
Pagi itu merupakan hari yang sangat indah bagi tiga pasangan yang ada di vila itu, devi sejak pagi terus tersenyum membayangkan wajah dafa yang sudah menjadi kekasihnya, walau terkadang mereka berdua masih suka bertengkar, tapi pertengkaran itu tidak seperti pertengkaran yang biasanya yang berakhir dengan dongkolan, kini pertengkaran itu diakhiri dengan senyuman dan tawa.
Devi cepat-cepat menuju dapur, dia berharap dia bisa membantu cessa yang akan memasak sarapan pagi, karena itu adalah hari terakhir mereka berada di bali, besok pagi mereka semua akan pulang dan menjalankan aktivitas seperti biasa, Dafa, prince dan juli juga kemungkinan sulit di temui karena ketiga orang itu akan fokus dalam pelatihan pertandingan mereka. Menyesal sudah devi menolak tawaran Rafa yang mengajaknya ikut bertanding, tidak mungkinkan dia meminta kembali tawaran itu pada rafa, dia sudah dengar rafa sudah mendapatkan pengganti dirinya.
.
“Pagi cessa, pagi juli” sapa devi begitu kakinya memasuki dapur.
“pagi juga Dev” sapa balik juli dan Cessa serentak.
“tumben nih, jam segini udah turun, mau bantuin buat sarapan untuk dafa ya” ledek Cessa.
Devi langsung berlari kearah wastafel untuk mencuci tangannya, dia tidak mau menjawab ledekan cessa, karena memang itu tujuan dia untuk turun ke dapur.
“nih bantuin potongin sayur” juli menyodorkan beberapa sayur untuk dipotong oleh devi.
“di potong gimana? Panjang atau kotak?” tanya devi, kalau sekedar potong memotong dia bisa.
“kotak kecil aja, ini buat cream sup aja kok” sahut cessa, gadis itu sibuk memblender daging ayam sisa belanjaannya kemarin, dia ingin buat cream sup ayam untuk semua teman-temannya.
.
Cessa tampak bersenandung senang sambil memasukkan beberapa bumbu pada cream sup nya, dia juga memanggang roti sisa makanan mereka agar tidak ada makanan yang mubazir ketika mereka pulang.
“kyaaa” teriak cessa kencang ketika ada tangan yang melingkar di perutnya. Cessa langsung mengelus dadanya begitu tau siapa pemilik tangan itu.
“Pagi sayang” sapa Rafa sambil memberikan kecupan pada pipi cessa.
“pagi juga” ucap cessa. Sambil mengelus lengan rafa yang memeluknya dari belakang.
“ehem, pagi rafa, kami bukan nyamuk atau lalat loh di sini” tegur Devi, emang klop banget gak yang cowok gak yang cewek, selalu saja suka mengejek rafa dan cessa.
“Pagi devi, pagi juli” sapa Rafa tapi tanpa menatap orang yang dia sapa, pria itu masih setia menghirup aroma tubuh istrinya.
“pagi raf” jawab juli sambil menggelengkan kepala dan terkekeh.
“pagi, tau tempat kalau mau bermesraan Raf” tegur devi sekali lagi.
“Jangan tiru pacar kamu, urus aja sayuran itu, besok gue udah gak bisa seperti ini di depan mertua gue” jawab rafa, masih tetap menempel pada ceruk leher istrinya.
Memang benar yang di katakan rafa, pria itu tidak mungkin bermesraan di depan orang tua cessa, memang sudah sah, tapi pasti sangat tidak sopan bersikap seperti itu di depan orang tua cessa.
Devi hanya menghela nafas panjang membiarkan saudara sepupunya itu bersikap manja pada istrinya, ini pertama kalinya juga dia bersikap seperti anak kecil, biasanya devi melihat pria itu hanya berwajah datar dan termenung sendiri menatap sarapannya, tanpa bicara dan bertingkah seperti robot yang tidak punya ekspresi, sejak kecil rafa sering dititipkan ke rumah devi karena orang tuanya sibuk mengurus gavin.
Sebenarnya kelahiran rafa tidak diperkirakan oleh kedua orang tuanya, karena sebenarnya kedua orang itu ingin fokus mengurus gavin yang masih kecil dan terlihat menyedihkan.
“mesra-mesraan terus, masih pagi fa! Bikin sakit mata” ledek dafa didepan pintu dapur, tadi pria itu ingin mengambil minum di kulkas, tapi begitu melihat Rafa yang sedang memeluk istrinya, dafa jadi kesal dan langsung menyindir pria itu.
“gak yang cowok gak yang cewek sama aja, pantas jodoh” balas rafa masih dengan posisi terenak nya memeluk cessa.
“Fa, ingat kita_” ucapan dafa terhenti ketika melihat kode dari Devi untuk diam, pria itu akhirnya mengalah untuk meninggalkan rafa yang masih memeluk cessa.
Bunyi ponsel rafa kini yang mengganggu posisi enak pria itu, dengan kesal dia melepas pelukannya, sebelum itu pria itu menyempatkan mengecup bibir manis istrinya sebelum meninggalkan dapur.
