa bawa saja menantu papa itu".
📲 " baiklah pa, Rafa tutup ya, assalamu'alaikum "
📲 "Waalaikumsalam".
" Sorry kalian duluan aja ke markas pesan aja duluan apa aja yang kalian mau, gue yang bayar, kami berdua bakal menyusul nanti" jelas Rafa pada teman-teman nya yang menunggu Rafa selesai menelpon.
"Baiklah, tapi gak masalah ni mereka tau markas kita? " tunjuk prince pada Devi dan july.
"Tak apa ada hal yang mau gue minta juga pada kalian, jadi jangan pulang dulu" ujar Rafa, dia segera pergi dengan menggenggam tangan istrinya.
...💫🌝🌝🌝🌝💫...