📲“assalamualaikum pa” sapa Rafa, ternyata yang menelpon pria itu adalah papanya, dalam seketika ekspresi wajah raga kembali datar dan dingin.
📲“papa dan para orang tua lain akan pulang pagi ini, kalian mau papa pesankan tiket atau beli sendiri? Nanti biar papa yang bayar tiketnya” ucap papa Rafa dari telepon.
📲“nanti biar rafa aja yang beli” balas rafa.
📲“ya udah nanti papa kirim uang untuk beli tiketnya” ujar papa rafa.
📲“gak udah pa, rafa masih ada uang untuk membayarnya” tolak rafa dengan sopan.
📲“tapi_”
📲“beneran rafa ada pa, papa tenang aja, rafa gak mau gavin menyindir rafa memakai uang miliknya, papa tenang aja rafa gak nyuri ataupun pinjam uang, itu uang hasil kerja keras rafa, cukup kok untuk beli tiket pulang” potong rafa, begitu papa nya ingin membantah ucapannya.
Uang rafa memang sangat banyak, beberapa tahun dia membangun perusahaannya tapi perusahaan itu berkembang dengan sangat pesat berkat kepintarannya, dia menjual game, alat kesehatan yang dicampur dengan barang elektronik, penelitian kesehatan dalam membuat pengobatan yang disertai robot elektronik, dan masih banyak hal lain yang rafa ciptakan dari otaknya yang cerdas, berkat itu dia mampu mencapai keluar negeri hanya dengan perusahaan A.R corporation.
Hanya beberapa orang yang tau tentang pemilik asli perusahaan itu, karena rafa tidak mau berurusan dengan orang-orang licik, yang ingin memanfaatkan kepintarannya, Xelo lah yang menjadi pemimpin bayangan, yang selalu menggantikannya.
Nama mereka juga mirip Arxelo Faris dan Aliandra Rafazan Tiandra, sama sama memiliki A & R membuat Xelo sering di sangka sebagai pemilik A.R Corporation, A. R corporation adalah nama utamanya, didalamnya ada perusahaan game yang di atas namakan KING corporation, Prince hanya mengatakan nama king corporation kepada orang tuanya, karena takut Rafa marah padanya soalnya perusahaan asli Rafa lebih besar dari king corporation.
📲“ya udah, kalau ada apa-apa telepon papa ya, dan rafa sesekali tidur lah di rumah, mama kamu merindukan kamu” ujar papa rafa terdengar sedih.
📲“iya pa, akan rafa usahakan” jawab rafa, setelah itu ponsel mati. Bukannya kembali ketempat cessa rafa duduk di meja makan bersama kedua teman prianya yang menunggu sarapan siap.
📲“Assalamualaikum bang” ucap Rafa begitu panggilan ponselnya dijawab oleh Xelo.
📲“waalaikum salam fa, kenapa telepon pagi-pagi?” tanya xelo, untung saja pria itu sudah bangun.
📲“maaf ganggu bang, aku mau minta tolong, bisa tolong selidiki perusahaan papa, sepertinya ada masalah dengan perusahaannya, bisa abang selidiki sebentar?” pnta rafa dengan sopan.
📲“baiklah” jawab xelo, lalu telepon pun mati.
“ada apa fa?” tanya prince yang penasaran dengan kesibukan rafa sejak tadi. “ada masalah apa?” tambah pria itu lagi.
“sepertinya gavin buat masalah lagi hingga buat perusahaan papa sedikit goyang, itu firasatku” ujar rafa dengan sikap tenang.
“kalau memang benar gavin buat masalah, lo bakal bantuin lagi?” tanya Prince sedikit geram dengan sikap Rafa yang selalu membantu papa nya dan gavin.
Rafa termenung sebentar, dia tau dia salah, karena selalu membantu papanya tapi bukankan itu adalah orang tuanya, tanpa mereka rafa tidak akan hadir di dunia itu.
“jangan fa” suara cessa membuyarkan lamunan rafa. “aku tau kamu khawatir dengan papa mu yang akan sakit atau sedih karena perusahaannya mungkin colaps, kalau memang seperti itu, biarkan gavin berusaha sendiri dalam mempertahankan perusahaan papa, jika sampai dijual kamu saja yang beli lalu kembalikan pada papa, jangan biarkan gavin memegangnya lagi, karena dia sudah tidak punya hak dalam mempertahankan perusahaan itu, di tangannya perusahaan papa hancur” tambah cessa, tidak sengaja tadi gadis itu mendengar semua ucapan rafa dengan papa xelo dan abang kembarnya.
“aku setuju dengan cessa, kita lihat bagaimana usaha pria itu dalam mempertahankan warisan yang diberikan padanya, apakah dia mampu mempertahankannya atau dia akan menghancurkan perusahaan papamu” Sambung Prince, dia setuju dengan ucapan adiknya sendiri.
...🌜🌨🌨🌨🌨🌛...